Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
Kekecewaan dua hati.


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat sepasang insan yang kini telah menjadi sepasang kekasih, tengah berada di atas ranjang penginapan di dekat pantai saling berpelukan, reyhan memeluk klara dengan erat saat berada di tempat tidur tersebut.


Klara yang merasa silau dengan sinar matahari yang masuk ia mulai mengerjapkan matanya, saat berhasil mengembalikan ke sadarannya klara kaget ketika sadar kini ia tengah berada dalam pelukan seorang laki-laki.


Klara memandang wajah reyhan yang tangannya masih melilit di tubuh klara, klara tersenyum ia ingat bagaimana reyhan menahan dirinya saat berada di satu ranjang dengan tak kembali menodai klara, reyhan berjanji akan menjaga kehormatan klara sebelum ia sah menjadi suami istri, klara memeluk tubuh reyhan yang masih terlelap tanpa sadar jika hari itu ada pekerjaan baeu yang harus ia kerjakan.


Reyhan yang merasakan tubuhnya di sentuh seseorang, reyhan mulai membuka matanya pelan dan kini giliran reyhan yang menyadari jika ada klara yang masih dalam pelukannya.


Reyhan mencium kening klara membuat klara kembali membuka matanya.


"Udah bangun?" Ucap klara reyhan tersenyum sembari memandang klara.


"Kamu cantik sekali sayang ternyata ini wajah kekasihku ketika bangun tidur sangat cantik" puji reyhan untuk pertama kalinya ia memuji klara membuat klara tersipu malu.


"Apaan si? Udah ah kita pulang yu" ajak klara reyhan malah mempererat pelukannya.


"Sebentar lagi!" Seru reyhan kemudian menyapu rambut klara yang menempel di pipi. Tiba-tiba klara ingat jika hari itu ia harus ke lokasi shooting melakukan shooting pertama di film yang akan ia bintangi.


"Ya ampun dok aku harus ke lokasi shooting aku ada shooting hari ini! jam berapa sekarang?" Klara dengan segera ia bangun.


"Masih pagi" jawab reyhan.


"Kita pulang yu" klara kembali mengajak reyhan pulang.


"Gak nanti saja!?"


"Nggak! ayo cepat dok!" Klara menarik tangan reyhan yang masih berbaring.


"aku masih ingin bersama kamu, nanti saja sini" reyhan kembali menarik tangan klara hingga kembali klara tertidur di lengan reyhan yang terlentang di kasur dan reyhan kembali memeluk klara dengan berhadapan, wajah klara dengan wajah reyhan sangat berdekatan hanya beberapa centi.


"Dok.." klara


"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu" protes reyhan.


"Terus harus panggil apa?" Tanya klara.


"Panggil dengan sebutan lain"


"Apa aku sudah terbiasa dengan sebutan itu"


"Buang kebiasaan burukmu itu, panggil aku sayang!"


"Apa??? Sa yang!" Klara menirukan kata sayang dengan mengeja.


"Iya"


"Ah aku gak nyaman dengan sebutan itu"


"Aku panggiiiil mas aja" kata klara setelah memikirkan sebutan untuk reyhan.


"Nggak! itu panggilan kamu pada si rinto"


"Ya lalu aku panggil apa?"


"Sudah aku bilang panggil aku sayang"


"Iih manggil sayang, gak enak rasanya"


"Gak enak? kasih bumbu biar enak"


"Atau aku panggil ayah intan aja"


"Apa!!! ayah intan? Kaya tetangga manggil ayah anaknya tetangganya"


"Iiiih lalu aku harus manggil apa"


"Coba panggil aku sayang untuk kali ini saja"


"Saa sayang" ucap klara, reyhan tersenyum.


"Lagi!" Pinta reyhan.


"Sayang" klara, reyhan menciumi wajah klara.


"Terima kasih sayang" ucap reyhan.


"Kita pulang sekarang!"


"Baiklah, kalau kita udah nikah aku gak mau ada momen kaya gini harus pergi dari ranjang saat aku masih ingin memeluk kamu" kata reyhan klara tersenyum dengan manisnya.


Akhirnya merekapun terpaksa harus ceck out dari penginapan, reyhan mengantarkan klara ke apartemen.

__ADS_1


"Mau aku antar ke lokasi shooting?" Tawar reyhan.


"Ga usah biar nanti aku pesan taksi online aja"


"Oke hati-hati saat kerja di sana, jaga hati kamu buat aku!" Reyhan.


"Iya.. tenang aja, aku selalu menjaga hati aku, kamu yang harus jaga hati mu untuku" balas klara.


"Pasti aku akan selalu ingat pesanmu" reyhan.


"Ya udah hati-hati bawa mobilnya"


Kemudian klara turun reyhan menciun kening klara sebelum turun dari mobilnya, reyhan kembali ke rumah setelah mengantar klara.


Di tempat lain


Rania memasak untuk suaminya, rania menunggu suaminya yang semalaman tak pulang rania berharap pagi itu rinto pulang setelah selesai memasak rania menghidangkannya di meja makan rania menunggu rinto dengan harapan rinto akan pulang, klara menungu dengan sabar rania terlihat beberapa kali menpon suaminya tapi sama sekali tak di angkat padahal ponsel rinto aktif rania menunggu di dekat pintu terlihat mondar-mandir berharap pintu du buka dan muncuk wajah rinto rania melirik jam di tangannya jarum jam seakan berjalan sangat cepat namun orang yang du tunggu tak juga kunjung datang.


"Kemana pak rinto, mudah-mudahan gak terjadi apa-apa sama dia" gumam rania cemas karna biasanya rinto tidak pulang sebab sesibuk apapun rinto pasti pulang, kembali rania melihat jam di tangannya yang menunjukan jika waktu semakin siang karna cemas rania menelpon klara, ternyata sam tak ada jawaban dari klara, hingga beberapa kali tania menelpon klara masih tak di jawab.


"Apa yang terjadi, apa pak rinto lagi bersama klara???" Ucap rania di tengah kesendiriannya.


Saat rania meracau dengan pikirannya tiba-tiba pintu terbuka lalu munculah rinto dengan keadaan lusuh tak karuan rania dengan segera menghampiri rinto.


"Pak dari mana kenapa baru pulang?" Tanya rania, rinto tak menjawab ia terus berjalan masuk.


"Pak rinto mau makan? aku sudah siapkan" rania menawarkan makanan yang sudah ia siapkan di atas meja makan sembari terus mengikuti rinto.


"Aku cape aku mau istirahat" jawab rania.


"Gak makan dulu?" Tanya rania.


"Sudah aku bilang aku cape aku mau istirahat!" Rinto ketus, dengan terus berjalan menuju kamar setelah berada di kamar rinto langsung menjatuh kan tubuhnya di kasur empuknya.


"Biar aku bukakan sepatunya" tawar rania, kemudian rania membuka sepatu rinto satu persatu, sedangkan rinto hanya diam menelungkupkan badannya setelah membuka sepatu rinto rania lalu menaruh sepatu di tempat biasa rinto menaruhnya.


"Pak sampai kapan kamu akan begini terus? sebelum klara datang ke sini pak rinto nggak seperti ini! aku harus bagaimana?" Gumam klara dalam hati.


Di rumah sakit tempat.


Alina si gadis cantik berpenampilan modis meski menggunakan pakaian kedokteran, Alin baru selesai melakukan oprasi pasien penderita penyakit kanker dan kini ia berniat menemui reyhan yang beberapa hari ini akan selalu berada di rumah sakit tempat alin bertugas.


Alin mengetuk pintu ruangan reyhan, alin pun di persilahkan masuk setelah berada di dalam alin melihat reyhan yang tengah fokus pada layar poneslnya, alin menghampiri reyhan kemudian ia duduk di kursi sebrang meja reyhan.


"Aku cuma mau ngajak makan siang, mau kan?" Ajak alin.


"Maaf aku sibuk lain kali saja" tolak reyhan.


"Yaaaah padahal aku pengen banget lo, makan bareng kamu" ucap alin.


Pandangan reyhan beralih ke alin kemudian tersenyum, membuat alin semakin terpesona melihat senyuman reyhan yang di tujukan padanya.


"Lain kali saja ya!" Reyhan.


"Tapi aku maunya sekarang"


"Aku sibuk" reyhan.


"Tapi masa gak makan siang dulu? Sesibuk apapun kamu jangan meninggalkan makan nanti sakit aku gak mau dokter sakit" alin sok perhatian.


"Iya, nanti aku makan tinggal suruh orang-orang ini beli makanan gampang, dari pada mereka cuma berdiri di depan pintu gak ada guna!" Reyhan menunjuk pengawalnya yang berada di ruangan.


"Ya udah aku pesenin makan ya dan kita makan di sini bareng-bareng!" kata alin, reyhan tersenyum dan mengiyakan.


"Ya udah terserah kamu" ucap reyhan.


"Aku pesen sekarang" kemudian alin mengambil ponselnya dari saku jas kedokterannya lalu alin duduk di sofa yang tersedia diruangan reyhan, menunggu makanan di antar, alin memandang wajah reyhan ia tak berhenti mengagumi ketampanan reyhan, siapa tak tergoda dengan reyhan yang tampan penuh pesona seorang dokter muda sekaligus pengusaha sukses.


Tak menunggu lama makanan pun datang alin mengajak reyhan untuk makan, alin juga tak lupa membelikan untuk para pengawal reyhan namun mereka tak ikut makan di dalam ruangan reyhan, alin sengaja menyuruh mereka untuk makan di pantri rumah sakit.


Selesai makan alin dan reyhan bercengkrama sebentar.


"Dok aku masih ingat pas dokter ngajak aku makan malam" ucap alin.


"Kapan?"


"Dokter lupa?"


"Sorry aku lupa!"


"Waktu di korea"

__ADS_1


Reyhan berusha mengingat ia tetlihat mengerutkan alisnya.


"Oh waktu itu, kenapa?" Setelah reyhan berhasil mengingatnya.


"Ya itu sangat mengesankan buat aku"


"Dok aku... aku ingin kita....!" Ucapan alin harus terputus karna ponsel reyhan berbunyi tanda ada panggilan masuk, reyhan tersenyum melihat nama panggilan di ponsel nya kemudian ia mengangkatnya, reyhan beranjak dari duduk nya dan menjauh dari Alin menghadap jendela kaca.


"Hallo sayang" ucap reyhan pada seseorang di balik sambungan telponnya yang tak lain wanita yang sudah memberikannya seorang anak yang kini telah menjadi kakasihnya yaitu klara.


"Dokter sudah makan siang?" Tanya klara.


"Sudah"


"Yaaah tadinya aku mau ngajak makan bareng"


"Aku sudah makan sayang! nanti malam aja aku jemput kamu ke lokasi shooting" reyhan.


"Ya udah"


"Kamu gak marah kan?"


"Nggak"


"Ya udah dok kalau begitu"


"Hey panggil apa barusan aku gak suka di panggil dokter kan aku sudah bilang semua orang tau kalau aku ini seorang dokter gak usah di sebut-sebut" protes reyhan dengan nada mesra.


"Iya udah dulu sayang aku mau makan" kata sayang yang di ucapkan klara membuat jantung reyhan bergetar.


"Aduh sayang!"


"Ada apa"


"Jantung aku mau copot"


"Kenapa?"


"mendengar kata itu" goda reyhan.


"Iiih apaan si? Lebay dech kaya ABG"


"Aku memang selalu jadi anak ABG kalau di dekat kamu" reyhan terus berkata mesra dan mengoda klara lewat sambungan telponnya tanpa ia sadar jika di sana ada alina yang merasa hatinya begitu terbakar ketika mendengar reyhan memanggil sayang pada orang yang menelponnya.


Setelah sambungan telponnya terputus reyhan kembali duduk di samping alin, alin memandang reyhan.


"Ada apa lin? tadi kamu mau bilang apa?" Reyhan menanyakan apa yang mau di sampaikan alin yang terputus karna reyhan harus mengangkat telpon masuk dari klara.


"Oh nggak dok aku sudah lupa lain kali saja!"


"Ko bisa lupa?"


"Dok apa tadi itu pacar dokter?" Alin menanyakan status hubungan reyhan dengan orang yang menelpon reyhan.


"Pacar? Aku ini sudah tua udah gak pantas untuk pacaran"


"Kalau bukan pacar lalu siapa bukankah dokter belum menikah"


"Aku udah nikah dan aku sudah punya anak memang kami sempat cerai tapi sekarang kita memutuskan untuk kembali rujuk" ujar reyhan.


"Jadi dokter sudah punya anak?"


"Iya ini anaku aku?" Reyhan menunjukan poto intan yang ia simpan di ponselnya.


"Lucu"


"Dan ini ibu dari anaku namanya klara" reyhan juga menunjukan poto klara pada alin.


"Ohh tapi dokter belum rujuk kembali sama dia?"


"Belum, tapi pasti kita akan rujuk"


"Tapi kenapa dokter baru bilang sekarang kenapa waktu di korea gak bilang kalau dokter sudah punya anak"


"Itu kesalahan aku, sorry lin jam istirahat sudah habis sebaiknya kamu kembali gak baik membuat para pasien menunggu!" reyhan mengalihkan pembicaraan karna ia gak mau kalau sampai alin tau lebib dalam tentang masa lalunya.


"Baiklah dok, dok terima kasih"


"Untuk?"


"Untuk semuanya, selama ini dokter sangat baik sama aku" reyhan hanya tersenyum menanggapi ucapan alin, alin keluar dari ruangan dengan membawa kesedihan dalam hatinya karna harus menyaksikan orang yang di harapkan jadi kekasihnya tapi malah berkata mesra dengan orang lain.

__ADS_1


Hati alin hancur karna lelaki yang selama ini ia dambakan lelaki yang selama ini ia harapkan akan hidup bersamanya sepanjang hidup, harapannya harus pupus karna reyhan tak mencintainya bahkan dia sudah memiliki kekasih yang tak lain mantan istrinya sendiri.


To Be Continue.


__ADS_2