Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Janji Dion


__ADS_3

"Lara...." lirihnya.


"Iya..."


"Aku akan membalas ini semua padamu. Aku janji, akan membuatmu lebih sakit dari ini nanti, dan kamu akan menyesalinya. Kamu akan mengemis, berlutut dan mengiba padaku, untuk semua cintaku yang pernah kamu buang sa'at ini. Aku akan membuatmu begitu sakit, lebih dari sakitku sekarang, Ra. Kamu ingat itu." ucap Dion, lalu mematikan Hpnya.


Tangis Lara semakin menjadi ketika tahu, teleponya dimatikan. Suara Dion yang penuh kebencian hilang dari pendengaranya.


"Aaarrrrghhh,!" teriak Lara yang terdengar hingga kesebelah, yaitu rumah Mba asni.


Tangis Lara semakin menjadi-jadi dengan semuanya. Menyesal, marah, benci, semua jadi satu. Bahkan sa'at ini Lara membenci dirinya sendiri begitu dalam.


Mba asni yang mendengar tangisan Lara sebenarnya ingin menghampiri, namun mundur. Ia sudah tak ingin lagi mencampuri urusan Lara, apalagi urusan cinta mereka. Mba asni hanya bisa mendengarkan, seraya mengusap air matanya sendiri.


Lara meringkuk kan tubuhnya dilantai, tak beralaskan apapun. Hanya tubuhnya, dengan Hp dengan walpeper foto Dion dilayarnya. Air matanya terus mengalir sederas air hujan diluar. Membasahi lantai kamarnya, dan tak kunjung berhenti hingga Ia lelah dan terpejam sendiri hingga pagi.


"Ra, bangun Ra, udah pagi." ketuk. Mba asni dari luar rumah.

__ADS_1


Mata Lara seolah terkunci oleh airmata sisa semalam, hingga begitu berat untuk terbuka. Berbicara pun tak mampu, suara Lara hilang, habis karena kejadian semalam.


Mba asni yang cemas, mencoba membuka pintu Lara, dan untungnya tak terkunci sehingga amba asni bisa masuk kerumah Lara


"Ya Allah, Ra... Kenapa kamu?" kagetnya ketuka menemukan tubuh Lara terkulai lemah dilantai.


Lara tak menjawab, hanya tersenyum kecut menghadap Mba asni yang begitu cemas. "Dion, mana?" tanya Lara.


Mba asni yang kasihan dan cemas, bergantu kesal dengan pertanya'an Lara baruan. Ia lalu menuju dapur Lara, memasak air hangat, lalu menyiapkanya di bak mandi.


"Aaaarrrgh... Panas, Mba..! Mba udah gila?" teriak Lara yang kepanasan karna siraman itu.


"Kamu yang gila? Udah nerima lamaran adam dengan senyuman, dirumah nangis-nangis karna Dion. Mba siram air panas kamu biar otakmu encer. Lama-lama gila, kamu Ra!" omelnya.


Lara lalau duduk meringkuk dilantai, dan mempersilahkan Mba asni melanjutkan aksinya.


" Ayo, siram lagi. Otak Lara rasanya beku. Hati Lara beku juga, apa harus minum air panas pagi ini? "tanya Lara.

__ADS_1


Asni semakin kesal, tapi sedih dengan keada'an  Lara yang semakin kacau. Disiramnya lagi tubuh Lara, lalu digosoknya kepala dan badan Lara, diselingi omelan dan tangisnya.


"Kenapa seperti ini? Kenapa Lara sperti menyimpan sesuatu yang begitu menyakitkan. Cerita sama Mba, Ra? Ada apa?"


"Belum waktunya, besok saja. Izinkan Lara hari ini, Lara ingin istirahat dirumah." jawab Lara.


Setelah menggantikan pakaian dan menidurkan Lara, Mba asni pergi kekantor.


"Ini, kunci rumah Mba. Nanti kalau mau makan, cari aja sendiri." ucapnya.


"Iya, nanti kalau laper Lara cari dirumah makananya." jawab Lara, yang membelakangi Mba asni, dan menatap dinding rumahnya yang polos dsn berwarna putih.


Mba asni sudah pergi, Lara mengambil Hpnya dan menscrol beranda Fb, Instagram dan media sosial lainya. Ia mencari nama Dion disana, namun ternyata Dion sudah memblokir namanya dari daftar.


Hati Lara semakin sakit, namun yang Ia keluarkan justru ekpresi penuh senyum, namun senyum kepahitan.


"Cepat sekali diblokir. Apa hatimu juga memblokir hatiku? Bisa kah hilang secepat itu, Dion?" gumamnya, lalu kembali memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2