Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Shoping time...!


__ADS_3

"Mama sudah boking tempat ini. Lara tinggal belanja aja, pilih yang Lara mau. Mas capek, mau duduk sebentar disana." ucap Adam, dengan menunjuh sebuah sofa khusus tamu.


"Lah, terus Lara gimana? Masa sendiri?"


"Selamat siang, Mba. Saya adalah pelayan disini, silahkan untuk memilih, karena saya akan menemani Mba, dan memberi masukan tentang fashion." ucap seorang pramuniaga.


Lara mendelik kearah Adam, lalu Adam hanya mengangkat bahunya dan mempersilahkan Lara nengikuti pramuniaga tersebut. Lara menurut saja ketika Sang pramuniaga membawanya berkeliling, sedangkan Adam mulai sibuk dengan gawainya.


Berjalan kesana kemari, memilih dan memilah baju sesuai dengan mode, dan kepribadian Lara. Satu-persatu dipilihkan, dan dicobanya diruang ganti, hingga menemukan yang dirasa pas, lalu membungkusnya.


Setidaknya, ada lebih dari Lima paper bag pakaian yang Lara bawa, dan Satu paper bag berisi sekitar Tiga potong pakaian, dress, dan lainya. Entah berapa biaya yang akan digelontorkan oleh Adam, untuk semua belanja'an itu. Tapi, setidaknya bisa merubah penampilan Lara sesuai dengan Adam.


Lara lantas menghampiri Adam, yang sibuk mengetik menggunakan Hpnya.


"Masss... Udah." ucap Lara dengan muka lelah.


"Owh udah? Masih mau lanjut ketoko lain, atau?"

__ADS_1


"Stop, udah dulu, Lara laper." potong Lara.


"Laper? Mau makan apa, sayang? Tapi disini ngga ada Rumah makan."


"Hmmm, apa aja deh. Yang penting makan, Magh Lara kumat nanti malah jadi masalah." rengek Lara dengan terus memegangi perutnya yang mulai keroncongan.


"Yaudah, Mas bayar belanja'an Lara dulu." ucap Adam, lalu berjalan menuju meja kasir. Dan setelah itu, kembali dan mrnggandeng Lara keluar dari butik.


Mereka berjalan dengan penuh kepuasan, dan bergandengan tangan. Bahagia yang mereka rasakan sa'at ini, seolah tak akan terpisahkan satu sama lain.


"Mas, berapa habis belanja tadi? Biar Lara ganti uangnya." ucap Lara dengan penuh percaya diri.


"Hah? Segini Dua Belas Juta. Bisa dapet motor, Mas. Itu seharga motir baru yang Lara pengen. Lara mana bida ganti'in, mana kerja juga abis dipecat sama Mama." lesu nya.


"Mas ngga ada nyuruh Lara ganti, itu Mas kasih buat Lara. Pakai, supaya ketika Mas ajak jalan, kencan, ataupun bertemu rekan bisnis, Lara ngga repot cari baju, atau minjem." ledek Adam.


"Iya... Makasih." ucap Lara, dengan ekspresi yang begitu manis, dan membuat Adam semaki gemas denganya.

__ADS_1


"Lara mau motor baru?"


"Engga... Siapa bilang?"


"Itu tadi, katanya naksir motor seharga belanja'an."


"Cuma nasksir aja sih, ngga kepengen banget. Jangan bilang, Mas mau beli'in. Lara ngga mau, makin jadi aja orang bergosip."


"Ya ngga papa, lah. Itu kan kenyata'an, jadi biar aja orang mau ngomong apa. Yang penting, kita bahagia." jawab Adam.


Lara dan Adam tiba disebuah restaurant seafood. Lara begitu senang ketika diajak kesana, karena seafood adalah salah satu makanan pavoritnya. Tapi, tak pernah tersentuh olehnya karena harga yang mahal.


"Lara kenapa seneng banget?" tanya Adam, sambil mengajak Lara duduk.


"Lara udah lama banget, pengen makan kepiting saus padang. Disini ada? Lara boleh pesen?"


"Lara suka? Pesen aja, ada kok." jawab Adam.

__ADS_1


"Mahal ngga?"


"Sayang, belanja segitu banyak aja Mas bayarin, masa cuma kepiting, ngga kebayar. Yaudah, pesen aja. Mas ngga makan, karena ngga boleh. Mas pesen yang lain aja." ujar Adam, dengan memanggil waiters, lalu memesan makanan mereka.


__ADS_2