
Satu minggu berlalu
Setelah kepindahan klara ke apartemen milik keluarga reyhan, selepas pulangnya keluarga klara, kini klara tinggal berdua dengan anaknya intan si bayi mungil kesayangannya klara mulai membuka usaha online dengan bantuan reynant meski belum banyak mendapat konsumen namun mulai berjalan dan rencananya ia akan membuka toko mainan juga pernak pernik khusus anak, bu karina hampir tiap hari datang menemui cucunya namun hari ini bu karina dan pak anggara tengah berada di luar kota karna ada urusan keluarga yang mendadak.
sore hari di apartemen
klara merasa ingin makan lalu ia melihat isi kulkas barangkali ada yang bisa ia masak, ia membuka kulkas banyak bahan makanan yang bisa ia masak karna setiap bu karina berkunjung kesana ia selalu membawa segala macam keperluan untuk klara dan juga intan meskipun klara selalu melarangnya.
saat klara hendak mengambil beberapa bahan yang akan di masak nya tiba-tiba intan menangis ia segera menghampiri intan.
"ada apa sayang kenapa? intan lapar sini mimi dulu" lalu klara menyusuinya namun intan sepertinya lagi tak ingin nete entah kenapa ia terus menangis klara bingung mengingat ini anak pertamanya dan belum berpengalaman klara juga masih terbilang muda untuk mengurus anak.
"kenapa sayang?" tanya klara pada bayinya yang masih merah klara makin bingung karna intan terus menangis.
"apa intan bosan di dalam ruangan terus" gumamnya.
"ya mungkin intan mau keluar, apa aku keluar aku juga bosan, dan kayanya aku mesti cari makan di luar kalau intan terus nangis kaya gini" lalu dengan segera klara menggendong dan mengganti pakain intan dengan baju panjang kemudian menggendongnya memakai gendongan khas bayi ia membawa intan keluar.
Tak lama klara sampai di lobi saat ia hendak keluar tiba-tiba "klara!" panggil seseorang merasa namanya di panggil klara memutar kepalanya menyisir sumber suara dan terlihatlah seorang pria tinggi putih dan berwajah tampan.
"mas rinto" ucap klara setelah melihat orang yang memanggilnya, rinto menghampiri klara.
"ngapain lu di sini?" tanya rinto.
"a-aku..." klara terbata.
"iya lu! bawa-bawa bayi lagi ini anak lu? lu udah lahiran?"
"iya ini anaku dan sekarang aku tinggal disini" jawab klara.
"lu tinggal disini sama reyhan?"
"enggak aku cuma berdua sama anaku"
"terus lu sama reyhan?!"
"panjang ceritanya"
"sepanjang apapun ceritanya gw siap buat dengerin" kata rinto bukannya jawab klara malah bertanya balik pada rinto.
"mas sendiri di sini ngapain?" tanya balik klara.
"lu gak ingat lu kan pernah kesini waktu lu nangis dipinggir jalan gara-gara di telantarin suami lu" ucap rinto.
"eh iya emang di sini ya apartemen mas rinto? aku lupa!"
"dasar pikun" rinto
"ah sudah lah mas aku mau cari makan aku lapar"
"ya udah kalau gitu kebetulan gw juga mau cari makan bareng gw aja ada restauran enak lo di deket sini!"
"enggak mas! aku sendiri aja lagi pula aku gak mau makan di restoran"
"terus di mana?"
"aku cari warung nasi biasa aja, kalau makan di restoran aku mesti keluar uang banyak cuma buat mengisi perut doang, kayanya di sebrang sana ada warteg dech aku kesana aja terima kasih ajakannya mas" klara menolak ajakan rinto karana ia pikir akan boros kalau harus makan di restoran karna ia pikir makanan di restoran sangat mahal sedangkan perut ketika sudah di isi mau di restoran ataupun di warteg pasti terasa kenyang.
"klara, klara, panggil rinto seraya berlari kecil mengikuti klara yang kini sudah berjalan menuju warteg yang mau ia tuju.
"klara gw ngajak lu makan di restoran bukan nyuruh lu yang bayar, gw yang bayarin lu, sebanyak apapun yang lu makan, oke" kata rinto.
"beneran"
__ADS_1
"iya.."
"emh mas rinto gak mau nipu aku kan!!!" cetus klara.
"nipu apa? emang lu punya apa? dasar lu kebanyak nonton sinetron!" celoteh rinto.
"habisnya tiba-tiba baik gitu kita kan baru kertemu lagi" cetus klara.
"ah sudah lah emang nya gw mesti baik sama orang yang sering ketemu aja?"
"ya gak gitu maksudku"
"ayo" ajak rinto dengan menarik tangan klara klara tak menolak lalu klara ikut dengan rinto dan tak lama sampai di restoran yang tempatnya agak jauh dari apartemen, klara turun dari mobil sambil menggendong intan rinto pun turun, rinto melihat klara yang kerepotan menggendong anaknya saat akan turun dari mobil, rinto menawarkan jasa.
"sini biar aku yang gendong" ucap rinto sembari mengulurkan kedua tangannya sambil membungkuk untuk menggendong intan.
"gak apa-apa emang nya? kalau mas rinto gendong bayi?" ucap klara.
"gak lah emang kenapa sini biar aku yang gendong!"
"ntar di sangka anak mas rinto lo.. sama orang-orang"
"mau gendong atau nggak juga pasti sama aja! di sangka ini anak gw, malah ntar di sangka gw suami gak perhatian ngebiarin istrinya kerepotan gendong bayi" celoteh rinto.
"maksud mas rinto?!" klara bingung dengan ucapan rinto.
"ya mau lu atau gw yang gendong bayi tetep aja kita di sangka suami istri iya kan"
"iya juga ya"
"ya udah ayo turun! sini biar aku yang gendong"
"beneran gak apa-apa?" klara kembalu meyakinkan.
"klara... kelamaan ah perutku udah lapar" rinto meraih intan dari pangkuan klara dengan pelan dan hati-hati rinto menggendong intan.
"kasian banget lu! kenapa gak telpon gw"
"ngapain aku telpon mas rinto?"
"ya kan gw bisa membantu lu"
"hemmm" klara memonyongkan bibirnya.
"anak lu lucu banget wajahnya mirip reyhan" ucap rinto.
"pasti lah lucu orang ibunya juga lucu!"
"iya lu lucu kaya laci"
"emang ada laci yang lucu kaya aku?"
"ada kan elu"
"enak aja"
"sudah ah ayo masuk" seru rinto.
mereka pun masuk sampai di dalam klara terus menyisir ruangan restoran yang ia masuki"
"mas"
"hemm"
__ADS_1
"mas rinto yakin mau traktir aku makan di tempat ini sepuasnya?!"
"emang kenapa?"
"bakalan kebayar?!" ucap klara sambil matanya terus memandangi seluruh ruangan restoran tanpa sadar dengan apa yang ia ucapkan.
"maksud lu gw orang miskin gitu sampai gak bisa makan di restoran cuma buat nraktir lu!!"
"hahh he.... maaf iya aku tau mas rinto ini orang kaya banyak uangnya?" klara sedikit gak enak dengan ucapannya sendiri.
"kita duduk disana" tunjuk rinto pad bangku yang kosong di sudut restoran, rinto dan klara pun duduk di tempat yang rinto tunjuk, tak lama sang pelayan datang membawa foodlist.
"silahkan mau pesan apa?" sang pelayan menyodorkan foodlist.
rinto memesan makanannya, setelah memesan makanannya rinto bertanya pada klara
"lu mau makan apa?" tanya rinto.
"terserah mas rinto aja lah apa pun yang mas rinto pesan pasti aku makan lagian aku juga gak bakalan ngerti sama nama makanan-makanan disini" jawab klara.
"terserah gw?! gimana kalau gw pesenin lu borak! mau lu makan juga?! aneh" ujar rinto.
"borax!!! makanan apa itu mas?"
"hadeuh klara... gw bingung sama lu"
"kenapa?"
"borax aja lu gak tau lu hidup di planet mana sich?" cetus rinto, ia bingung dari pertama kenal sama klara masih sama tetep polos.
"ya aku gak tau mau gimana lagi" ucap klara, sedangkan pelayan yang berdiri di tepi meja menunggu mereka memesan makananpun ikut tersenyum mendengar ucapan klara.
"borax tu bahan pengawet mayat!"
"apa? terus kenapa pengawet mayat di jual di sini? di jadiin makanan juga? emang mayat suka di awetin kaya ikan cue aja" mendengar ucapan klara rinto menepuk jidatnya.
"klara di sini gak jual borax"
"katanya tadi mas rinto mau pesen makanan yang terbuat darj borax!"
"dah udah! gw pesenin makanan yang enak buat lu, dari pada gw berdebat mulu sam lu males" ujar rinto sang pelayan pun tertawa kecil mendengar percakapan mereka.
lalu rinto memesan makanan untuk klara, sementara menunggu makanan datang rinto melihat intan yang tertidur pulas di pangkuannya ia melihat wajah intan yang begitu manis "cantik sekali" gumam rinto yang terus menatap intan.
"klara anak lu siapa namanya?" tanya rinto.
"intan azalea anggara" jawab klara.
"namanya yang bagus" rinto.
"coba gw yang jadi bapaknya" ucap rinto tiba-tiba.
"maksud mas?"
"iya coba gw jadi bapaknya gw pasti bisa gendong dia tiap hari tidur aja gw gak bakalan lepas kecuali mau nete keibunya" ujar rinto.
"tapi sayang intan gak seberuntung itu ia punya ayah tapi kaya gak punya" ucap klara.
"oh iya lu belum cerita kenapa lu bisa tinggal di apartemen sendirian dan bukannya reyhan masih di korea!?" tanya rinto penasaran.
"saat mereka asik ngobrol dan belum sempat klara menjawab pertanyaan rinto makananpun datang.
"silahkan dinikmati" ucap sang pelayan pengantar makanan ke meja mereka.
__ADS_1
"terima kasih" ucap klara. melihat berbagai makanan yang terhidang di depannya klara bingung yang mana yang mesti ia makan.
To Be Continue