Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
Makan di tengah perkebunan


__ADS_3

Sampai dintempat yang di tuju


Sesampainya di ladang yang menjadi tujuannya bu karina melihat hamparan kebun pertanian sayuran yang terhampar luas dan hari itu bu karina ingin melihat langsung proses mamanen tanaman sawi putih dan juga kol bu karina dan pak anggara melihat kesekeliling perkebunannya.


"Pah, mamah seneng deh liat tanaman yang subur kaya gini" ucap bu karina.


"Iya papah juga" sambung pak anggara.


"Pak abdi yang kita panen hari ini sawi doang?" Tanya bu karina.


"Sawi putih ini sama kol yang di sebelah sana" pak abdi menunjuk sayuran yang akan di panennya.


"Oh oke"


"Terus sekarang kita panennya?" Bu karina kembali bertanya.


"Iya bu sekarang aja" pak abdi.


"Tar deh kita makan dulu" kata bu karina.


"Iya ayo kita makan dulu! istri saya kayanya sudah masak banyak sengaja untuk di bawa kesini agar bisa makan bersama" ajak pak anggara.


"Ya sudah kita makan dulu saja kebetulan kita semua pasti lapar kan?" kata pak abdi.


"Tau aja bos kita ini" ucap salah satu petani yang biasa menggarap ladang bu karina dan semuanya tertawa lalu memulai acara makan bersama makanan sudah di hidangkan di atas karpet yang sengaja di bawa dari rumah untuk makan bersama sebenarnya di sana juga ada pondok kecil tempat para petani beristirahat, bu karina yang biasanya tak pernah makan pagi hari itu bu karina makan bersama dengan para pekerjanya , dengan beralaskan karpet tersebut.


Bu karina dan pak anggara sangat menikmati kebersamaan di hari itu, klara mengabadikan moment tersebut dengan kamera ponselnya dan mengirimkanya.


Tak terasa panas matahari semakin terasa di tubuh para mereka karna matahari semakin meninggi, jam menunjukan pukul hampir dua belas siang dan panen pun sudah hampir selesai pak anggara yang seorang pengusaha ia ikut turun keladang bersama para petani tak di sangka pak anggra sang pemilik perusahan besar dengan beberapa anak cabang di mana-mana dan biasa bekerja di depan layar komputer bermain dengan internet dan balpoint di tangan bahkan para kolega dan kerabatnya bukan orang sembarangan yakni semua hampir termasuk orang besar yang setara dengannya, tapi hari itu ia turun keladang bersama para petani tanpa merasa lelah, begitu juga bu karina yang biasa bergaul dengan ibu-ibu sosialita hari itu ia pun bergabung dengan para ibu-ibu pejuang receh di kebun miliknya.


Merasa hari yang semakin terik pak anggara mulai naik menghampiri keluarganya yang tengah berkumpul di pondok kecil di tengah ladang, para petani masih dengan pekerjaannya memanen sayuran yang masih belum di tuai sedangkan yang telai di tuai mereka mulai mengangkat lalu membawa dan menaikannya ke mobil pickup yang terparkir di jalan tepi ladang, untuk membawa sayuran ke tempat penyortiran yang pak abdi sediakan di tengah kampung salah satu rumah warga yang pernah di jual pada pak anggara dan di sana para ibu-ibu yang tak ikut bekerja di ladang mereka bekerja di tempat penyortiran dengan menyortir sayuran yang layak impor atau tidak setelah di sortir sayuran-sayuran tersebut akan dikirim ke supermarket-supermarket yang sudah mendapat PO bukan hanya di indonesia tapi juga ke luar negari pak anggara juga tidak hanya mengirim hasil dari ladangnya saja tapi juga ia membeli dari ladang para warga di sana pak anggara sengaja menyewa orang untuk mengatur semua urusan bisnisnya di sana termasuk pak abdi, pak abdi menjadi salah satu orang kepercayaan pak anggara untuk mengatur usahanya di kampung tersebut bahkan pak abdi pula yang mencari orang untuk mengatur pembukuan hasil panennya.


Sebelum panen selesai keluarga pak abdi dan pak anggara kembali pulang ke villa sesampainya di villa mereka membersihkan diri tampak ramai di villa tersebut karna ada dua keluarga berkumpul disana karna keluarga pak abdi pun bukan hanya klara tapi ada ali dan anak istrinya yang sengaja datang menyusul ke ladang pagi itu untuk ikut berkumpul, terdengar suara intan yang cerewet bermain dengan ibarahim dan lili anaknya ali ibrahin anak pertama ali kini telah menginjak kelas empat SD sedangkan lili baru berusia satu tahun.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya klara mengajak intan untuk tidur siang karna bi siti harus membereskan pakain bekas pakai intan dari kebun, sedangkan yang lain berpamitan untuk pulang.


"Gak pada nginep di sini? Nginep aja di sini!" Seru bu karina.


"Kapan-kapan saja" jawab istri ali.


"Padahal aku seneng lo kalau kalian nginep di sini pasti rame!" Ujar bu karina.


"Lain kali saja bu soalnya besok ibrahim masuk sekolah dan bapaknya anak-anak juga mesti mengajar" istri ali.


"Hemmm ya sudah kalau kalau begitu" ucap bu karina.


"Kalau begitu kami permisi pamit pulang dulu bu" kata ali.


"Iya bu saya juga harus pulang soalnya mau ada tamu menemui bapaknya" kata bu indi.


"Oh gitu!" setelah keluarga pak abdi pulang, villa kembali terasa sepi hanya tinggal bi siti dan klara yang masih di sana menidurkan intan, siang itu sepulang dari ladang semua istirahat di kamar masing-masing hanya bu mar dan bisiti yang terlihat mengobrol di belakang villa karna merasa belum ada pekerjaan sebelum kembali memasak untuk makan malam waktu istirahat mereka gunakan untuk mendekatkan diri pada orang yang ada di sana.


Satu jam kemudian

__ADS_1


Terdengar suara mobil di parkir di halaman depan villa.


"Siapa itu bu?" Tanya bi siti pada bu mar.


"Biar saya lihat" kata bu mar, lalu bu mar pergi kehalaman depan untuk melihat siapa yang datang, bu mar melihat dua orang yang sangat tampan baru turun dari mobil salah satu dari mereka memakai kacamata hitam dengan penuh kharisma wajahnya hampir mirip dengan pak anggara sedangkan yang satunya berpakain sederhana memakai kaos celana jeans dan memakai hudi dua orang tersebut tak lain dua orang kakak beradik yaitu reyhan dan reynant, bu mar merasa tak asing dengan wajah kedua orang tersebut karna salah satunya pernah menjadi dokter idaman di kampung itu yang kemudian menikahi salah satu gadis kampung di sana hingga membawanya ke kota dan membawa kemakmuran bagi warga kampung itu, yang satunya adalah orang yang tak lama tinggal di kampung itu namun sering berantem dengan anak sodaranya, yaitu gadis si pengembala kambing yang kini sudah tak lagi tinggal di sana.


"Bukankah ini dokter reyhan?" Ucap bu mar.


"Iya bu ini kakak saya seorang dokter dingin dan angkuh" jawab reynant, reyhan tak menanggapi omongan adiknya.


"Pada kemana?" Tanya reyhan.


"Semua sedang istirahat di kamar karna kami baru pulang dari ladang" jawab bu mar.


"Ladang!" Reyhan.


"Oh iya aku tau dari kak klara tadi pagi kak klara ngirim photo saat semuanya makan bersama di tengah ladang" ucap reynant.


"Hahh" ucap reyhan mengerutkan alisnya seolah aneh.


"Kenapa?" Reynant.


"Aneh makan di tengah ladang!" Kemudian reyhan masuk ke villa dan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di sana.


Bi siti yang penasaran dengan orang yang datang ia pun memutuskan menyusul ke depan, pada saat sampai di ruang depan bi siti melihat dua kakak beradik telah duduk di sofa.


"Tuan muda!" Sapa bi siti.


"Bi mamah mana?" Tanya reynant.


"Oh..." reynant.


"Mari tuan muda reyhan kamar anda sudah saya siapkan sesuai perintah nyonya" kata bi siti pada reyhan.


"Oke" reyhan menarik napas dan membuang kasar lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti bi siti ke kamar yang dituju.


"Terus aku bi!" Seru reynant.


"Tuan rey terserah mau di kamar mana" kata bi siti.


"Wah ini gak adil masa abang aja yang di prioritaskan!" Protes reynant.


"Tuan protes nya sama nyonya" ujar bisiti sembari terus berjalan menuju kamar yang akan di tempati reyhan, reyhan memang selalu di prioritaskan oleh orang tuanya bukan berarti pak anggara dan bu karina pilih kasih akan tetapi bu karina dan pak anggara lebih memprioritaskan reyhan karna reyhan anak yang paling tua orang tua reyhan melihat semua orang menyegani anak sulungnya itu, itu sebabnya bu karina dan pak anggarapun menyegani anak sulungnya karna mereka selalu ingin menjaga popularitas anaknya di mata orang lain intinya agar orang lain tak pernah berhenti menyeganinya karna melihat perlakuan orang tuanya.


"Ini kamarnya tuan" ucap bi siti setelah sampai di depan pintu kamar yang akan di tempari reyhan.


"Oke terima kasih bi" reyhan.


"Sama-sama saya permisi dulu" pamit bi siti.


"Tunggu bi!" Seru reyhan.


"Ya tuan"

__ADS_1


"Apa klara di rumah orang tuanya?" Tanya reyhan.


"Nona klara sama nona kecil sedang istirahat di kamar sebelah kamar anda yang itu" jawab bi siti seraya menunjuk kamar klara.


"Emmh terima kasih bi" ucap reyhan.


"Iya tuan"


Dari dalam kamar klara


"Seperti suara orang ngobrol, siapa ya" gerutu klara sebenarnya klara belum benar-benar tertidur telinganya masih mendengar meski matanya terpejam lalu klara bangkit dari kasur ia melangkahkan kakinya untuk keluar kamar saat pintu kamar terbuka klara melihat reyhan dan bi siti berdiri di ambang pintu kamar reyhan dengan bersamaan reyhan yang hendak masuk kamar dan bi siti yang hendak kembali ke bawah melirik ke arah klara karna mendengar suara pintu di buka, reyhan tersenyum melihat klara yang nongol dari kamarnya, klara pun yang tadi nya hanya ingin melihat siapa yang ngobrol terpaksa klara keluar dari kamarnya dan menyapa reyhan.


"Dokter kapan datang?" sapa klara.


"Baru sampai" jawab reyhan, sedangkan bi siti ia kembali ke bawah menemui tuan mudanya yang satu lagi.


"Oh... istirahatlah" ucap klara lalu ia kembali masuk kekamarnya namum harus kembali karna reyhan menanyakan anaknya.


"Klara mana intan?" Tanya reyhan.


"Dia sedang tidur"


"Boleh aku menemuinya"


"Dia lagi tidur"


"Hanya melihatnya"


"Terserah" reyhan mengurungkan niatnya untuk masuk kamar ia berjalan menuju kamar klara karna ingin melihat anaknya mungkin kangen karna dua hari sepulang dari korea reyhan pergi ke lombok karna urusan pekerjaan jadi reyhan tak sempat bertemu lama dengan intan anaknya.


Reyhan masuk kekamar klara dan melihat intan yang tertidur pulas, reyhan tersenyum melihat anaknya yang tidur dengan posisi yang lucu dan mengemut ibu jari reyhan mendekati intan ia duduk di samping intan dan memperhatikan cara tidur anaknya, klara hanya berdiri melihat tingkah reyhan.


"Dia selalu tidur seperti ini?" Tanya reyhan pada klara.


"Iya" jawab klara, kembali senyumnya tersungging di bibir seksinya.


"Boleh aku menciumnya?" Ucap reyhan.


"Nanti dia bangun, kasian soalnya dia cape baru pulang dari ladang" kata klara.


"Sekali saja" pinta reyhan.


"Tapi pelan-pelan!" Klara, lalu reyhan mencium kening intan dengan lembut dan ada satu yang ter ucap dari bibir reyhan.


"Maafkan ayah sayang" ucap reyhan, tiba-tiba mutiara beninf mencair dan jatuh di pipi reyhan, reyhan memandang ke arah klara, dan bertanya.


"Apa kamu pernah ngasih tau dia kalau aku adalah ayahnya" tanya reyhan.


"Maafkan aku dok aku pikir itu gak penting karna intan juga sudah ada yang lebih menyayanginya yaitu mas rinto, ta-tapi mamah sering bilang sama intan kalau selain punya papah intan juga punya ayah dan entah kenapa intan seperti tak mau tau soal kamu mungkin dia sudah nyaman dengan mas rinto atau mungkin karna masih kecil aja dia belum ngerti" tukas klara.


reyhan mengusap air matanya lalu berdiri dan pergi meningalkan klara yang masih berdiri mematung melihat tingkah reyhan.


"Dokter reyhan kenapa?" Gumam klara sembari memperhatikan reyhan yang berjalan keluar kamar.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2