
Klara dan lira akhirnya menemukan tempat tinggal rania sang sopir menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah yang di tempati rania, mereka tak segera turun klara dan lira melihat rumah tersebut nampak sepi dan seperti tak ter urus sang sopir membunyikan klakson beberapa kali namun tak ada satu orang pun yang membukakan gerbang tersebut.
"ra kayanya rumahnya kosong dech" kata lira.
"iya wat, kita turun aja yu" ajak klara.
"ya udah ayo" lalu mereka pun turun klara mereka memandang rumah gerbang yang sedikit terbuka.
"wat apa kita masuk aja" ujar klara.
"iya ayok" lira hendak melangkah namun di hentikan oleh klara.
"kenapa?" lira mengernyitkan alisnya.
"kalau kita masuk tanpa ijin kita bisa di bilang penyusup nanto di sangkanya yang enggak-enggak" ucap klara.
"gak apa-apa ra kita cuma masuk halamannya doang hukan masuk kedalam rumahnya, kita cuma mau cari orang siapa tau di dalam ada orang yang bisa ngijinin kita bertemy rania" kata lira.
"ya udah kalau gitu". kemudian mereka dengan tanpa ragu masuk kedalam halaman rumah tersebut sedangkan sang sopir menunggu di depan gerbang. sampai di halaman mereka tak melihat satu orang pun di sana dan keadaan rumahnya pun nampak benar-benar seperti rumah kosong yang di tinggal pemiliknya.
"wat ini benarkan rumah yang di tempati rania?" Tanya klara.
"ya harus nya bener sesuai arahan di maps" jawab lira.
"coba lihat lagi" tukas klara, lira pun kembali melihat di ponselnya alamatnya memang susuai dengan yang di berikan rinto.
"kita langsung ketuka aja kali ya pintunya siapa tau ada orang di dalam"
"iya bener juga yuk" lira.
klara dan lira sampai di depan pintu mereka pun mengetuk pintu tersebut namun sama sekali tak ada jawaban.
klara dan lira merasa bingung karna di sana sama sekali tak ada satu orang pun yang bisa di tanya tentang rania, klara dan lira berjalan ke arah sisi lain rumah tersebut masih tak ada siapa pun.
"Ra kayanya rumah inu kosong dech" kata lira.
"Iya, coba kamu tanya mas rinto lagi" usul klara.
"Iya aku coba" lira merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi rinto.
"Halo dok! Maaf aku sama klara lagi rumah yang anda kasih alamatnya ke saya" kata rania setelah panggilan di jawab oleh rinto.
"Iya kalian masuk saja di depan ada penjaga kan" ujar rinto.
"Maaf dok tapi rumahnya kaya gak ada penghuninya ya?! Malah gak ada orang satu pun disini jangankan penjaga" tukas lira.
"Mungkin kalian salah rumah" kata rinto.
"Kita udah cek beberapa kali bener kok dok!"
"Kalian coba masuk aja siapa tau pintunya gak di kunci"
"Gak apapa kita masuk?" Lira.
"Gak apapa?"
"Maaf dok kalau boleh tau memang nya sekarang anda lagi dimana?" Tanya lira.
__ADS_1
"Aku lagi di luar kota" jawab rinto.
"Ohh gitu, ya udah kalau gitu kita beneran nih boleh langsung masuk?" Ijin lira
"Iya masuk saja!"
"Oke dok makasih dok maaf mengganggu"
"Iya sama-sama, gak papa" merasa sudah mendapat ijin klara mencoba untuk masuk kedalam rumah tersebut saat klara memegang gagang pintu, kebetulan pintu tidak di kunci dengan pelan tapi pasti lira dan klara memasuki rumah tersebut.
"Permisi" ucap merema berdua bersamaan.
"Assalamualaikum" ucap klara, Sama sekali tidak ada jawaban.
"Wat ini kita yakin masuk ke rumah yang benar?"
"Iya aku yakin ini memang rumahnya" klara dan lira memasuki rumah tersebut semakin dalam.
"Perasaan aku gak deh wat"
"Iya aku juga ra, ra kita cari lagi kebelakang siapa tau ada orang atau kita menemukan sesuatu perasaanku beneran udah gak enak" kata lira Klara dan lira menyisir ruangan tersebut satu persatu.
"Apa mungkin rania dan mertuanya lagi keluar" klara.
"Mungkin, tapi masa iya sama semua pembantunya juga, dan kata pak rinto tadi kita di suruh masuk karna di depan ada penjaga tapi di sini gak ada siapa-siapa jangan kan penjaga pelayan aja gak ada satu orang pun dan kalaupun mereka pergi pintunya pasti di kunci dong" tukas lira, mereka semakin penasaran dan merasa ada yang aneh.
"Coba sekarang kita lihat sekali lagi di ruangan lain, kita ke lantai atas aja" ajak klara, kemudian mereka berdua naik ke lantai dua memeriksa semua ruangan namun sama sekali tak menemukan siapapun klara dan lira memeriksa ruangan dengan terpisah, saat lira hendak membuka pintu salah satu kamar tiba-tiba lira mendengar klara berteriak.
"Niaaaaaaa" teriak klara, lira dengan segera berlari menghampiri klara.
"Ada apa rrr...." ucapan lira terhenti saat melihat rania yang tergelak di lantai ruangan yang seperti gudang lira dengan segera menghampiri ia terduduk di depan klara yang tengah memeluk rania sembari menangis.
"Wat aku gak tau saat aku buka pintu aku melihat rania yang tergeletak dan ini lihat tangan dan kaki rania di ikat wat" klara terus menangis, lira terduduk lemas seolah masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Siapa yang melakukan ini pada rania? Kita bawa rania keluar"
"Iya ayok Aku suruh sopir kesini untuk mengangkat nya"
"Iya cepetan ra" lalu klara menelpon sopirnya yang menunggu di depan untuk masuk kedalam Tak lama sopir pun datang.
"Ada apa nyonya?" Tanya sang sopir yang sudah di ambang pintu.
"Pak tolong di angkat teman saya"
"Ini kenapa nyonya?" Tanya sang sopir.
"Saya gak tau saya menemukan dia sudah dalam ke adaan seperti ini" sang sopir menghampiri lebih dekat ia pun melihat tangan dan kaki rania yang di ikat kain lalu meraba pergelangan tangan rania.
"Maaf nyonya sepertinya nona ini sudah meninggal"
"Apa? Gak, gak, gak mungkin rania meninggal niaaa bangun nia! Aku sama wati datang untuk menemui kamu rania bangun, rania" klara masih belum percaya kalau sahabat sekampungnya sahabat masa kecilnya meninggal dengan ke adaan seperti itu tangisan pun pecah.
"Nyonya sepertinya ini tindak kekerasan kita lapor polisi saja nyonya, karna saya yakin kalau ini kriminal"
"Iya ra kita telpon polisi"
"Ya sudah pak telpon sekarang" klara sedikit membentak.
__ADS_1
"Biar saya yang telpon ambulance bapak tolong telponin polisi" kata lira.
"Baik"
Beberapa saat kemudian polisi bersama ambulance pun datang dan dengan seketika para warga sekitar memenuhi halaman rumah tersebut karna melihat ada polisi dan ambulance yang tiba-tiba berdatangan ke sana semua orang mulai bertanya-tanya tak hanya itu bahkan para wartawan dari media elektronik maupun koran berdatangan rania di angkat oleh para petugas, klara yang merasa sangat kehilangan ia pun terlihat lemah sedangkan lira masih terlihat tegar klara terus menangis seraya mengikuti petugas yang membawa jenazah rania untuk di autopsi.
Berita semakin tersebar bahkan reyhan yang tengah berada di rumah sakit pun ia tau dan mendengar kabar tersebut reyhan berusaha untuk terus menghubungi klara, ia merasa cemas reyhan dengan segera bergegas menuju tempat istrinya berada karna masih susah untuk menghubungi istrinya, reyhan tak perlu susah-susah mencari rumah tempat keluarga rinto, karna ia tau dengan pasti rumah yang dahulu pernah di tinggali kakek neneknya rinto.
Tak berselang lama reyhan sampai di rumah tersebut reyhan menerobos kerumunan orang-orang yang juga ikut menyaksikan detik-detik di bawanya jenazah rania oleh petugas sang petugas yang mengenali reyhan mencegah agar reyhan tidak masuk melintasi garis polisi.
"maaf dokter reyhan ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu petugas.
"itu istri saya" tunjuk reyhan pada klara yang tengah berjalan keluar dari rumah tersebut.
"oh itu istri anda, silahkan dok" sang petugas mengijinkan reyhan menghampiri istrinya.
Reyhan melihat istrinya yang tengah hamil muda itu menangis dengan di gandeng lira seraya mengikuti para petugas yang membawa sahabatnya yang sudah tak bernyawa dari belakang, dengan segera reyhan memeluk sang istri ia mengusap rambut klara yang acak-acakan.
"Sayang kamu gak apa-apa kan? Ini ada apa?" Tanya reyhan Klara memeluk reyhan dengan erat.
"Mas rania mas" ucap klara.
"Kenapa dia? Ada apa?" Reyhan makin penasaran.
"Kita menemukan rania sudah meninggal tangannya dan kakinya di ikat" lira menjawab pertanyaan reyhan.
"Apa? kok bisa? Terus si rintonya mana? Dia suaminya kan?" Reyhan kaget dengan apa yang baru ia dengar.
"Dia lagi di luar kota" saat mereka mengobrol ada beberapa polisi dan wartawan menghampiri.
"Mass rania mas" ucap klara lagi masih dalam pelukan reyhan.
"Mba mohon informasinya mba" tanya para wartawan pada rania dan lira.
"Maaf nanti saja" kata reyhan.
"Mba-mba ini yang menemukan korban dan menghubungi kami?"
"Iya pak tadi sopir kami yang menghubungi bapak" jawab lira.
"Kalau begitu kami butuh kesaksian anda semua, saya harap anda bisa ikut kami ke kantor" ujar salah satu anggota polosi.
"Iya pak bisa" jawab lira.
"Tapi maaf pak istri saya sepertinya syok berat dengan kejadian yang menimpa sahabatnya ini dan kondisi istri saya juga sedang hamil" kata reyhan.
"Baik dokter reyhan saya minta maaf sebelumnya, tapi demi proses penyelidikan lebih lanjut kami sangat membutuhkan kesaksian istri anda dan yang lainnya"
"Begini saja pak biar saya saja dan sopirnya klara yang ikut anda" lira menawarkan diri.
"Baiklah kalau begitu"
"Dokter sebaiknya klara di periksa sepertinya dia syok berat" ujar lira.
"Iya kamu tenang saja"
"Kalau begitu saya duluan dok
__ADS_1
"Iya oke"
To Be Continue