
Sepulang dari rumah rania klara dan intan langsung menuju villanya bu karina menggunakan ojeg sesampainya disana ternyata bu indi pak abdi bi siti, ali dan anak istrinya pun ada disana, mereka tengah berkumpul di halaman belakang villa yang di buat senyaman mungkin tempat kumpul keluarga.
"Nenek..." seru intan pada bu karina.
"Hai sayang... sini nenek kangen sama kamu" intanpun berhambur ke pelukan neneknya (bu karina).
"Ko sebentar ketemu teman lamanya kirain mau pulang sore" tanya bu karina.
"Gimana klara bisa tenang? Orang nih cucu mamah ngerengek terus minta ketemu nenek" kata klara.
"Ohhh sayang cucu nenek emang gak mau jauh sama nenek!" Ucap bu karina sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat cucu sama nenek yang seperti tak pernah bertemu bertahun-tahun.
"Mas sudah makan?" Tanya klara pada rinto yang tengah duduk memperhatikan ke akraban kedua keluarga tersebut.
"Sudah" jawab rinto.
Rinto yang tak pernah mersakan kehangatan keluarga seperti keluarga klara dan bu karina, ia bergumam.
"Coba aku jadi salah satu anak dari keluarga ini pasti aku merasakan ke hangatan ini setiap hari" batin rinto mengingat keluarganya tak pernah berkumpul seperti itu.
Orang tua rinto telah berpisah saat ia masih kecil dan ia harus menjadi korban brokenhome, rinto tinggal dengan kakek neneknya sebab orang tua sibuk dengan urusan bisnis masing-masing, hingga akhirnya kakek rinto meninggal dan di susul neneknya dua tahun kemudian, rinto pun terpaksa hidup sendiri karna ia cucu satu-satunya, rinto menjalankan usaha kakeknya sebagai pemilik beberapa rumah sakit dan klinik seperti pak anggara kemudian rinto pun masuk universitas kedokteran dan sekarang menjelma sebagai seorang dokter umum yang masih muda.
"Mas besok ikut ketempat kan?" tanya klara. Seraya duduk di samping rinto bersenderan pada bahu lengan rinto.
"Emang aku di undang?" Rinto.
"Iya lah kan nemenin aku" ucap klara.
"Iya aku ikut" kata rinto seraya mengelus kepala klara, dan memeluk klara dengan sebalah tangannya.
"Aku akan perkenalkan kamu sama orang-orang disana kalau kamu calon suamiku" ucap klara.
"Gak mungkin klara orang-orang disini taunya kamu masih istrinya dokter reyhan" ucap bu indi.
"Bu aku akan bilang pada semuanya, kalau aku sudah gak lagi sama dokter reyhan"
"Tapi sayang..."
"Mah meski bagaimanapun juga orang-orang disini harus tau karna suatu saat aku akan nikah dengan mas rinto" ujar klara.
"Apa gak bakal jadi buah bibir orang-orang sini?"
"Itu pasti mah, karna meski aku gak bilangpun pasti jadi buah bibir ketika aku menikah dengan mas rinto mereka pasti aneh karna yang mereka tau klara sudah punya suami" tukas klara.
"Ya sudah terserah kamu, apa yang terbaik buat kamu" ucap pak anggara.
"Maksih pah" ucap klara.
"Dan ingan kamu tetap anak mamah meski kamu sudah menikah dengan rinto" ucap bu karina.
"Tentu ma aku kan anak kalian!" Ucap klara.
Akhirnya tak terasa waktu hampir menjelang sore karna saking asyiknya obrolan mereka, bu indi dan pak abdi memutuskan untuk pulang namun di cegah oleh karina hingga akhirnya sampai malam mejelang dan mereka pun menginap di villa bu karina.
Esok hari
Hari yang di nanti rania wajah nya nampak bahagia semua hidangan telah tersedia si meja prasmanan rumahnya telah di hias sedemikian rupa dan para pagar ayu yang siap menyambut para tamu undanganpun sudah selasai di dandani tamu yang du undang pun cukup banyak mngingat orang tua rania seorang ustadz yang cukup di kenal di kalangan masyarakat dan pemuka agama yang lain.
Seorang rania baru selesai di dandani sebagai seorang pengantin rania di ajak ke mesjid, tempat dimana calon suaminya mengucap ijab kabul.
Karna mesjidnya tak jauh akhirnya sampai di masjid, rania di suruh duduk untuk menunggu kedatangan seorang laki-laki yang di cintai yang akan mengajaknya ke bahtera rumah tangga, rania tampak cantik dengan senyum kebahagiaan terukir di bibirnya sang penghulu, para saksi, rt, rw, dan para ustad rekan ayah rania pun turut akan menykasikan penegsahan tersebut, rania sudah siap untuk di sahkan dalam pernikahannya, tak lupa pak abdi pun sudah nampak hadir disana sebagai saksi sakral tersebut dan disusul bu indi, bu karina, dan juga klara dan rinto yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana sejak turun dari mobil.
Lama mereka menunggu entah apa yang terjadi sang calon mempelai pria tak kunjung tiba semua yang hadir di masjid untuk menyaksikan saksi ijab kabul pun semakin resah dan gelisah apalagi orang tua rania, namun mereka tetap sabar menunggu.
Jarum jam terus melaju menunjukan waktu semakin siang.
"Kemana calon prianya kenapa belum datang?" Gerutu orang-orang yang ada di sana, suasana di sana semakin gaduh dengan suara ucapan macam-macam yang terlontar dari mulut ke mulut.
"Coba di telpon dulu soalnya saya ada acara di tempat lain takutnya mereka juga menunggu" ucap sang penghulu.
__ADS_1
"Iya coba di telpon" kta ibu rania.
"Tapi di sini susah sinyal" jawab salah salah satu abang rania.
"Pergilah ke villa! di sana menggunakan jaringan wifi" saran bu karina.
"Iya bener" ucap pak abdi.
Tak menunggu lama salah satu dari keluarga rania pun menuju villa bu karina.
Hingga beberapa menit kemudian yang menelponpun kembali, dan menghampiri orang tua rania.
"Bagaimana apa mereka sudah berangkat kesini" tanya ibu rania dengan muka cemas.
"Bu kayanya pernikahannya gak bisa di lanjutkan" ucap orang telah mendapat kabar yang tak lain abang rania yang pertama.
"Apa? Apa maksud kamu?" Tanya orang tua rania.
"Bu keluarga calon suami nia bilang mereka terpaksa harus membatalkan pernikahnya karna ada masalah dengan calon suami nia" ucapnya.
"Masalah apa?" Tanya rania.
"Gak tau yang jelas mereka pun sudah siap- siap untuk berangkat kemari tapi calon suami mu gak ada, dia tiba-tiba menghilang entah kemana mereka sudah mecari ke sana kemari, mereka di sana pun menunggu, sepertinya calon suami kamu melarikan diri dari pernikahannya" tukas abang rania.
"Gak, gak mungkin, itu gak mungkin, itu gak mungkin" ucap rania, rania menangis tersedu ia tubuhnya lemas jantungnya berdetak kencang, hatinya hancur seperti tersambar petir, sedangkan orang-orang disana bertanya-tanya apa yang terjadi pada calon suami rania.
Klara yang menykasikan kejadian itu pun merasa kasian pada rania klara menghampirinya.
"Nia kamu yang sabar mungkin sebentar lagi" klara berusaha menenangkan.
"Ra aku gak tau ra, kalau sampai dia gak datang aku akan malu ra" kata rania.
"Bagaimana apa kita akan menunggu sebab saya harus keacara pernikahan lain di kampung sebelah" ucap penghulu.
"Tunggu sebentar lagi pak!" Seru klara.
Klara tiba-tiba teringat saat rania bilang betapa bahagianya dengan pernikahan yang akan di laksanakannya hari ini ia masih ingat bagai mana kebahagiaan yang terpancar di wajah rania kemarin saat ia bilang akan melepas lajang dan tak akan di bilang perawanb tua.
"Kita gak bisa di permalukan seperti ini" ucap ayah rania.
"Ya mau bagaima lagi" ucap ibu rania.
"Kita cari pemuda lain yang mau menggantikannya" ayah rania.
"Tapi di sini gak ada pemuda, mereka sedang pergi keluar kota mengadakan acara khusus muda mudi yang di akan lembaga desa" kata abang rania hanya abang kedua rania yang masih muda dia gak ikut acara tersebut karna ingin menyaksikan pernikahan adiknya dan mungkin rania di nikahkan dengan abangnya sendiri.
Tiba-tiba klara melirik rinto lalu ia menghampirinya, dan menarik rinto ke belakang masjid dan menjauh dari orang-orang di sana.
"Ada apa?" Tanya rinto.
"Mas aku bisa minta tolong sam mas rinto?!" Tanya klara.
"Tolong apa?" Tanya rinto.
"Mas bisa kan menggantikan calon suami rania?" Ucap klara.
"Apa? Kamu gila? Aku gak mau" tolak rinto.
"Mas aku mohon" klara.
"Klara ini pernikahan kamu tau kan setelah aku ijab kabul aku akan jadi suami orang?" Tukas rinto.
"Aku tau mas ini hanya sementara hanya menutupi aib di keluarga rania, rania sahabat aku mas dan abahnya rania guru aku mas dia guru ngaji aku abahnya rania yang mengajarkan kami ilmu agama, mas aku mohon setelah ini terserah mas rinto mas aku mohon mas mau yah orang tua rania mengundang banyak orang di pernikahan ini lalu bagaimana kalau sampai pernikahannya di batalkan?!" Rania terus memohon dengan mengatupkan telapak tangannya terus memohon pada rinto.
"Sayang kamu tau aku hanya ingin menikah denganmu enggak dengan orang lain kalau aku mau menikah dengan orang lain dijakarta pun banyak" ucap rinto.
"Aku tau mas rinto hanya mencintaiku"
"Lalu apa kamu gak mencintaiku itu makanya kamu nyuruh aku menikahi temanmu itu"
__ADS_1
"Nggak mas, aku mencintai mas rinto tapi aku mohon gak ada waktu lagi mas aku mohon" kembali klara memohon dan akhirnya bujukan klarapun berhasil rinto menyetujui bujukan klara.
"Baiklah tapi setelah ini aku akan menceraikannya dan menikahimu" ujar rinto
Dengan ragu klara menganggukan kepalanya tanda setuju tanpa ia sadari anggukan nya itu akan jadi boomerang baginya.
"Ya sudah ayo" ajak klara menarik tangan rinto dan masuk kembali ke dalam masjid, selama klara merayu rinto di dalam masjid terlihat dan penghulu yang akan meninggalkan tempat duduknya, dan berpamitan pada semua yang ada di sana.
"Tunggu!" Seru klara, sontak membuat semua orang menoleh pada klara dan rinto yang datang dari arah belakang.
"Tunggu biar mas rinto yang menggantikannya" ujar klara.
"Klara kamu ini apa-apaan?" Ucap bu indi.
"Bu gak ada waktu lagi!" Klara.
"Rinto ini apa-apaan?" Bu karina.
"Ini keinginan klara" ucap rinto.
"Mah nanti aku jelasin" kata klara.
"Tapi sayang...!" Seru bu karina, klara tak mendengar seruan bu karina tanpa panjang lebar lagi, klara rinto memaksa untuk duduk di samping rania.
"Ra..." ucap rania.
"Sudah lah cepat di mulai ijab kabulnya" ujar klara.
Dan karna si penghulu sudah sangat tak memiliki banyak waktu lagi karna ia akn menikahkan pasangan pengantin di kampung sebelah, ia kembali duduk dan memulai acara ijab kabulnya.
"Bagaimana saksi sah?" Tanya sang penghulu pada para saksi.
"Sah"
"Sah"
"Sah" ucap para saksi dan mereka berdua di tuntun untuk mengucap janji suci pernikahan dan akhirnya acara selesai semua kembali ke rumah rania untuk mengadakan acara resepsi, rinto yang samasekali tak menginginkan pernikahan palsu itu ia nampak sangat tidak bahagia.
Para tamu undangan yang tak pernah melihat wajah calon suami rania mereka mengira rinto yang benar-benar ingin di nikahi rania, semua para tamu undangan tak hentinya mengagumi ketampanan rinto.
"Nia suami kamu ganteng banget!" Tapi rania tak menjawab ia hanya diam dan melirik rinto di sebelahnya.
Malampun tiba rinto tengah berada di kamar rania ia duduk di tepi kasur yang biasa di tiduri rania, tiba-tiba rania datang ia menghampiri rinto.
"Maaf apa anda mau makan atau mau minum?" Tanya rania.
"Aku akan pulang ke villa" ucap rinto.
"Tapi kenapa?" Tanya rania"
"Kenapa? Ya karna tugasku sudah selesai" ucap rinto.
"Tapi..."
"Apa lagi?" Tanya rinto terlihat kesal.
"Kita baru menikah" rania.
"Aku menikahimu karna di suruh klara" rinto.
"Tapi seengganya istirahatlah dulu di sini bagaimanapun sekarang mas ini suamiku ijinkan aku mengurusmu walau hanya satu hari ini saja" kata rania.
"Terserah" ucap rinto dengan ketus, tapu membuat rania tersenyum.
Malam semakin larut malam ini klara tidur di villa karna permintaan intan yang tak mau jauh dari neneknya meskipun ada bu indi, dan bu indi pun ikut menginap di villa karna bu indi juga merasa kangen pada cucunya yang baru lama ia tak jumpai sebenarnya sudah beberapa kali bu indi dan pak abdi datang ke jakarta untuk menemui cucunya karna rasa kangennya.
Malam itu intan tidur dengan bu indi karna bu indi yang sengaja menidurkan intan di tempat tidurnya, mereka tertidur sangat lelap.
To Be Continue
__ADS_1