Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Bertemu Calon mertua


__ADS_3

Lara kembali menghela nafasnya, berusaha kembali melupakan Dion. Ini adalah hari istimewanya, ketika Ia akan bertemu Ibunya dalam keada'an ramah dan penuh senyum padanya. Setidaknya, itulah yang dikatakan Adam padanya.


Lara membalas genggaman tangan Adam, dan membuat senyum Pria itu semakin merekah penuh rasa cinta. Tatapan mereka saling beradu, hingga membuat Adam gugup sendiri.


"Aaahhh, kenapa Mas masih gugup ketika disampingmu, Ra?" tanya Adam.


"Mana Lara tahu, Mas. Tapi Lara biasa aja deg-deg'an, tapi ngga nyampe gugup." jawab Lara.


"Apa pengaruh jantung, ya? Lara ngga papa kan, karena Mas ada sakit jantung?"


"Mas, Lara terima Mas apa adanya. Semoga ketika udah menikah nanti, Mas akan semakin baik kondisinya, Kan Mas bahagia sama Lara. Iya 'kan?"


"Iya, semoga ya, Ra." ucap Adam, dengan penuh harap.


Mereka telah tiba, disebuah rumah megah bernuansa serba putih, dengan banyak bunga diterasnya. Terlihat mobil berjejeran digarasi besara, beserta motor sport kesayangan Dion, yang membuat Lara semakin merindukanya.


"Mas... Rumahnya gede banget." kagum Lara.


"Iya, nanti kalau kita udah nikah, kita tinggal disini, ya? Atau mau rumah sendiri?" tanya Adam, dengan menggandeng Lara masuk.

__ADS_1


"Terserah Mas aja, gimana baiknya." jawab Lara, meski hatinya ingin disini, bersama Ibunya.


"Hey sayang... Welcome to kediaman keluarga Buana...." sambut Nyonya Ana pada Lara, dengan senyuman manis, dan sebuah pelukan hangat.


Lara menikmatiny, menikmati pelukan itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ini pertama kali baginya, bertemu Ibunya dengan wajah ramah, penuh senyum, bahkan mau memeluknya.


"Aku, aku tak ingin menyudahinya." batin Lara.


Seketika dekapan itu terhenti, dan Nyonya Ana menawarinya duduk disofa mewah yang ada diruang tamu, dan Lara pun mengikutinya.


"Ma, Adam panggil papa dulu, sebentar, ya?"


Lara menatapnya dengan tatapan begitu rindu, rindu dan ingin didekap lagi. Andaikan bisa memintanya, pasti akan begitu bahagia.


"Lara..." panggil Nyonya Ana.


"Iya...?"


"Mulai sekarang, panggil saya Mama. Karna, biar bagaimanapun, kamu akan menjadi istri Adam."

__ADS_1


"Iya... Ma." jawabnya, kikuk.


"Kamu benar-benar sebatang kara?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku masih punya Ibu, yaitu kamu." batin Lara, tapi beda lagi dengan jawabanya.


"Iya, Saya sebatang kara. Ayah dan Bunda sudah meninggal ketika usia saya Sepuluh tahun. Dan nenekpun meninggal, ketika saya SMP." jawab Lara.


"Lalu, siapa yang akan menjadi walimu? Tak ada kerabat lain, atau?"


"Tidak..." potong Lara. "Ngga ada kerabat. Yang ada hanya Bos Lara ketika dirumah makan. Mereka yang menampung Lara, dan memberi makan Lara disana. Dan Lara, sehari-harinya membantu mencuci piring."jawabnya lagi.


"Oke, sepertinya aman. Tak ada yang terlalu banyak diurus nantinya, sehingga kita bisa segera menikahkan kalian." ucap Nyonya Ana, dengan senang. Namun, seperti ada maksud lain dari semua itu.


"Kata Mas adam, tunggu Dion wisuda, baru kita menikah. Karena, Mas adam takut jika Dion tak bisa hadir."


"Hah, Dia lagi jadi penghalang." gerutu Nyonya Ana.


"Lagi ngomongin apa, sih. Seru banget?" tanya Tuan farhan, yang datang bersama Adam.

__ADS_1


Lara semakin gemetar, melihat sosok calon papa mertuanya yang baginya begitu berkarisma. Pantas saja, Ibunya rela meninggalkan Lara dan Ayahnya demi beliau. Terlebih lagi, beliau orang yang kaya raya, dan tak terlalu memikirkan status sosial. Sehingga Nyonya Ana bisa diterima dengan baik dirumah ini.


__ADS_2