
Pagi hari ke esokan harinya.
"Mas yakin mau pulang sekarang?" Tanya klara yang melihat rinto tengah berkemas.
"Iya sayang aku harus pulang" ucap rinto.
"Aku gak nemenin mas pulang sekarang!" Ujar klara.
"Gak papa kamu nikmatin aja dulu kebersamaan kamu sama keluarga di sini" rinto mengelus kepala klara dan tersenyum.
"Mas gak papa pulang sendiri?!" Klara seolah mengkhawatirkan rinto.
"Memangnya kenapa hemm?" Tanya rinto.
"Ya gak papa, takutnya mas rinto nyasar gitu!" Klara.
"Nyasar emang aku anak kecil, lagi pula aku kan di antar sopir om anggara, jadi aku langsung ke bandara gak harus kesana kemari dulu, udah kamu gak usah khawatir" ucap rinto.
"Ya udah kalau gitu mas hati-hati ya!" Seru klara.
"Iya sayang, di sana aku pasti kangen sama kamu dan juga intan" rinto memeluk klara begitu juga klara lalu rinto melepaskan pelukannya dan meraup kedua pipi klara, rinto melihat bibir klara yang merah muda ia mendekatkan bibirnya ke bibir yang ia lihat rinto mencium bibir klara dan saat mereka menikmati ciumannya tiba-tiba intan datang ke kamar rinto.
"Papah!" Panggil klara, sontak membuat rinto melepaskan ciumannya sesangkan klara sedikit menjauh dari rinto.
"Sayang ada apa?" Tanya rinto lalu menggendong intan.
"Bunda di cini! Juga?!" Ucap intan
"Iya sayang" klra.
"Papah! Tau gak yang ngacih boneka ini ada di depan, temannya bunda ituuuu..." ucap intan dengan cadel ia berkata dengan lucu di akhiri dengan bibir monyaong yang di sengaja.
"Tante?!" Ucap klara dan rinto bebarengan.
"Maksud intan ada teman bunda yang ngasih boneka ini di depan sana? Di depan villa ini?" Tanya klara pada intan yang dalam gendongan rinto, dan ternyata memang benar bu mar datang ke kamar mencari rinto untuk memberitahukan bahwa ada rania ke villa dan rinto.
"Maaf pak ada rania mencari bapak di depan" kata bu mar.
"Mencari saya!?" Rinto dan klara saling melirik.
__ADS_1
"Iya pak" bu mar.
"Ya udah yu kita kesana!" Ajak rinto seraya meraih koper yang akan di bawanya tanpa melepas intan dari gendongannya.
" biar kopernya aku yang bawa" tawar klara, klara membawa koper rinto mereka keluar dari kamar, benar saja di ruang tamu terlihat rania duduk ditemani bu karina.
"Nia!" Seru klara.
"Ra kirain di rumah orang tua kamu" ujar rania.
"Mau nya sih gitu tapi ini nih biasa anaku gak mau jauh2 dari neneknya jadi semalam aku sama ibu nginep di sini"
"Oh bu indi di sini juga?"
"Sekarang udah pulang, oh iya kamu sendiri ada apa kemari?" Tanya klara.
"Aku di suruh umi mengantar ini untuk pak rinto" rania mempelihatkan rantang yang berisi makanan untuk rinto.
"Oh..." ucap klara.
"Aku sudah makan lagi pula aku mau berangkat untuk kembali ke jakarta" ucap rinto.
"Aku harus kembali ke jakarta hari ini" rinto masih belum menurunkan intan.
"Papah intan mau turun" pinta intan lalu rinto menurunkannya.
"Iya sayang" dan turunlah intan dari gendongan rinto.
"Pak aku ikut!" Ucap rania.
"Maksudmu?" Tanya klara.
"Iya aku mau ikut kesana" kata rania.
"Ra kamu gak salahkan?" Klara.
"Ra aku mau ikut kesana aku malu kalau aku di sini aku malu dengan statusku aku wanita yang sudah menikah tapi tak ada suami" ucap rania yang mulai menitikan air mata, rinto yang tak pernah tega melihat wanita manangis ia merasa kasihan pada rania.
"Sayang bagaimana menurutmu?" Tanya rinto pada klara.
__ADS_1
"Terserah mas" klara.
"Aku mohon aku hanya ikut dari sini, setelah sampai di sana aku akan mencari pekerjaan atau aku bisa bekerja di rumah anda" pinta rania pada rinto.
"Mas ajak rania ikut dengan mu" klara.
"Kamu yakin nyuruh aku ikut denganku?" Tanya rinto.
"Iya mas dia sahabat aku, nia ada benar nya juga dia akan malu tinggal disini dengan statusnya seperti sekarang" tukas klara.
"Baiklah kamu boleh ikut denganku" akhirnya rinto mengajak rania untuk ikut dengannya.
"Terima kasih pak, kalau begitu aku akan pulang dan bersiap-siap, rania dengan segera ia kembali kerumahnya untuk membawa barang yang akan di bawanya dan berpamitan pada orang tua dan kerabatnya.
Dan akhirnya rania ikut dengan rinto ke jakarta tanpa klara sesampainya di jakarta rinto membawa rania ke apartemennya rania terlihat lemas karna mabok perjalanan untung rinto sigap terhadapnya ia mengurus rania yang mabok dalam pesawat mau pun di mobil tanpa mereka sadari kalau mereka sepasang suami istri.
"Kamu bisa istirahat di kamar ini" rinto menunjukan salah satu kamar di apartemennya.
"Iya terima kasih" ucap rania.
"Apa kamu masih pusing?" Tanya rinto.
"Udah agak mendingan" jawab rania.
"Kalau kamu masih pusing disana ada ada kotak obat untuk menghilangkan rasa pusing kamu minum lah dan istirahat yang cukup nanti aku suruh orang untuk membali makanan untuk mu" ujar rinto.
"Pak anda sendiri mau kemana?" Tanya rania.
"Aku mau ke rumah sakit" jawab rinto.
"Rumah sakit untuk apa? Apa anda sakit!?" Rania penasaran.
"nggak aku ada urusan, kamu taukan aku seoranga dokter jadi ada yang harus aku urus di sana"
"Jadi anda juga seorang dokter?" Rania kaget mendengar kalau rinto juga seorang dokter karna ia baru mengetahuinya.
"Iya, ya sudah aku tinggal dulu" ujar rinto, rania menganggukan kepalanya dan rintopun dengan segera ia pergi meninggalkan rania sendiri di apartemennya.
"Jadi dia juga seorang dokter seperti suaminya klara, eh bukannya klara itu istrinya dokter reyhan?! tapi kenapa dia di panggil sayang oleh pak rinto? dan intan juga manggil pak rinto dengan sebutan papah bukankah ayahnya intan itu dokter reyhan?! apa Intan anak klara dari pak rinto? iya mungkin begitu karna klara pernah bilang kalau klara sama dokter reyhan sudah lama pisah, lalu bu karina itu siapa? Orang tua dokter reyhan atau pak rinto?, dan kalau pak rinto suami klara kenapa dia tega menyuruh suaminya menggantikan laki-laki yang akan menikahiku? Kalau memang benar klara sekarang istrinya pak rinto itu artinya aku madu nya klara, ya ampun klara aku minta maaf mungkin aku sudah menyakitinya dengan aku ikut kesini tanpa dia di sini! Akhh aku gak ngerti mungkin sebaiknya aku tanya langsung pada pak rinto" Rania terus bertanya-tanya sendiri dalam kesendiriannya, lalu klara masuk ke kamar yang di tunjukan untuknya, ia pun mencari obat yang di maksud rinto.
__ADS_1
To Be Continue