
"Hey.... Psssst.! Kok sendirian?" goda Dion.
"Tolong, jangan ganggu saya sekarang. Tahu kah kamu jika saya begitu lelah? Hanya sebentar saja, Pergilah." pinta Lara, dengan meletakan kepalanya dimeja.
Dion langsung diam, ketika melihat wajah Lara begitu lelah sa'at ini. Ia melangkahkan kakinya pelan, lalu menghampiri Lara yang sedang terlelap. Duduk dikursi sebelahnya, dan diam, menatap punggung Lara dengan baju yang begitu usang.
"Sebegitu miskin kah anak ini? Sehingga baju saja seperti ini." batin Dion.
Setengah jam, Dion masih berada diposisi yang sama, tak bergerak, menunggu Lara bangun.
"Huaaaaamhhhh, akhirnya, bisa istirahat meskipun sebentar." ucap Lara, dengab menguap, dan meregangkan kedua tangannya.
Plakkkk! Tangan kirinya mengenai kepala Dion.
"Heh...! Sejak kapan disini?" ucap Lara yang terkejut.
"Daritadi, sejak awal kamu memejamkan mata, hingga tertidur lelap. Aku disini, menjagamu, menatap rambutmu yang terurai, namun tak dapat membelainya." jawab Dion, yang sontak membuat Lara bengong.
"Ngomong apa?" tanya Lara, lalu membereskan Tas dan bukunya untuk dibawa pulang.
__ADS_1
Lara meninggalkan Dion yang masih terdiam diruang kelas itu, memandang Lara yang entah mengapa terasa begitu istimewa baginya.
"Heh? Siapa namanya? Gue lupa nanya," gumam Dion, menepuk jidatya, lalu secepat kilat berusaha mengejar Lara.
Lara mulai mengayun sepedanya dengan kencang, karna begitu banyak pekerja'an sudah menunggunya dirumah makan. Ia tak menghiraukan apapun lagi, hanya fokus mengayun sepeda untuk lekas pulang.
"Hey.... Gur belom tahu nama Loe siapa!" teriak Dion yang berusaha mengejar Lara.
"Kenapa, Mas?" tanya Satpam.
"Belum kenalan sama itu," tunjuknya.
"Mas... Dodi, tahu banyak tentang dia?"
"Ngga banyak sih, dikit aja. Anaknya pendiem, tapi bekerja keras. Dia anak beasiswa,"
"Owh... Pendiem, ya. Menarik," gumam Dion. "Makasih, ya. Besok-besok saya tanya lagi."
Dion bergegas menaiki motor sportnya, dan segera pulang ke istana pengekang hidupnya.
__ADS_1
Pov Lara.
Aku meletakan sepedaku dipinggiran ruko, dan bergegas masuk mengganti pakaianku.
Dan seperti yang sudah ku duga, Rumah makan Uni evi begitu ramai hari ini, terlihat dari tumpukan piring yang memenuhi tempat pencucian.
"Lara, ma'af ya, Nak. Cik lili hari ini ngga masuk, jadi semua pekerja'an Lara yang beresin." ujar Uni evi, yang mesih sibuk melayani pembeli.
"Iya, ngga papa, Ni. Lara cuci piring dulu, ya. Takutnya kalau ditunda malah tambah numpuk." jawabku, dengan melipat lengan baju untuk memulai pertempuran.
"Lara ngga makan dulu?" tanya Uda sofyan.
"Nanti ja, Da. Kalau udah beres, Lara makan. Kalau ada kepala ikan, Lara mau, ya. Tolong simpenin." .
Hampir Satu jam aku berjibaku dengan semua piring kotor penuh lemak ini. Tanganku keriput, dan kedinginan sampai pucat. Tapi beginilah cara agar aku bisa tetap bertahan disini, bisa makan dan tidur dengan gratis tanpa memikirkan sewa kamar.
Urusan piring dan kawan-kawanya selesai, tinggal urusan perutku sendiri. Sampai perih rasanya menahan lapar, meski aku terbiasa dengan keada'an ini selama bertahun-tahun.
"Da, Ni... Lara makan dulu, abis itu mau belajar sebenta, ya. Kalau ada apa-apa panggil aja." teriak ku dari belakang, lalu masuk kekamar menikmati santan kepala ikan pavoritku.
__ADS_1
Terkadang, jika aku makan aku teringat Nenek yang meninggal karna tersedak duri. Tapi, tak perlu ju bawa hati. Karna hidupku memang harus bangkit menata masa depan, tanpa menengok kejadian pahit dibelakang.