Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Ketakutan Dion


__ADS_3

Lara turun kebawah, lalu mencuci gelas itu didapur. Dilihatnya stok susu yang begitu banyak disediakan untuknya oleh Mama ana, membuatnya bertambah kesal. Terlebih lagi, hormon membuat emosinya kurang stabil akhir-akhir ini.


"Bodoh.... Sudah dibilang tak suka masih dibelikan sebanyak ini. Kenapa tidak kamu saja yang meminumnya, agar kamu semakin puas nantinya. Jangan semua dilampiaskan padaku." ucap Lara.


"Mba, kenapa nyuci sendiri? Harusnya panggil Dewi tadi." Dewi yang tiba-tiba datang membuat Lara terkejut dan tak sengaja menjatuhnkan gelasnya.


"Aduuuh... Pecah." Kaget Lara, lalu berjongkok ingin membersihkan serpihan kacanya.


"Mba, udah biar Dewi aja bersihkan."Dewi menyusul berjongkok didepan Lara.


"Udah, Wi. Biar saya aja. Aaauuuwh...!" tanga Lara tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah yang lumayan banyak.


"Dewi.... Lara kenapa?" teriak Mama ana yang panik melihat darah jari Lara.


"Ngga papa, Ma. Lara mecahin kaca tadi, jadinya kena dikit." Sahut Lara dengan membungkus jarinya menggunakan baju, sedangkan Dewi berlari mengambil kotak P3K.


"SIni Mba, biar Dewi obatin lukanya." Dewi mengampirinya, mencuci luka dan membalutnya dengan plaster.


"Makasih ya, Wi." ucap Lara.

__ADS_1


"Iya, Mba balik kekamar aja, biar Dewi bersihin ini." ucap Dewi, yang dibalas anggukan Lara.


Lara dikamar memotret hasil USG bayinya, dan mengirimkan-nya pada Dion.


"Apa maksudmu?" balas Dion pada Lara.


"Itu anak kita, laki-laki Dion. Bahagiakah kamu?"


"Sudah ku bilang jangan ganggu aku lagi Lara!"


"Biar bagaimanapun itu anak kita."


"Aku diblokirnya lagi. Ini kedua kalinya Ia melakukan itu padaku. Ya... Mungkin akan ada yang ketiga dan seterusnya, atau setelah ini, dia justru akan membunuhku." tawa Lara terbahak-bahak ketika itu, meski hatinya begitu sakit.


Ia keluar dari kamar, menuju kamar Dion dan mengambil sebotol parfum milik Dion.


"Lara ngapain?"Mama ana menegurnya.


"Lara pengen parfum ini, boleh ngga? Pengen banget sama aromanya." jawab Lara dengan nada begitu tenang. Dan senyum begitu hangat.

__ADS_1


"Kenapa ngga beli sendiri? Ayo, Mama belikan." tawar Mama ana.


"Engga deh, maunya yang ini aja. Boleh ya, Ma?" rengek Lara, hingga akhirnya Mama ana menyetujuinya.


"Baik, ambil lah satu buat Lara. Asal Lara bahagia, itu yang diperlukan saat ini." jawab Mama ana.


Lara kembali kekamarnya dengan hati yang begitu puas dan bahagia. Disemprotkan-nya parfum itu keseluruh sudut kamr, dan menghirupnya dalam-dalam. Hingga Ia terlelap dan tidur dengan begitu nyaman.


♦️♦️♦️


"Kak, baru dateng?" tanya Dion yang bertemu Adam didepan pintu masuk.


"Iya, barusan antar Lara periksa kandungan. Anakku cowok Yon, bahagia sekali rasanya." wajah Adam begitu berbinar-binar ketika menceritakan semua itu pada Dion.


"Iya, selamat ya. Loe udah berhasil mendapatkan satu calon pewaris untuk keluarga kita." puji Dion, meski dengan berat hati.


"Iya... Giliran kamu sama Dewi nanti. Mas aja ngga menyangka, kalau Kakak bisa memberi keturunan pada Lara dalam waktu yang cepat. Sehingga, kalaupun usia Kakak ngga panjang lagi, setidaknya Lara tak terlalu kesepian." Adam mulai dengan kata-kata yang menyedihkan dalam hidupnya.


"Kenapa aku semakin kasihan melihatmu, Kak? Aku tak ingin kamu hidup dalam kebohongan. Tapi, aku juga tak ingin terjadi apa-apa denganmu ketika tahu semua kebenaran-nya."

__ADS_1


Dion semakin galau, ketika mendengan kata-kata itu dari Adam. Ketika terbayang-bayang olehnya bagaimana respon adam ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya. Dion begitu takut, hingga gemetar diseluruh tubuhnya.


__ADS_2