Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
54 pindahan


__ADS_3

Pagi yang cerah.


hari ini klara tengah bersiap untuk pindahan ke apartemen milik keluarga anggara bu karina dan reynant ikut untuk mengantar cucu dan menantunya pindahan sedangkan pak anggara tak ikut karna ada rapat penting di kantor anggara group, saat hendak berangkat di dekat gerbang rumah bu karina, ada tiga orang bapak-bapak tetangga bu karina mereka menyapa pak abdi.


"pak abdi mau kemana?" Tanya bapak-bapak yang lewat di depan kediaman pak anggara untuk senam pagi, mereka melihat pak abdi, ali dan juga reynant terlihat sibuk memasukan barang-barang ke dalam mobil dan rupannya bapak-bapak itu, bapak-bapak yang biasa kemasjid dan sering bertemu dengan pak abdi bahkan kadang mereka mengobrol di halaman mesjid setelah selesai melaksanakan sholat, rumah bu karina di bangun di lingkungan sederhana tidak terlalu mewah dan tidak kumuh selain rumah keluarga bu karina yang terlihat mewah masih ada yang lainnya namun tak semewah rumah bu karina hanya rumah bu karina yang megah dan mewah di wilayah tersebut


Lingkungan rumah bu karina sangat bersih tanpa sampah dan tertata keluarga bu karina jarang berbaur dengan masyarakat di sana namun keluarganya sangat di kenal di lingkungan tersebut karna selain orang terkaya di sana kebaikan pak anggara yang dermawan pada tetangganya yang kurang mampu membuat namanya di kenal, namun tetangganya tak banyak tau wajah pak anggara mau bu karina dan anak-anaknya kecuali ketua RT/RW atau petugas kependudukan ketika hendak mendata data penduduk itupun hanya bu karina sedangkan pak anggara selalu sibuk dan jarang ada di rumah kecuali hari libur.


Dengan ke pribadian pak abdi yang santun dan mudah akrab dengan siapapun dan dengan keramahannya pak abdi mampu mengsetarakan dirinya dengan warga di sana yang mayoritasnya bukan orang biasa, bukan dengan uang atau harta maupun tahta pak abdi mengenal warga di sana tapi dengan sikap pak abdi yang selalu santun dan ramah pada siapapun membuat pak abdi di hargai siapapun meski orang itu baru mengenalnya.


Begitu juga dengan klara ia memiliki sipat orang tua nya hingga ia pun mudah di kenal orang di sekitarnya, meskipun ia sering ngobrol dengan banyak orang dan sipatnya polos tapi ia tak pernah membicarakan apa yang mesti ia tutupi dari orang lain, ia tak pernah mengumbar aib pada orang yang baru di kenalnya ataupun orang terdekatnya sekalipun.


Menurutnya "aib tetaplah aib tak pantas jika orang lain mengetahui segala keburukan dirinya tak perlu orang lain tau karna hanya akan menambah masalah dengan orang mengetahuinya, orang akan menganggap kita sangat buruk bahkan mungkin mereka akan menjauh atau mencela tak ada yang pantas mengetahui aib kita selain keluarga. orang mencela katika mereka tau keburukan kita ketika itu terjadi masalah yang akan muncul bukan solusi" itu yang di pikirkan klara dan jugajuga pak abdi


Pak tak pernah mengatakan tentang pernikahan anaknya dengan anak dari keluarga anggara pada orang yang ia temui beberapa hari lalu


"anak saya mau pindah rumah" menjawab pertanyaan bapak-bapak.


" memangnya siapa anak pak abdi?" sang tetangga penasaran.


"klara" pak abdi seraya menunjuk anaknya yang baru keluar rumah.


"oh nona klara itu anak pak abdi?"


"iya anak saya" pak abdi.


"ayo sayang! pak kami duluan" seru bu karina pada abdi yang masih asik mengobrol.


"iya ayo mah" ucap klara.


"gak ada yang ketinggalan kan sayang!" bu karina mengingatkan.


"nggak ada mah semuanya sudah"


"ya sudah kalau begitu" lalu para ibu-ibu di rumah itupun berangkat lebih dulu dengan mobil yang di kemudikan mang wiwi.


"maaf bapak-bapak saya pamit" pak abdi berpamitan.


"iya pak"


"memangnya pak abdi gak kesini lagi?"

__ADS_1


"iya pak karna setelah pindahan besok lusa saya akan pulang kampung" kata pak abdi.


"yah... gak ada pak abdi lagi dong" ucap bapak-bapak.


"ya ada dong pak" celoteh pak abdi bukan nya berankat malah kembali mengobrol.


"lahh... kan pak abdi mau pulang kampung" ucapan pak abdi membuat semua heran.


"ya ada pak di kampung nanti kalau bapak-bapak mau ketemu saya, bisa datang kekampung saya kami akan menyambut kedatangan bapak-bapak semua" ujar pak abdi dan membuat semua tertawa.


"pak abdi bisa saja, tapi kan jauh kampung pak abdi itu!"


"untuk orang sini, kampung saya itu dekat karna orang-orang sini pada banyak uang, karna untuk yang punya uang yang jauh juga jadi dekat" kata pak abdi.


"hahaha... pak abdi bisa saja"


"ya sudah kalau begitu saya pamit dulu"


"hati-hati pak"


"iya terima kasih bapak-bapak saya juga mau minta maaf jika ada salah-salah kata yang saya ucapkan atau pun prilaku saya yang kurang mengenakan di hati bapak-bapak" pak abdi.


"iya pak sama-sama kami juga minta maaf" ucap bapak-bapak.


Tak lama mobil yang di kemudikan reynant pun berhasil terparkir di basement apartement yang akan di tempati klara. pak abdi kembali mengagumi bangunan yang akan di masuki nya dan ketika pak abdi memasuki ruangan yang di ceritakan klara yaitu lemari berjalan yang di masuki manusia pak abdi baru paham dengan ucapan anaknya. setelah sampai di apartemen yang di tempati klara pak abdi bingung kenapa pintu tiba-tiba kebuka saat reynant memencet tombol angka di daun pintu.


"hidup di kota sangat aneh seperti banyak jin yang membantu" ucap pak abdi membuat reynant dan ali tergelak. ketika pintu terbuka mereka mendapati bu karina tengah duduk di sofa ruang tengah sembari menggendong cucunya yang imut itu, sedangkan bu indi dan klara tak terlihat, reynant menjatuhkan tubuhnya di samping ibunya sedangkan pak abdi masih berdiri dekat pintu pandangannya menyapu seluruh ruangan yang ia lihat semua nampak indah menurut pandangan pak abdi.


"kak klara di mana?" Tanya reynant pada ibunya seraya mengusap-ngusap pipi keponakannya si kecilpun menggeliat manja wajahnya tampak merah ketika menggeliat sedangkan tangan meremas pipi mungilnya hingga nampak makin merah.


"di belakang tadi bu indi muntah-muntah kayanya mabok mobil klara membantu meredakannya" jawab bu karina.


"hah... masa mabok perjalanan kesini dari rumah perasaan gak nyampe satu jam dech kayanya masa bu indi mabok perjalanan, jangan-jangan ngidam"


"hush.. ngaco kamu!" bu karina


"bisa aja kan mam bu indi kan masih punya suami" reynant.


"kamu ini bu indi udah gak bisa hamil lagi" bu karina


"ko bisa!"

__ADS_1


"ya kan bu indi sudah lanjut usia, kaya mamah sudah menopause jadi gak bisa hamil lagi"


Dan tiba-tiba.


"owek...owek...owek..." intan menangis karna ia merasa terganggu saat pipinya di cubit-cubit reynant.


"rey udah ah... kamu ini jadi nangis kan!" seru bu karina.


"habisnya lucu banget sich..." reynant


"sini mam rey yang gendong"


"tambah nangis ntar"


"nggak sini sini" reyhan menggendong ponakannya dari gendongan bu karina dengan hati-hati.


dan benar saja intan yang lagi nangis diam ketika sudah ada di gendongan om nya.


"tuh kan diem, intan mau di gendong om yah?" Tanya reynant pada intan yang hanya menggeliat-geliat menggemaskan


Karna intan di gendong reynant bu karina ngobrol dengan pak abdi dan ali.


"pak abdi rupanya pada kenal sama bapak-bapak di sini" ucap bu karina. setelah pak abdi duduk di kursi sebrang bu karina.


"saya kenal di masjid bu" jawab pak abdi.


"bapak emang begitu bu kemana aja bapak pergi pasti orang-orang langsung akrab sama bapak" ucap ali.


"oh gitu pantesan tadi seperti sudah lama kenal dengan bapak-bapak tadi, saya saja yang sudah lama tinggal di sini gak terlalu kenal dengan tetangga disini" kata bu karina.


"harusnya ibu sama bapak sering-seringlah berbaur dengan masyarakat terdekat agar lebih kenal mereka karna kita juga pasti bakalan membutuhkan mereka" ucap pak abdi pada besannya.


"tapi pak abdi! saya takut jika saya terlalu sering bergaul dengan tetangga takutnya nanti malah ngrumpi ngomongin orang, yah...! banyak kejelekan lah begitu, dan lagi pula ibu-ibu disini juga sama seperti saya jarang keluar kecuali asisten rumah tangga yang saya lihat sering ngrumpi di tukang sayur" tempas bu karina.


"maaf bu...! bukannya saya menggurui atau pun menceramahi, menurut saya masalah ngrumpi dan ngomongin orang itu tergantung diri kita, jika kita tidak suka ngrumpi yah... jangan dengarkan omongan mereka karna jika kita fokus dengan omongan mereka kita bakalan ketular hehehe, malah lebih baik lagi jika ibu bisa mengingatkan mereka yang suka ngomongin orang agar berhenti menghujat. seperti keluarga kami di kampung kami sering bergaul dan berbaur dengan tetangga tapi tak pernah ada kejelekan dengan tetangga karna kami bisa menjaga lisan dan prilaku kami pada yang lain jadi kami bisa hidup rukun berdampingan dengan tetangga dan menurut saya sebagai manusia yang hidup di alam dunia kita akan saling membutuhkan satu sama lain meskipun sekarang merasa tak membutuhkannya siapa tau suatu saat kita butuh mereka, bukan hanya saling kenal" tukas pak abdi.


"yah pak abdi benar, saya benar-benar tersentuh dengan ucapan bapak, baiklah saya akan mulai mendekatkan diri pada mereka, tapi saya juga nggak tau caranya mendekatkan diri" saran pak abdi.


"ikutlah pengajian bu, yang saya tau di madrasah dekat masjid sering mengadakan pengajian dan ibu-ibunya juga banyak yang datang" pak abdi.


"oya baiklah kalau begitu pak abdi saya bakal ikutin saran pak abdi" bu karina.

__ADS_1


"nah dengar tuh mah, rey aja sekarang mulai kenal dengan bapak-bapak tetangga kita iya kan pak?" ucap reynant dengan bangganya.


To be continue


__ADS_2