Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
Rania Dan Rinto


__ADS_3

Malam semakin larut rinto yang baru selesai, meyelesaikan pernasalahan yang di hadapinya ia memutuskan untuk pulang ke apartemen, saat pintu apartemen terbuka lalu ia masuk, rinto mendapati seorang gadis yang tengah tertidur di sofa ruang tengah apartemennya gadis itu tak lain adalah rania seorang gadis yang ia bawa dari kampung tempat tinggal klara.


Rinto memandangi wajah rania yang tertidur pulas rinto melirik pada televisi yang masih menyala rinto meraih remote dan mematikan televisi tersebut kemudian ia masuk ke kamarnya, rinto membuka satu persatu kancing lengan kemejanya tiba-tiba ia teringat dengan klara yang ia tinggalkan di kampung nanglu dan membawa gadis lain ke jakarta, kenapa jadi begini? kenapa aku harus membawa gadis lain kesini? Apa yang di ada di pikiran klara? Kenapa saat ini aku merasa seolah-olah klara tak perduli denganku, apa dia menerimaku karna hanya ingin membalas budi?! Akhhh!!! Rinto mengacak-ngacak rambutnya dengan kedua tangannya, Terdapat beberapa pertanyaan di benaknya pikirannya terus meracau lalu ia kembali melanjutkan membuka kemeja dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktifitas.


Satu jam kemudian


Rinto keluar dari kamar dengan tubuh yang lebih segar rinto melihat rania yang masih tertidur di sofa ia pergi ke pantri untuk mengambil minuman paporitnya rinto membuka lemari es setelag selesai ia kembali menutup lemari es tersebut dan rupanya suara lemaris yang di tutup rinto terdengar oleh rania yang tertidur di sofa.


"Siapa tuh?" Rania terkejut seraya bangun dari tidurnya.


"Siapa?" Tanya rania lagi yang kini telah terduduk di sofa yang tadi ia tiduri karna belum mendapat jawaban dari seseorang.


"Jangan-jangan maling" gumam rania lalu ia pergi ke patri namun tak mendapati siapapuni ia mencari kesana kemari.


"Mungkin perasaan aku aja kali ya?!" Gumam rania sembari menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung yang tak gatal, lalu ia kembali ke ruang tengah namun saat ia melewati balkon ia seperti melihat seseorang dengan juru matanya ia menghentikan langkahnya ia melihat ke balkon ia mengamati seseorang yang berdiri di balkon.


"Siapa itu?" Bertanya pada diri sendiri.


Lalu ia mendekati pelan-pelan orang tersebut dan akhirnya ia mengenali orang yang tengah berdiri itu.


"Pak rinto!" Ucap rania, rinto yang tengah menikmati minumannyapun kaget saat mendengar rania memanggil namanya dari belakang rinto menoleh pada rania.


"Kamu bukannya kamu tertidur pulas tadi!?" Ucap rinto.


"Maaf, bapak sudah pulang dari tadi?" Tanya rania.


"Mungkin dua jam yang lalu"


"Ko aku bisa gak tau ya?" Kata rania seraya menggaruk kepalanya mungkin itu kebiasaan rania ketika merasa bingung.


"Kenapa kamu tidur di sofa? Bukannya aku nyuruh kamu istirahat di kamar!?" Tanya rinto.


"Emhhh ta-tadi... a-aku aku nunggu pak rinto" jawab rania terbata.


"Kenapa nunggu aku?" Rinto merasa aneh mendengar ada orang yang mau menunggunya.


"Gak papa aku cuma takut aja kalau pak rinto datang mengetuk pintu nanti gak kedengeran kalau aku tidur di kamar" rania.


"Dan sekarang!?" Rinto.


"Iya maaf ternyata di sofa juga gak ke dengeran" rania sedikit malu karna meski di sofa tetap saja ia tak mengetahui kalau rinto datang.


"Lain kali gak usah nungguin aku aku bisa keluar masuk kesini tanpa harus mengetuk pintu, karna di sini gak seperti di rumah kamu yang mesti menggambik kunci dulu untuk membuka pintu" tukas rinto.


"Oh gitu" ucap rania dengan lugunya.


"Sudah sekarang kamu tidur sana!" Suruh rinto.


"Emhh iya, bapak sendiri?" Rania balik bertanya.


"Gak usah peduliin aku" jawab rinto.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu aku kekamar" pamit rania.


"Tunggu!" Seru rinto, rania mengehentikan langkahnya.


"Ada apa pak?"


"Kamu gak ribet tidur pake kerudung seperti itu?" Tanya rinto.


"Nggak aku sudah biasa lagi pula di larang oleh agama memperlihatkan aurat di depan laki2 yang bukan mahrom" jawab rania.


"Bukankah aku suami kamu?" ucap rinto, rania terdiam sejenak.


"Aku kekamar dulu maaf pak" rania terlihat bingung dengan pertanyaan rinto, ia memutuskan untuk tidak menjawab lalu ia pergi menuju kamar.


_____________________


Di kampung nanglu.


Bu karina tengah menikmati makan malam nya dengan pak anggara tanpa klara, intan dan begitu juga bi siti karna malam ini mereka akan tidur di rumah bu indi.


"pah katanya besok waktunya panen sawi di kebun kita?" Tanya bu karina.


"iya kenapa? mau ikutan!" Tanya pak anggara.


"iya pah mamah mau turun besok ikut bu indi!"


"emang mamah bisa?"


"ya sudah terserah mamah tapi jangan mengeluh kalau malem tiba-tiba badan mamah sakit dan jangan minta pijitin papah"


"ihh papah ko gitu!? ya pasti minta pijitin papah lah di sini kan gak ada tukang pijit langganan mamah! masa mamah mesti panggil tukang pijit mamah kesini?!"


"tuh kan mamah belum apapa papah udah resah dengan ancaman mamah" ujar pak anggara, saat mereka menikmati makanannya tiba-tiba ponsel bu karina yang tergeletak di meja makan di hadapan berbunyi ia melihat nama orang yang melakukan panggilan masuk di ponselnya, bu karina melihat nama anaku reyhan di layar poneselnya.


"reyhan" ucap bu karina, lalu ia mangangkat panggilan tersebut.


"ya han!" ucap karina setelah sambungan terhubung.


"mam lagi apa?" Tanya reyhan.


"mamah lagi makan malam sama papah kamu! ada apa han? gimana kerjaan kamu di lombok sudah selesai?" Tanya bu karina.


"sudah mam sekarang han lagi di rumah" jawab reyhan.


"di rumah di jakarta?"


"iya, mam besok han kesana"


"kesana kemana?" Tanya bu karina.


"ke tempat mamah lah"

__ADS_1


"kesini?!"


"iya"


"emang kerjaan kamu sudah selesai?"


"semua beres mam"


"o ya mam apa si rinto masih di sana?" Tanya reyhan.


"dia baru pulang tadi pagi"


"oh bagus lah"


"maksud kamu?"


"gak papa mam, aku besok kesana!" tut tut tut sambungan di matikan reyhan.


"han... dasar anak itu! mamah belum selesai main matiin-matiin aja" gerutu bu karina.


"ada apa mah?" Tanya pak anggara yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar percakapan ibu dan anak itu lewat sabungan telpon.


"katanya besok dia mau kesini" ucap bu karina.


"memangnya kerjaannya udah selesai?" pak anggara.


"udah, katanya dia sekarang lagi di rumah" bu karina.


"ya udah lah terserah dia papah bingung dengan anak itu!" kata pak anggara.


"bingung kenapa?"


"ya gitu lah dia itu anaknya susah di atur" pak anggara.


"biarin lah pah! apa mau dia?, tapi mamah kasian juga sama reyhan harusnya dia itu sudah punya keluarga sendiri mengingat usianya sekarang" tukas bu karina.


"tapi mah, apa mamah gak ada rencana untuk mempersatukan kembali reyhan dengan klara?" pak anggara tiba-tiba.


"gak mungkin pah sekarang klara sudah bersama rinto" bu karina.


"Papah tau tapi si rinto sama klara kan belum menikah, kita masih bisa mempersatukan mereka" kata pak anggara.


"iya juga pah tapi..."


"tapi apa lagi? mamah ingatkan kalau reyhan pernah bilang jika dia mau rujuk dengan klara?" pak anggara.


"iya pah"


"gak ada salahnya kan?!" saran pak anggara rupanya masuk ke pikiran bu karina.


"iya pah kita coba bicarakan pada klara nanti" kata bu karina, setelah obrolan selesai mereka kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti karna percakapan tersebut.

__ADS_1


To Be Continue.


__ADS_2