
Kita intip sejenak kisah kehidupan rinto dan rania yang lama tak ada kabar.
Beberapa bulan lalu rinto kedatangan seorang ibu setengah baya yang mengaku sebagai ibunya dan memang dia ibu dari seorang dokter rinto yang selama ini tak pernah mempedulikannya begitu juga rinto ia pun tak mau tau bagaimana kehidupan ibunya yang sudah menelantarkannya selama ini rinto menganggap orangtuanya sudah tiada namun hari itu sang ibu datang ke apartemen tempat tinggal rinto dan rania dengan harapan sang anak dapat menerimanya.
Rinto yang tengah bersantai terkejut ketika rania membukakan pintu dan yang muncul adalah ibunya.
"Mamah!" Ucap rinto dengan segera ia berdiri.
"Rinto sayang!" bu anita menghampiri rinto dan hendak memeluk.
"Tunggu ada apa anda kemari?" Tanya rinto.
"Rinto maafkan mamah!" Ucap bu anita dengan sembari mengangis.
"Sudahlah kenapa anda kemari? Bukankah selama ini anda tidak perduli dengan ku bahkan pada orangtua anda semdiri pun anda tidak pernah perduli iyakan?" Rinto kembali bertanya.
"Rinto mamah tau mamah salah tapi semua itu ada alasannya"
"Alasan?! Apa alasannya? Bisnis?"
"Bukan sayang"
"Lalu apa?"
"Mamaah, mamaah mamah tadinya ingin membahagiakan kamu" jawab bu anita dan jawaban bu anita membuat rinto tertawa.
"Hahaha membahagiakan aku? Terus apa aku bahagia? Enggak tuh justru dengan kelakuan mamah aku benci sama mamah dan sebaiknya mamah kembali biarkan aku hidup tanpa mamah dan itu yang membuat aku bahagia" tegas rinto namun bu anita tak juga pergi.
"Rinto mamah sudah hancur semua usaha mamah hancur, semuanya hancur nak" kata bu anita.
"Terus aku harus bersimpati" rinto terlihat kesal.
"Sayang mamah minta maaf, mamah janji mamah gak akan mengganggu hidup kamu lagi asal kamu mau memaafkan mamah nak!"
"Pak jangan begitu!" Kata rania yang memperhatikan drama bu anita.
"Nia kamu tidak tau dia itu siapa?"
"Pak rinto aku tau dia itu ibumu kan?" Rania.
"Pak jangan begitu pada ibumu!"
__ADS_1
"Nia kamu jangan membela dia!"
"Aku gak membela siapa-siapa, aku kasihan padanya dia ibumu dia yang sudah melahirkan pak rinto tanpa dia gak mungkin pak rinto hadir di dunia ini" rania.
"Aku tau tapi aku gak minta di lahirkan"
"Astagfirullah pak istighfar pak rinto gak bilang seperti itu justru harusnya pak rinto bersyukur karna sudah hadir di dunia ini dan merasakan nikmatnya hidup di dunia, apa lagi pak rinto sedari kecil sampai sekarang tidak pernah merasa kesusahan dalam bidang ekonomi pak rinto bersyukur meskipun pak rinto tak hidup dengan orangtua sendiri tapi pak rinto mampu hidup dengan kakek nenek pak rinto yang begitu menyangimu dan sekarang seorang ibu yang aku yakin pak rinto rindukan datang menemuimu pak jadilah orang yang selalu bersyukur!" Rania sedikit menasehati suaminya bu anita hanya diam ia merasa dirinya ada yang membela.
"Hemm bagus juga ucapan pembantu ini" gumam anita dalam hati.
"Rania kamu gak mengerti apa yang aku rasakan saat aku merindukan kasih sayang seorang ibu dia gak tau bagaimana dulu aku kesepian kalau gak ada nenek yang menyayangiku mungkin sekarang aku gak akan menjadi rinto yang ada di hadapanmu" tukas rinto.
"Iya aku ngerti itu tapi dia itu ibu kamu pak" kata rania
"Baiklah mama boleh kembali tapi mama gak bisa tinggal di sini mama bisa tinggal di rumah nenek" setelah mendengar ucapan rania rinto merasa terenyuh akhirnya ia pun berusaha menerima kembali sang ibunyang dulu pernah meninggalkannya.
"Terima kasih nak mama senang sekali kamu bisa memaafkan mama" ucap bu anita.
"Berterima kasih lah pada rania!"
"Terima kasih, rinto sangat beruntung memiliki pelayan seperti kamu" kata bu anita mendengar bu anita mengira rania pelayan rania menoleh pada rinto.
"dia bukan pelayan dia istriku" ucap rinto penuh penekanan.
"Sudahlah gak usah mempermasalahkan apapun dalam hidupku saat mama gak ada karna mama gak berhak" tegas rinto.
"Baiklah maafkan mama, ya sudah kalau gitu mama pulang ke rumah nenek kamu" pamit anita.
"Pak apa gak sebaiknya kita antar mama anita kesana"
"Untuk apa nia?"
"Pak kasian dia"
"Iya iya ayok! kamu ini ada-ada aja"
Rania tersenyum melihat suaminya yang menuruti ucapannya
"Aku ambil tas dulu ya"
"Cepat aku gak punya waktu lama"
__ADS_1
Akhirnya rania dan rinto pergi mengantar anita ke tempat dimana rinto semasa kecil tinggal bersama kakek neneknya di rumah itu sangat banyak kenangan yang menyiratkan tentang kehidupan rinto, tapi bukan berarti rinto tak pernah datang kesana sebelum rinto menikah dengan rania, rinto tinggal disana bahkan setelah menikah pun rinto sempat memabawa rania kesana dan mengajaknya tinggal di sana namun rania menolak karna menurut rania rumah itu terlalu besar untuk di tinggali dua orang meskipun di rumah itu ada beberapa pelayan yang akan menemaninya tapi justru ranianmerasa takut pada orang asing yang baru di kenal nya.
Akhirnya rinto memutuskan untuk tinggal di apartemen pernikahan rinto dan rania sampai saat ini belum banyak yang mengetahui karna rinto sendiri belum mengadakan acara resepsi pernikahan entah kenapa rinto masih belum mengakui pernikahannya mungkin karna rinto masih belum berniat untuk menikah padahal usianya dan kehidupannya di bidang apapun sudah lebih dari mapan rinto seorang dokter yang sukses tak hanya dokter rinto pun seorang pengusaha yang hampir sama dengan reyhan.
Di dalam rumah
Bu anita mulai melakukan dramanya ia menangisi photo sang ibu dan juga nenek rinto namun rinto tak merasa iba dengan drama anita melihat ibu nya menangis justru rinto ngajak rania kembali ke apartemen.
"sebaiknya kita kembali ke apartemen" ajak rinto pada rania.
Mendengar rinto mengajak rania kembali ke apartemen anita menoleh ke arah mereka berdua.
"apa gak sebaiknya kalian juga tinggal di sini?" usul bu anita.
"nggak kita cukup nyaman tinggal di apartemen"
"tapi pak, pak rinto pernawarkan aku untuk tinggal disini waktu itu masih ingatkan?" rania.
"iya kenapa? jangan bilang kamu mau tinggal disni juga" tukas rinto.
"gak ada salahnya juga kan pak"
"nia bukankah waktu itu kamu bilang kamu takut tinggal disini meskipun ada banyak pelayan karna kamu takut dengan orang asing"
"tapi kan sekarang ada mama anita disini"
"nia kamu baru kenal dia! bukakah itu juga namanya orang asing?" rinto menekankan.
"iya aku tau aku baru kenal dengan mama anita tapi dia ibumu aku gak akan takut pak lagi pula pak rinto juga akan tinggal di sini juga"
"nia nia kamu aneh" ucap rinto seraya menggeleng kepala.
"jadi gimana kita tinggal di sini ya lagi pula aku tinggal diapartemen gak punya tetangga" kata rania.
"ya sudah terserah kamu kalau memang kamu mau tinggal di sini, tapi aku minta kamu jangan terlalu banyak bergaul dengan tetangga"
"iya terima kasih ya pak" kata rania.
melihat rinto selalu menuruti ucapan rania anita menyipitkan matanya sembari menarik sudut bibirnya.
"nurut sekali si rinto sama anak itu" batin anita.
__ADS_1
Akhirnya rania dan rinto tinggal bersama anita di rumah masa kecil rinto namun itu bukan awal kebahagian rania tapi awal dimana rania akan mendapat ujian yang sangat besar.
To Be Continue