
Klara berpamitan pada sri dan pelayann lain yang ada di dapur.
"Semuanya aku pulang dulu!" Pamit klara pada semua yang ada di dapur.
"Iya non hati-hati"
"Mau pulang sama siapa kamu?" Tanya reyhan.
"Mang wiwi" jawab klara.
"Mang wiwi gak ada, lagi keluar kota sama reynant"
"Ya udah aku pesan taksi saja" reyhan yang melihat klara pergi begitu saja, reyhan melepas sendok yang tengah di pegangnya kepiring dengan kasar hingga terdengar suara sendok yang mengenai piring, klara berjalan keluar, sampai di depan pintu tiba-tiba reyhan sudah mendahuluinya.
"Cepat lah" Seru reyhan.
"Cepat untuk apa?" Klara.
"Aku gak mau tiba-tiba kamu nelpon minta uang gara-gara belum bayar taksi!" Kata reyhan.
"Ya nggak lah aku kan bisa ngambil dulu ke atas dan sopir taksinya bisa menunggu" tukas klara.
"Kamu pikir mereka cuma melayani kamu saja, mending kalau bayarannya mahal" cetus reyhan.
"Cepat lah aku gak ada waktu lama-lama aku harus bertemu seseorang" ujar reyhan yang sudah membuka pintu mobilnya, klara masuk ke mobil reyhan dengan muka di tekuk.
Di dalam mobil.
"Apa si bajingan itu masih di apartemen kamu?" Tanya reyhan.
"Tidak, aku sudah mengantarkan pada istrinya" jawab klara.
"bagus! sekarang kamu bereskan semua barang-barangmu dan intan dari apartemen" ucap reyhan tiba-tiba membuat klara merasa aneh.
"Dokter ngusir aku dan intan?"
"Kamu dan intan akan pindah dari sana"
"Pindah? Dokter masih marah sama aku, dok aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu marah, tapi aku minta waktu beberapa hari lagi sebelum aku mendapat tempat aku janji aku akan segera pindah dari sana, aku mohon" klara mengatupkan tangannya pada reyhan, mendengar ucapan klara reyhan menginjak rem dengan mendadak hingga dahi klara mengenai kaca depan mobil.
"Awww" pekik klara.
"Dok bisa pelan-pelan gak? Baiklah aku akan segera pindah hari ini juga dan dokter atau pacar dokter yang juga seorang dokter itu, bisa langsung menempati apartemen dokter gak usah marah-marah terus sama aku" kata klara sembari mengusap dahinya.
"Maksud kamu apa? Kamu mau aku tinggal dengan wanita lain di apartemen itu apa kamu sudah gak perduli lagi sama aku sampai-sampai kamu merelakan aku dengan orang lain seperti kamu merelakan rinto menikah dengan temanmu itu"
"Nggak aku gak rela dokter dengan orang lain, tapi bukankah dokter sedang ada hubungan dengan dokter itu sampai-sampai aku di usiar"
"Sudah aku bilang aku gak ada hubungan apapa sama dia"
"Ohh gak ada hubungan tapi setiap dapat pesan dari dia senyum-senyum" sindir klara.
"Senyum?! Siapa yang senyum-senyum?"
"Ah sudahlah ayo jalankan lagi mobilnya katanya nyuruh aku untuk mengemasi barang" klara semakin cemberut dan tanpa ia sadari butiran bening jatuh di pipinya, reyhan melihatnya namun reyhan seperti tak mau tau.
"kamu akan pindah dari sana!"
"pindah kemana?"
"gak usah banyak tanya, aku mau kamu pindah dari sana karna aku gak mau kamu dekat-dekat sama si rinto" kata reyhan.
__ADS_1
"bilang saja kalau kamu mau nyimpen dokter itu di sana, iya kan?" Cetus klara.
"dia sudah punya rumah sendiri ngapain aku nyuruh dia tinggal di sana"
"ohhh jadi dokter sering kerumahnya?"
"pertanyaan kamu itu gak bermutu" ucap reyhan seraya kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"ko gak bermutu" klara cemberut. sedangkan reyhan fokus ke jalanan tanpa mempepanjang pertanyaan Klara.
Tak terasa mereka pun sampai di basement apartement yang tempati klara
"Satu jam lagi akan ada yang jemput kamu!" Seru reyhan pada klara.
"Terus dokter sendiri mau kemana mau jemput pacar terindahmu? Dan bilang kalau apartemennya sudah kosong" Cetus klara cemberut.
"Iya" jawab reyhan, klara turun dari mobil reyhan, reyhan kembali melajukan mobilnya.
"Iihh Dasar hantu pohon kencur" gerutu klara kesal dengan menghentakan kakinya kemudian dengan segera pergi masuk kelift menuju apartemennya di lantai dua puluh.
___________
Rania dan rinto.
Rinto baru bangun setelah mandi rinto, pergi ke dapur untuk sarapan pagi di sana sudah ada sang istri yang masih sibuk dengan pekerjaan dapurnya rania tengah mencuci piring.
"Mau aku bantu?" Seru rinto dari belakang rania.
"Pak rinto" Sapa rania.
"Mau aku bantu?" Kembali rinto berucap.
"Gak usah sudah selesai ko, silahkan sarapan mumpung masih hangat" kata rania.
"Aku bikin nasi uduk cobain deh" tawar klara.
Nasi uduk!" Ucap rinto dengan wajah seperti tak menyukai makanan yang di sebutkan rania, tapi karna rinto gak mau membuat rania kecewa, rinto pun duduk di kursi makan melihat rinto duduk dan bersiap menyantap makanan yang akan di buatkan rania, rania pun menyendokan nasi uduk ke piring yang akan di pakai rinto, rinto mulai memasukan suapan pertamanya.
"Gimana enak nggak?" Tanya rania.
"Emmhhh enak" jawab rinto yang sebenarnya ia gak tau bagaimana rasa nasi uduk sebab seumur hidupnya ia gak pernah makan nasi uduk dulu sewaktu masih ada kakek neneknyapun sekalian ada acara yang mengharuskan masak nasi uduk reyhan gak pernah memakannya.
"Kalau pak rinto suka nanti aku bakal bikinin lagi" ucap rania, mendengar rania akan membuatnya lagi rinto langsung menghentikan mulutnya yang tengah mengunyah.
"Ahhh gak usah ini juga sudah cukup lagi pula aku gak biasa makan makanan berminyak pagi-pagi!" Ujar rinto. Tanpa ia sadari kalau ucapannya membuar rania merasa gak enak hati.
"Ooh... kalau begitu maaf pak"
"Maaf untuk apa?" Tanya rinto.
"Aku gak tau kalau pak rinto gak suka makanan yang seperti itu"
"Gak papa sudah di makan ko, sebenarnya aku gak suka makan makanan berat atau berminyak pagi-pagi"
"Makanan berat?" rania menggaruk kepalanya yang tak gatal seprtinya dia gak mengerti ucapan rinto, saat mereka bercengkrama ponsel rania berbunyi, rania melihat nama panggilan di layar ponselnya.
"Klara!" ucap rania, mendengar nama klara rinto menoleh, rania mengangkat sambungan telpon dari klara.
"Assalamualaikum ra ada apa?" Tanya rania pada klara di balik sambungan.
"Nia aku mau pamit aku akan pindah dari apartemen" klara.
__ADS_1
"Pindah! Pindah kemana?" Tanya rania.
"Nggak tau, aku di suruh pindah sama dokter reyhan" jawab klara.
"Ra jangan dong nanti aku sama siapa?" Rania.
"Ya mau gimana lagi aku di suruh pindah sama dokter reyhan, tapi aku janji kalau aku sudah tau tempatnya aku bakal ngasih tau kamu dan kamu bisa main ketempat aku yang baru" kata klara.
"Beneran ya ra kamu bakal ngasih tau aku kemana kamu pindah"
"Iya pasti bukan cuma kamu yang berkelana di sini tapi aku juga kan"
"Iya ra"
"Kalau gitu sudah dulu ya aku mau beres-beres dulu" kata klara lalu memutus sambungan telponnya, rinto yang mendengar percakapan mereka di telpon pun bertanya.
"Siapa yang mau pindah?" Tanya rinto.
"Klara katanya dia mau pindah dari apartemen ini"
"Apa? Dia mau pindah? Pindah kemana?"
"Dia juga belum tau tempatnya katanya dokter reyhan yang nyuruh dia pindah" rania berucap sembari membereskan piring kotor di atas meja.
"Aku harus menemui dia" kata rinto seraya beranjak dari duduknya hendak pergi.
"Jangan pak aku gak mau pak rinto kembali bertengkar dengan dokter reyhan" rania mencegah suaminya yang akan pergi apartemen klara.
"Tapi..."
"Pak kenapa pak rinto harus selalu ikut campur urusan klara dia sekarang akan rujuk dengan dokter reyhan biarkan saja pak, aku gak mau akhirnya dokter reyhan membatalkan niatnya kasian klara dan juga intan aku tau berat untuk pak rinto melupakan klara tapi apa anda gak bisa berusah melupakannya" ucap rania dengan bijak.
"Ya aku sangat mencintai dia, selama ini aku selalu membayangkan akan hidup dengannya tapi sekarang harapan itu sudah gak mungkin" rinto kembali duduk di kursi makan.
"mungkin itu yang dinamakan jodoh"
"Hemmm jodoh ya mungkin jodoh aku itu kamu, kalau bukan jodoh gak mungkin aku ada di sana saat kamu akan menikah dan di tinggal calon suami tiba-tiba klara menyuruh aku menjadi pengganti untukmu" ucal rinto, rania tersenyum mendengar ucapan rinto, rinto bangun dari duduknya kemudian mendekati rania yang berdiri di samping meja sebrang rinto.
"Nia apa kamu mencintaiku" tanya rinto yang semakin mendekatkan dirinya pada rania, berdiri di samping rania menyilangkan kaki, sedangkan telapak tangan sebelahnya ia taruh di meja untuk menopang bahunya dan tangan satunya lagi ia simpan di belakang pinggang dengan pandangan memandang wajah rania membuat rania salah tingkah.
"Kenapa tiba-tiba anda bertanya seperti itu?"
"Kenapa gak boleh aku bertanya pada istriku sendiri" mendengar kata istriku rania menoleh pada rinto.
"Bukannya gak boleh"
"Terus kenapa? Kata Klara kamu cinta sama aku"
"Klara bilang gitu?"
"Iihhh si klara kenapa mesti bilang sama orangnya" gerutu rania.
"Benarkan?"
"Pak awas mejanya mau di bersihkan!" Seru rania hendak membersihkan meja dan menyingkirkan tangan rinto tapi rinto malah meraih pinggang rania dan membawanya kepelukan.
"Kalau kamu cinta sama aku bilang saja" rinto.
"A-akuu" rania gugup saat berada di pelukan rinto.
"Kenapa gugup kita kan sudah beberapa kali melakukan yang lebih dari pelukan seperti ini mungkin kalau klara belum melihat adegan kita sampai sekarang kita akan terus sering melakukannya dan sekarang klara sudah tau kenapa aku harus menghentikan itu apa lagi sekarang klaraku akan menjadi milik orang lain dan kamu tau itu karna apa karna aku gak bisa menahan hawa *****, aku sekarang suami kamu karna ke inginan dia dan kewajiban kamu melayani aku"
__ADS_1
"Tapi pak..." belum selesai rania berkata rinto mendaratkan ciuman di bibir rania dengan penuh gairah, rania pun menikmatinya, setiap mendapat serangan dari rinto rania selalu menikmatinya apalagi pada awal rinto merenggut kesucian rania pertama kali, rania begitu menikmatinya padahal rinto melakukannya di atas meja makan "tak author tulis terlalu pulgar jika di ceritakan hehehe" entah mengapa rinto begitu mengingikan tubuh rania padahal sebelumnya sedekat apapun dia dengan klara rinto selalu ingin menjaga kehormatan klara yang saat itu menjadi kekasihnya.
To Be Continue.