
Di apartemen.
Sepeningal klara tinggalah rania dan rinto, rani yang melihat ada beberapa luka di wajah rinto rania memberikan obat luka pada rinto, ia masih bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi pada rinto tapi ia tak berani bertanya karna akhir-akhir ini rinto sering marah.
"Kamu gak nanya kenapa aku seperti ini!?" Ucap rinto pada rania yang sedang fokus mengoleskan salep di luka bekas pukul reyhan, mendengar rinto berkata demikian rania menoleh.
"Apa aku boleh bertanya?" Ucap rania.
"Siapa yang melarang kamu untuk bertanya?"
"Memangnya pak rinto habis ngapain?" Tanya rania.
"Kamu mau tau?" Rania menganggukan kepalanya.
"Aku habis berantem dengan kucing!" Jawab rinto.
"Katanya suruh nanya tapi jawabnya malah gitu masa manusia berantem sama kucing" gerutu rania yang masih bisa didengar rinto.
"Aku mau istirahat" ucap rinto kemudian ia bagun dari tempat duduk dan pergi ke kamarnya.
Di kediaman rumah anggara.
Klara sampai di depan gerbang rumah keluarga anggara sang sopir membunyikan klakson dan gerbang pun di buka oleh penjaga, sang penjaga memberi hormat pada klara saat ia melihat klara membuka kaca mobilnya.
"Tuan muda di rumah?" Tanya klara.
"Ada non" jawab sang penjaga.
"Masuk pak!" Seru klara pada sopir taksi, lalu setelah masuk sang sopir menghentikan mobilnya di parkiran rumah anggara.
"Tunggu sebentar ya pak!" Ucap klara pada sang sopir sebelum turun ia menyadari jika ia sama sekali tak membawa uang.
"Lalu klara dengan segera berlari kedalam rumah di dalam ia bertemu dengan sri dan juga pelayan lainnya.
"Non ada apa" tanya sri.
"Dokter reyhan ada di rumah?" Tanya klara pada sri.
"Ada non di kamarnya" dengan segera klara menuju kamar reyhan di lantai dua, setelah berada di depan pintu kamar reyhan, klara tanpa ragu ia lansung mengetuk pintu.
"Masuk" ucap reyhan, ia pikir pelayan yang akan membawa kompresan yang mengetuk pintu, sebelumnya reyhan meminta pelayan membawa kompresan untuk mengompres luka lebamnya.
"Dok" ucap klara setelah berada di dalam kamar reyhan, reyhan yang berdiri di menghadap kaca jendela kamarnya kaget saat mendengar suara klara ia langsung menoleh.
"Untuk apa kamu kemari?" Tanya reyhan ketus.
"Nanti aja nanyanya aku minta uang dulu buat bayar taksi, cepetan sopirnya nungguin di depan" seru klara.
"Nyusahin aja" lalu reyhan meraih dompetnya yang tergeletak di atas nakas kemudian mengeluarkan uang di dompet tersebut.
__ADS_1
"Tadi aku buru-buru, nanti aku bayar" klara.
"Berapa" tanya reyhan.
"Lima puluh ribu itu juga masih kembalian" kata klara, reyhan mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dua lembar lalu ia memanggil pelayan yang membawa alat kompres pesanan reyhan.
"hey kamu sini!" Seru reyhan memanggil pelayan yang tak ia tau namanya.
"Saya tuan" sang pelayan menghampiri.
"Tolong bayar taksi di depan berikan semua pada sopirnya" reyhan menyuruh sang pelayan membayar taksi yang mengantar klara, kemudian ia melempar kembali dompetnya ke kasur.
"Baik tuan" pelayan.
"Tapi gak sebesar itu bayarnya," kata klara saat melihat reyhan memberikan uang empat kali lipat dari yang harus di bayarkan.
"Kenapa kesini? Apa bajingan itu sudah mati?" Ucap reyhan.
"Ya allah Istighfar, jangan suka asal ucap dia itu sahabat kamu" ujar klara.
"Kenapa kamu takut kalau dia mati, biar aku hajar lagi dia biar mati sekalian" dengan nada yang masih di kuasai amarah.
"Dok aku minta maaf aku gak bermaksud membela mas rinto, aku takut kalau dia kenapa-napa terus dokter yang kena masalah, dan aku juga gak mau terjadi sesuatu pada mas rinto orang yang sudah sangat baik sama aku dan intan sebelum kamu kembali sama aku dan intan dia yang selalu mendukung aku dia yang selalu ada untuku dan intan" tukas klara.
"Terus apa perlu kamu sampai meluk dia?" Reyhan.
"Dok tadi aku panik aku nggak tau apa yang harus aku lakukan saat melihat kalian berdua berkelahi" klara.
"aku ingin sendiri kamu pergilah" reyhan.
"Tapi..." klara.
"Tolong! kamu tinggalkan aku sendiri!"
"Baiklah tapi ijinkan aku ngompres lukanya dulu"
"Aku bisa sendiri"
"biar aku kompres" klara meraih alat kompres hendak menempelkan pada pipi reyhan yang membiru.
"Ga usah aku bilang gak usah" reyhan menolak ia menepis tangan klara hingga mengenai ujung penyekat kaca dan rupanya reyhan menepis tangan klara cukup keras hingga membuat klara kesakitan.
"Awww..." ucap klara lalu ia melihat punggung tangannya yang memerah, reyhan kaget melihat klara yang kesakitan reyhan menunda sementara amarahnya lalu dengan spontan ia meraih tangan klara kemudian melihatnya dan membawa klara duduk di sofa meraih salep yang tadi ia pesan pada sang pelayan untuk mengobati luka lebamnya.
"sudah aku bilang aku bisa sendiri" ucap reyhan dingin.
"dok maafkan aku!" Ucap klara seraya memandang wajah reyhan.
"sebaiknya kamu pulang ini sudah malam" tukas reyhan setelah reyhan mengoleskan salep ke tangan klara
__ADS_1
"aku gak pulang aku akan menginap di sini!" klara beranjak dan pergi meninggalkan reyhan kemudian pergi ke kamar yang dulu biasa ia tempati.
Sepeninggal klara, reyhan kembali sendiri di kamarnya ia melihat alat kompres lalu mengompres sendiri luka lebam di wajahnya.
"Hehh sebenarnya aku ini masih di harapkan dia atau nggak?" Gumam reyhan dalam keheningan di malam yang semakin larut.
Menjelang pagi
"Hoaaam" klara baru bangun dari tidur ia melihat jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 06.30 klara kaget klara kemudian ia pergi ke whastapel untuk membasuh mukanya setelah bersih ia lansung menuju dapur, sesampainya di dapur para pelayan yang biasa kerja di dapur menyapanya.
"Pagi non" sapa sri.
"Pagi juga"
"Hari ini aku yang masak" ucap klara.
"Gak usah non biar kami saja" kata sri.
"Gak apapa" klara mulai memasak makanan yang di sukai reyhan.
"Non kapan nona kecil pulang?" Tanya sri.
"Harusnya hari ini mereka pulang, tapi kemarin siang mamah nelpon, mamah mau ngajak intan jalan-jalan dulu keliling korea katanya mungkin satu minggu lagi mereka baru akan pulang" jawab klara.
"Gitu ya non, rumah ini sepi gak ada nona kecil, apa lagi sekarang tuan muda reynant juga lagi keluar kota, jadi sepi biasanya kalau pagi-pagi begini dia yang suka ngerecokin kita di dapur" kata sri.
"Heem iya juga si, terus kalau si dokter itu gimana apa dia sama seperti rey juga?" Tanya klara sembari menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak.
"Hmm boro-boro non kalau kita nanya saja tuan muda reyhan jarang nyaut" kata sri.
"Gitu ya ko bisa?"
"Entahlah non!"
"Sudah lah biarkan, semaunya saja" klara kembali fokus dengan masakannya, tak memakan waktu lama nasi goreng yang di masaknya pun matang lalu klara membawanya ke meja untuk di hidangkan.
Baru saja selesai klara menghidangkan terlihat reyhan menuruni anak tangga lalu menuju dapur dengan pandangan fokus pada layar ponselnya reyhan terlihat senyum-senyum dengan ponselnya.
"Sedang chattingan sama siapa dia semalam dia marah-marah, ko bisa langsung berubah mood gitu! apa jangan-jangan dia lagi chattingan sama dokter itu" racau klara di benaknya
Reyhan duduk di kursi makan yang biasa ia duduki, klara memasukan nasi goreng ke piring reyhan, reyhan menaruh ponselnya di meja makan, melihat makanan yang sudah tersedia di piring kemudian ia memakannya klara hanya memperhatikan ketika reyhan makan, reyhan melirik pada klara.
"Kenapa kamu gak makan?" Ucap reyhan masih dengan nada ketus.
"Lagi gak napsu!" Jawab klarapun ketus, reyhan mengabaikan ucapan klara.
"Aku akan pulang" ucap klara.
"Hemm" reyhan, karna melihat reyhan yang cuek terhadapnya klara merasa kesal.
__ADS_1
"Tadi dia senyum-senyum pada ponselnya sekarang dingin sama aku ya sudah mendingan aku pulang" kembali batin klara menggerutu.
To Be Continue