
Suatu pagi di rumah klara
Pagi itu semua orang nampak sibuk, terlihat ada beberapa bapak-bapak maupun ibu-ibu yang sedang membantu keluarga pak abdi.
Memang sudah kebiasaan seluruh warga di sana mereka saling bergotong royong dan tolong menolong di setiap ada tetangga yang sedang membutuhkan, mereka saling membantu tanpa pamrih kebersamaan di kampung itu sangat terjalin baik, kompak dan terasa hangat jalinan kerukunan yang sangat tercipta dengan indah, dan tak pernah saling menghujat satu sama lain, kebiasaan yang sangat jauh berbeda dengan yang di rasakan masyarakat di kota yang dimana orang-orang yang hidup di kota kadang sperti acuh tak acuh, jangan kan dengan tetangga dengan sodara yang rumahnya berdekatan pun mereka terasa seperti orang asing, itulah kehidupan di sana.
Hari itu klara akan menjadi seorang pengantin, acara pernikahan klara memang tak semewah dan semegah seperti acara pernikahan pada umumnya klara menikah hanya dengan acara ijab kabul, sungkeman pada kedua orang tua klara setelah itu setiap tamu yang datang menyaksikan ijab kabul mereka akan mencicipi hidangan di meja perasmanan yang akan di sediakan secara sederhana oleh keluarga pak abdi sedangkan malam nya akan di adakan acara pengajian, atau selamatan, tak ada acara resepsi seperti pernikahan nya
Pada umumnya karna memang semua sangat mendadak, setiap orang yang bertanya pada bu indi atau pak abdi "mengapa acaranya mendadak" mereka selalu akan menjawab "ini keinginan pengantin karna resepsinya akan di adakan di jakarta" itulah yang akan di katakan bu indi ataupun pak abdi pada stiap orang yang bertanya demikian pada nya mereka selalu berbohong karna ia tak mau jika anaknya di ketahui telah berbadan dua.
Mempelai pria datang ia datang bersama dengan rombongan yang sengaja di perintah kan untuk mengiring mempelai pria karna reyhan di sana tak ada sanak keluarga jadi ketua rukun warga di sana menugaskan beberapa warga untuk membantu reyhan dan kini reyhan bersama rombongan sudah sampai di rumah keluarga pak abdi mereka di sambut dengan penuh suka cita namun tak nampak kebahagiaan pada muka reyhan.
Di rumah pak abdi sudah ada petugas dari kantor urusan agama (KUA) bapak penghulu yang biasa di tugaskan di kampung itu ia yang akan mengesahkan pernikahan mereka.
"Selamat datang silahkan langsung masuk" seorang bapak-bapak menyambut kedatangan mempelai pria kemudian reyhan dan rombongannyapun masuk lalu reyhan duduk di sebrang meja penghulu yang akan menikahkan mereka, tak lama klara pun di bawa oleh bu indi ke ruangan itu, ruangan di mana akan di laksanakan nya acara ijab kabul.
Kemudian klara di suruh duduk di samping reyhan klara begitu terlihat sangat cantik ia mengenakan kebaya berwarna putih dengan riasan pengantin sederhana meskipun sederhana namun klara terlihat sangat cantik, separuh dari hati reyhan ia sangat mengagumi kecantikan klara ketika melihat klara yang berjalan mendekatinya, klara nampak terlihat gugup.
kemudian penghulu bertanya pada reyhan ketika klara sudah duduk di samping reyhan,
"Bagaimana sudah siap?" tanya sang penghulu pada reyhan sambil memberikan tangannya pada reyhan untuk berjabat.
"Iya" jawab reyhan dengan sedikit kurang bersemangat.
"apakah anda benar-benar yakin menikahi gadis bernama klara di samping anda ini?" Tanya penghulu lagi meyakinkan..
"Yakin" ucap reyhan sedikit gugup karna memang dalam hatinya reyhan terpaksa menikahi klara kalau bukan karna kesalahannya reyhan tak akan pernah menikahi klara akan tetapi mungkin ini lah takdir yang tetulis untuk reyhan dan klara.
"Baiklah kalau begitu kita mulai ijab kabulnya" ucap pak penghulu lalu melepaskan tangannya dan mempersilahkan pak abdi menjabat tangan reyhan.
"Silahkan pak abdi kita mulai" ucap penghulu" kemudian pak abdi menjabat tangan reyhan untuk memulai ijab kabul. dan ijab pun di mulai.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya bernama klara andarista dengan maskawin seperangkat alat solat dan emas 50 gram tunai" ucap pak abdi kemudian giliran reyhan mengucap.
"Saya terima nikahnya klara andarista binti abdi rajudin dengan maskawin tersebut di bayar tunai" ucap reyhan.
__ADS_1
"bagaimana saksi sah?" Tanya penghulu pada saksi yang hadir.
"Sah" "sah" "sah" ucap para saksi satu persatu.
"Alhamdulillah" dan ijab kabul pun berjalan dengan lancar, semua para tamu yang datang tampak terlihat menikmati suasana yang penuh kebahagiaan di hari itu.
Mereka melihat sepasang pengantin yang begitu serasi pengantin wanita yang begitu cantik dan pengantin pria yang juga sangat tampan.
Mereka tak tau sebenarnya apa yang terjadi dan yang akan terjadi dengan pernikahan mereka, semua orang hanya berpikir reyhan menikahi klara karna reyhan jatuh cinta pada klara namun kenyataannya tak seperti yang mereka pikirkan.
Malam tiba
Malam hari setelah acara selamatan selesai reyhan masuk ke kamar klara karna ia di suruh pak abdi untuk beristirahat namun klara tak ada di sana klara sedang membantu bu indi di beres-beres di dapur bersama ibu2 yang masih setia membantu bu indi karna setelah acara selesai pekerjaan di dapur masih menumpuk banyak ibu2 yang menggoda klara.
"Duuuh! pengantin kenapa di dapur sudah sana masuk kamar" goda salah satu ibu yang berada di dapur.
"Iya nanti suamimu kelamaan menunggu dia pasti sudah tak sabar, sudah sana kekamar" celoteh ibu yang lain.
"Apaan sih, klara belum ngantuk" ucap klara sedikit malu karna ibu2 terus menggodanya.
"Klara sudah sana kamu ke kamar kasihan dokter mungkin sedang nungguin kamu" ujar bu indi pada anaknya.
"Eh cepetan sana!" Seru bu indi.
"Ya sudah aku kekamar dulu" kemudian berjalan menuju kekamarnya saat klara masuk klara melihat reyhan sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan layar ponselnya ia tak menyadari kedatangan klara.
"Ehem" klara berdehem untuk menyadarkan reyhan akan kedatangannya.
"Klara" ucap reyhan kaget lalu ia memasukan ponselnya ke saku celananya.
"Maaf aku ganggu?!" ucap klara.
"Oh nggak apa-apa" jawab reyhan.
"Kenapa dokter belum tidur ini sudah malam? Maaf tempat tidurnya mungkin kurang nyaman tapi cuma ini yang kami punya" ucap klara.
__ADS_1
"aku belum ngantuk,nggak apa-apa ini cukup ko!" Kata reyhan.
"ya sudah aku tidur duluan yah" ujar klara lalu ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya lalu meringkuk seperti bayi membelakangi reyhan.
"Kalau dokter perlu apa-apa dokter bisa panggil saya" ucap klara menawarkan jasa sebelum ia memejamkan mata.
"Emmm" jawab reyhan kemudian klara akhirnya ia tertidur pulas di atas ranjang itu.
Reyhan masih terlihat segar belum terlihat tanda-tanda ia ingin memejamkan matanya lalu reyhan melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 11.12 reyhan bingung apa yang harus ia lakukan malam itu karna reyhan tak biasa dengan semuanya.
Reyhan melihat sofa yang ada di kamar klara sofa itu mungkin aga usang karna terlihat dari kulitnya ada sedikit yang terkelupas, lalu reyhan duduk di sofa itu ia mengambil bantal yang berda di tempat tidur di samping klara lalu reyhan membaringkan tubuhnya di sofa tersebut, dan akhirnya reyhan mulai masuk ke alam bawah sadar nya, reyhan pun terlelap
Di pagi hari
Semua penghuni rumah sudah bangun begitu pun klara,
klara sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh ketika klara membuka matanya ia mulai mengembalikan kesadarannya setelah beberapa jam berada di alam mimpi lalu ia pun teringat bahwa ia telah bersuami ia melihat di sampingnya namun reyhan tak ada dan saat ia melihat ke arah sofa klara melihat orang yang tertidur pulas di sana dan itu adalah reyhan"sampai seperti itukah dokter reyhan, ia lebih memilih tidur di sofa yang sempit dari pada tidur di sampingku" gumam klara ia merasa sedih, sebagai seorang pengantin baru klara merasa sangat tak berarti, ia merasa dirinya benar-benar tak di harapkan, oleh reyhan yang kini telah sah menjadi suaminya.
Namun klara sadar dengan apa yang di sebut takdir mungkin ini takdir yang tertulis untuknya jalan hidupnya memang harus seperti ini itulah yang di sadari klara pada saat melamun memikirkan takdirnya.
Kemudian klara keluar dari kamar, ia pergi mengambil wudhu untuk salat subuh lalu ia kembali kekamarnya dan segera mendirikan shalat, setelah selesai klara pergi ke dapur membantu ibunya, dapur kini sudah nampak kembali seperti semula tak lagi berantakan karna sisa-sisa hajatan, seperti saat sebelum ia pergi kekamar semalam.
Pagi menjelang udara pagi terasa menelusuk kesela-sela kulit hingga persendian udara di sana masih sangat alami belum tercemari polusi jadi jika pada malam sampai menjelang pagi udara di sana sangat dingin.
Anak-anak yang hendak pergi sekolah terlihat berlarian di depan rumah pak abdi karna sebelum mereka sampai ke sekolah mereka akan melewati rumah pak abdi, ada yang berteriak memanggil-manggil temannya ada juga yang berjlan santai bersama temannya yang lain.
Pagi itu reyhan masih belum terbangun dari tidur nya klara pun tak berani untuk membangunkannya klara membiarkan reyhan tertidur pak abdi yang duduk di kursi makan tengah menikmati kopinya pak abdi tak melihat menantunya keluar ia bertanya pada anaknya yang kini telah menjadi istri dari seorang dokter itu.
"Mana dokter?" Tanya pak abdi.
"Masih tidur" jawab klara.
"ya sudah mungkin dia lelah" ujar pak abdi.
"klra kamu harus bisa menjadi istri yang baik dan kamu harus bisa mempertahankan rumah tangga mu nanti apapun yang terjadi kamu harus bisa menjaga ke hormatan rumah tangga mu bapak selalu berharap anak-anak bapak bisa hidup bahagia, seperti orang lain bapak tau ini kesalahan kamu tapi dokter reyhan juga bersalah karna sudah menodai kamu jdi apapun yang terjadi setelah menikah dokter itu ridak boleh menyia-nyiakan kamu apa lagi setelah kamu melahirkan anaknya" pak abdi menasehati klara, tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang sedang memperhatikan,dan mendengar ucapan bapak dan anak itu.
__ADS_1
**TBC
👉TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA KARYA KU IKUTIN TERUS KISAH NYA DAN JANGAN LUPA LIKE AND KOMENNYA YA👈**