Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
50 jemputan untuk kluarga klara


__ADS_3

Di kampung nanglu


Orangtua klara tengah bersiap untuk berangkat ke jakarta berniat melihat anaknya yang baru melahirkan, kini di rumah mereka juga sudah ada ali abang nya klara yang juga akan ikut ke jakarta.


"li apa istrimu mengijinkan kamu ikut sama ibu?" ucap bu indi sembari memasukan barang yang akan di bawanya kejakarta.


"iya bu, malah dia yang menyarankan agar ali ikut karna dia khawatir sama ibu dan bapa kalau harus pergi ke jakarta berdua saja" kata ali.


"syukurlah kalau begitu" bu indi.


"pak semuanya sudah siap kan peci bapa awas ketinggalan!" seru bu indi pada suaminya.


"ya enggak lah bu! peci nya kan bapak pake" kata pak abdi, yang selalu memakai peci kemana-mana.


"bu ini semua mau kita bawa?" Tanya ali, ia melihat ada banyak hasil pertanian orang tuanya dari mulai sayuran dan juga buah-buahan yang masih segar seperti sawi, kol, wortel, kangkung pete, jagung manis, pisang tanduk, manggis, jambu, durian.


kebetulan di sana tengah musim penen buah dan sayuran, namun itu tak hanya dari ladang pak abdi saja tapi sebagian juga ada dari para tetangga yang sengaja ngasih utuk pak abdi dan bu indi agar di bawa ke jakarta hanya sekedar oleh-oleh karena sudah jadi adat mereka yang tinggal di kampung itu setiap ada tetangga yang hendak bepergian jauh atau tamu yang akan kembali pulang meninggalkan kampung tersebut mereka selalu membekali hasil panen pertanian mereka tanpa pamrih begitu juga saat klara akan pergi ke jakarta beberapa bulan lalu,


Warga atau para tetangga yang dekat dengan rumah pak abdi mereka tau jika pak abdi akan pergi ke jakarta, ada sebagian warga yang tau jika klara telah melahirkan, namun mereka tak berpikir buruk dan selalu berpikir positif, mereka hanya mengira jika klara melahirkan prematur karna mengingat usia pernikahan klara dan reyhan belum menginjak 8 bulan.


Warga di sana tak pernah berpikir buruk tentang orang lain dan tak pernah mau ikut campur urusan orang lain namun bukan berarti mereka tak perduli dengan orang lain khususnya orang terdekat mereka, akan tetapi mereka selalu mencerna apa yang akan mereka lakukan, apa yang mereka akan katakan dan apa yang akan mereka perbuat, intinya mereka tidak pernah gegabah dan ceroboh dalam setiap ucapan dan prilaku masing-masing, sungguh kebiasaan yang patut di contoh.


Saat pak abdi, bu indi dan anak sulungnya ali bersiap untuk keberangkatannya ada beberapa tetangganya yang sengaja datang kerumah mereka.


"assalamualaikum" seru salah seorang dari empat orang yang datang ke rumah pak abdi.


"Wa'alaikumsalam" jawab bu indi dari dalam.


kebetulan pintu depan rumah pak abdi terbuka dan para tetangga yang datang tersebut melihat bu indi tengah menyiapkan barang bawaan mereka.


"mari masuk" ajak bu indi setelah melihat siapa yang datang.


"bu jadi berangkat hari ini?" Tanya salah satu tetangganya yang bernama lastri.


"iya jadi, ini kita lagi bersiap-siap" jawab bu indi.


"salam buat klara ya bu"


"iya nanti pasti kami sampaikan, nitip rumah ya bu.


"iya bu indi tenang saja"


"bu indi hati-hati di sana dan jangan lama-lama"


"iya kayaknya saya juba tidak bisa lama-lama di sana karna saya gak biasa pergi dari jauh dari kampung kita ini" bu indi.

__ADS_1


"iya bu jangan lama-lama kalau bu indi dan pak abdi tak ada pasti sepi lah dusun kita ini karna kepala dusunnya tidak ada" tetangga yang bernama yang biasa di panggil yuyun.


"assalamualaikum" ucap seseorang lagi dari luar.


"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di rumah bu indi serempak dan ternyata yang datang adalah rania sahabat klara.


"eh rania sini masuk" sapa bu indi.


"bu aku kirain ibu sudah berangkat!" kata rania.


"kenapa memangnya nia?" Tanya bu indi.


"bu aku nitip ini buat klara" rania memberikan sesuatu yang di bungkus kertas kado.


"apa ini nia?" Tanya bu indi.


"ini untuk klara bu" jawab rania.


"wah barang bawaan kita makin banyak ini!" kata ali.


"gak apa lagian kan ada dua laki2 yang akan membawanya" ucap bu indi.


"ibu ini bisaa... aja, pantes ali di ajak" ucap ali.


"jadi kamu terpaksa ikut sama ibu?!" kata bu indi.


Saat mereka bercengkrama tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang masuk ke halaman rumah pak abdi dengan seketika mereka yang berada di rumah pak abdi pun memutar kepalanya melihat ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah pak abdi.


"siapa itu bu?" Tanya bu yuyun.


"entahlah saya juga gak tau, ya sudah sebentar saya lihat dulu" kata bu indi sembari melangkah keluar rumahnya.


"maaf apa ini betul rumah nya pak abdi?" Tanya sang sopir yang baru turun dari mobil tersebut.


"iya betul saya istrinya ada perlu apa yah?" Tanya bu indi merasa heran karna tak biasanya ada orang yang ingin menemui suami nya yang kepala dusun itu dengan menggunakan mobil mewah, biasanya yang datang paling cuma menggunakan motor atau mobil pickup yang sudah jadul milik warga yang hanya ingin meminta data penduduk atau mobil para pengepul yang ingin membeli hasil bumi, bu indi tentu merasa heran ketika melihat mobil mewah yang datang ke rumahnya.


"maaf bu saya di suruh untuk menjemput pak abdi dan keluarga menuju bandara" kata sang supir.


"siapa yang datang bu?" Tanya pak abdi yang datang dari arah belakang bu indi dan di buntuti ali.


"ini pak katanya dia mau menjemput kita di suruh siapa tadi?" Tanya bu pada sang sopir karna ia lupa pada orang yang menyuruh sopir tersebut.


"pak anggara bu, majikan saya di jakarta" sang sopir menegaskan.


"pak anggara siapa?" Tanya pak abdi.

__ADS_1


"mertua nona klara dijakarta katanya keluarga pak abdi mau ke jakarta" sopir.


"kita memang mau kejakarta hari ini" ucap bu indi.


"nah...! saya di suruh menjemput dan mengantarkan anda sekeluarga ke bandara" sopir.


"oh jadi anda di suruh menjemput kami!?" bu indi.


"iya betul apa sudah siap, karna pesawat sudah menunggu" sopir.


"pesawat tapi kita nggak mau naik pesawat kita mau naik feri" ucap pak abdi.


"tapi itu yang di perintahkan majikan saya"


"bagaimana ini pak? ibu kan gak pernah naik pesawat, ibu gak mau naik pesawat! lagi pula ibu sering lihat di berita banyak pesawat yang jatuh!" tukas bu indi.


"kan ibu tau bapak juga gak pernah naik pesawat" kata pak abdi.


"ya sudah kita masuk dulu, pak silahkan masuk dulu!" Seru ali yang sedari tadi memperhatikan sang sopir yang terlihat pegal karna orang tuanya sama sekali tak mengajaknya untuk masuk sejenak.


"oh iya pak masuk dulu" ajak bu indi yang baru nyadar sedari tadi ia bicara sambil berdiri.


"iya terima kasih bu tapi saya gak bisa belama-lama saya tunggu di mobil saja" ujar sopir.


"ya sudah kalau begitu kami siap-siap dulu!" seru bu indi lalu ia kembali masuk kedalam rumah nya.


"wah... bu indi enak yah di jemput pake mobil mewah" ucap bu yuyun.


"iya mertua klara baik sekali beruntung sekali klara mendapat suami dokter reyhan" kata bu lastri pada yang lain.


"pak apa kita harus naik pesawat?" Tanya bu indi lagi pada suaminya.


"yah mau gak mau bu kasian si bapak itu sudah datang kemari untuk menjemput kita" ucap ali.


"iya bu kasian, lagi pula yang saya tau naik pesawat kalau sudah di atas enak bu gak terasa apa-apa kecuali kalau ada awan mendung baru terasa dan pas mau terbang itu yang terasa" kata bu lastri yang pernah pergi keluar negri untuk menjadi TKW beberapa tahun lalu.


"gitu yah!?" bu indi.


"ya sudah bu gak ada salahnya juga kita di jemput orang itu dari pada kita naik mobil angkutan barang bawaan kita juga banyak kalau kita naik mobil itu sampai bandara kita enak bu gak harus menaik turunkan barang iya kan bu" tukas ali.


"iya juga, lalu apa kita di ijinkan naik pesawat dengan yang kita bawa banyak sekali" ucap pak abdi.


"kita bawa saja dulu pak kalau gak di ijinin kita bagiin aja nanti sama orang yang mau di sana kasian kan sama tetangga kita yang sudah ngasih ini semua" kata ali.


"ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang" akhirnya keluarga pak abdi berangkat dengan menaiki mobil yang sudah menjemputnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2