Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
Kesalahan yang hampir terulang


__ADS_3

Baru saja mereka membicarakan kepulangan sang dokter tiba-tiba dia muncul dan bahkan kini berada di hadapan anaknya sendiri tentunya membuat kaget klara dan juga bu karina.


"Reyhan!!" Ucap bu karina setelah melihat.


Reyhan kembali berdiri melihat ibunya dan klara kini berada di ruangan tempar ia dan intan bertemu.


"Mam" sapa reyhan.


"Kapan kamu pulang?" Tanya bu karina, sedangkan intan ia dengan segera sembunyi di di balik paha neneknya sembari mengintip.


"Kemarin mam" jawab reyhan.


"Kemarin!? Lalu kenapa kamu gak langsung pulang kesini?" Tanya bu karina lagi.


"Mam bisakah han istirahat?" Tukas reyhan, sembari bejalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Han mamah belum selesai bicara!" Ucap bu karina setengah berteriak.


"Nanti aja mam" ujar reyhan, bu karina pun tak membiarkan reyhan berlalu menuju kamarnya.


"Si reyhan ini masih belum berubah mamah tak habis pikir kenapa sikapnya seperti itu padahal lama ia tak bertemu dengan keluarganya apa dia gak ada kangen-kangen nya sama ibunya sendiri" gerutu bu karina namun masih bisa di dengar oleh klara.


"Mah klara ajak intan pulang aja gak enak sama dokter kalau di sini terus nanti intan mengganggunya" ucap klara.


"Ko gitu sayang siapa yang terganggu dengan kehadiran intan, intan cucu mamah dari reyhan intan darah daging reyhan, mamah gak akan tinggal diam jika reyhan merasa terganggu dengan kehadiran anaknya" celoteh bu karina.


"Tapi mah..."


"Sudahlah sayang kalau kamu mau ke toko lagi, intan di sini saja sama mamah dan bi siti selalu siap menjaga cucu mamah yang cantik ini" ucap bu karina sembari mencubit gemas pipi cabinya intan.


"Beneran gak papa?" Klara


"Iya gak apa-apa" bu karina.


"Ya sudah klara kembali ketoko lagi" pamit klara, namun niatnya harus terurung saat di panggil salah satu pelayan di rumah besar itu.

__ADS_1


"Non klara, maaf di panggil tuan muda reyhan" kata sang pelayan.


"A-ak-aku?!" Klara terbata, klara melirik bu karina, bu karina pun nampak aneh.


"Iya, nona!" Sang pelayan.


"Ada apa?" Tanya klara.


"Saya gak tau non!" Pelayan.


"Saya di suruh kemana?" Klara bingung.


"Ke kamarnya" pelayan.


"Aku Ke kamar dokter reyhan?!" Nampak ke anehan di wajah klara menedengar reyhan mnyuruh menemuinya di kamar.


"Ya sudah kamu temui saja dulu" bu karina.


"Tapi mah" klara.


"Bukan begitu mah, tapi sekarang klara bukan istrinya lagi" tukas bu karina.


"Mungkin reyhan juga bisa menjaga jarak dengan kamu sayang" kata bu karina, klara menarik napas lalu mengeluarkannya kasar.


"Baik lah, klara nemuin dia dulu ya mah" klara


"Iya sayang" bu karina, dengan langkah pelan klara berjalan lalu menaiki anak tangga menuju kamar yang biasa di tempati reyhan, setelah sampai di depan pintu klara dengan ragu ia mengetuk pintu kamar reyhan.


"Masuk!" Seru reyhan dari dalam kamarnya, setelah pintu di ketuk oleh klara, nampak keheningan di kamar itu, klara pun masuk ia menyapu seluruh kamar reyhan masih terlihat sama saat pertma kali ia masuk kekamar itu, klara pernah beberapa kalu masuk ke kamar reyhan saat intan masih dalam kandungan, klara melihat reyhan berdiri di depan kaca jendela menghadap keluar kini reyhan telah berganti pakain dengan pakain santai kedua tangannya ia masukan ke saku celana nya.


Kaca kamarnya yang besar dan menjulang dari atas hingga lantai kamarnya, klara kembali teringat saat reyhan memegang perut klara mengusapnya dan mersakan kehadiran intan di dalam sana tak lama klara pun tersadar dari bayangan masa lalunya, kemudian ia menghampiri reyhan.


"Dokter memanggil saya!?" Ucap klara, dari belakang reyhan yang sedang berdiri, tanpa berkata reyhan berbalik dan menatap klara dengan lekat.


"Kata mba sri dokter memanggil saya!" Kembali klara bertanya, karna melihat reyhan masih diam dan malah menatapnya.

__ADS_1


"Maaf dok kalau gak ada yang penting saya mau kembali ke toko masih banyak pekerjaan" ucap klara, sembari membalikan badannya.


"Tunggu!" Seru reyhan, klara kembali menatap ke arah reyhan.


"Kenapa kamu selalu panggil aku dengan sebutan dokter?" Tanya reyhan.


"Hahhh, euhhh ya... karna anda seorang dokter" jawaban yang tepat.


"Orang-orang akan memanggil sebutan suaminya dengan sebutan mas, ayah, papah, atau sayang" tukas reyhan, dan ucapannya membuat klara merasa aneh.


"Tapi sekarang kita...." belum sempat klara melanjutkan kata-katanya di potong oleh reyhan.


"Aku ini suami kamu?"


"Maaf dokter kita sudah bukan suami istri lagi sejak aku melahirkan intan, dan bukankah itu perjanjian keinginan dokter!" Ucap klara.


"Tapi kita belum cerai, kita menikah sah di mata negara, aku gak pernah merasa menanda tangani surat cerai dan di panggil ke pengadilan untuk sidang perceraian" kata reyhan dengan penuh penekanan.


"Maaf dok, tapi secara agama kita sudah bukan suami istri lagi dan jika memang dokter menginginkan kita sah bercerai secara darigama dokter bisa mengajukan cerai ke pengadilan agama" kata klara.


Reyhan menghampiri klara semakin dekat bahkan sangat dekat hingga hembusan napas reyhan terasa di wajah klara, dengan jarak yang sangat dekat reyhan bisa melihat setiap inci garis wajah klara yang sama sekali tak terlihat kerutan di sana hanya wajah yang tampak mulut terawar yang di lihatnya, reyhan pun dapat melihat bibir klara yang merah muda yang tak terlalu tebal dan tak terlalu tipis klara sangat menikmati pemandangan tersebut begitu juga klara, klara tersadar jika kini tubuhnya sudah sangat dekat dengan tubuh reyhan klara pun mulai menjauhkan tubuhnya dari reyhan namun reyhan menariknya, reyhan meraih pinggang klara, klara sedikit berontak ia berusaha melepaskn genggam tangan reyhan dari pinggangnya namun bukannya lepas malah makin erat.


"Dok!" Ucap klara pelan.


"Kenapa?"


"Tolong lepas!"


"Sudah aku bilang kamu masih itu istriku"


"Nggak dok" reyhan tiba-tiba melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang klara dengan pelan,


"maaf dok" ucap klara, reyhan kembali menatap klara, begitu juga klara, klara menatap sesuatu di mata reyhan klara dapat melihat kesedihan di sana meski tak mengeluarkan air mata kesedihan seperti kekecewaan, mereka saling menatap dan entah dorongan dari mana reyhan mendekatkan bibirnya ke bibir klara dan "cup" ciuman hangat sepasang mantan suami istri yang baru bertemu kembali itu terjadi ciuman reyhan sangat dalam dan klara pun mulai membalas ciuman tersebut dan menikmatinya hingga beberpa saa lamanya klara menyadari tangan reyhan hampir masuk celana yang ia kenakan klara mendorong tubuh reyhan.


"Cukup dok, aku gak mau mengulangi kesalahan dulu, dimana aku yang di salahkan olehmu dan lalu di telantarkan, maaf sekali lagi" ucap klara lalu ia berlari keluar dari kamar reyhan ia pun membetulkan pakainya yang sedikit berantakan karna perbuatan tangan reyhan yang hampir menyentuh bagian intimnya.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2