Dokter Dan Gadis Kampung

Dokter Dan Gadis Kampung
52 keputusan klara.


__ADS_3

Di ruang makan.


"Bagaimana tadi bu di perjalanan?" Tanya bu karina.


"alhamdulillah terima kasih kami sudah di jemput sampai kesini dan perjalanan kami sangat menyenangkan" jawab pak abdi.


"syukurlah" kata bu karina.


"cuman saya heran sebelum naik pesawat kenapa saya gak di suruh beli tiket dulu, dan di dalam pesawatnya juga kenapa gak seperti pesawat yang seperti saya lihat di tv-tv" ucap bu indi membuat semua yang ada sanapun tertawa, namu tidak dengan ali ia terlihat malu dengan ucapan ibunya yang polos persis seperti Klara.


"tapi ibu gak mabokan?" Tanya klara.


"nggk, boro-boro ibu mabok ibu gak sempet, soalnya ibu sibuk liatin isi pesawatnya" kembali mereka tertawa" bu indi semakin mengahatka rumah itu di pagi hari.


"bu sudah ah" bisik ali pada ibunya karna ia malu dengan celotehan ibunya begitu juga pak abdi.


"ini pasti nak reynant?" ucap bu indi.


"iya bu ko ibu tau!" tanya reynant.


"karna nak reynant sangat mirip dengan dokter reyhan" jawab bu indi.


"kirain kak klara suka ngegosipun aku" ucap reynant.


"iya klara suka ngegosip jaka ia menelpon katanya adiknya dokter reyhan namanya reynant dia juga tampan dan sangat baik pada klara" bu indi.


"oya memang itu kenyataan sih kalay soal tampan kalau soal baik itu sih kewajaran aja karna aku adiknya" celoteh reynant.


Pagi itu di ruang makan nampak ceria dan hangat dengan kehadiran keluarga klara.


Setelah selesai makan klara masuk ke kamarnya untuk memberikan asi pada anaknya tak lama bu indi pun selesai dan menyusul klara ke kamarnya setelah bayi klara selesai menyusu bayi klara di gendong bu indi, dan tak lama juga datang pak abdi dan ali pun masuk ke kamar tersebut, lalu klara teringat sesuati yaitu soal perjanjian nya dengan reyhan sebelum menikah.


Di kamar klara menceritakan soal pernikahannya dengan dokter reyhan klara menceritakan soal perjanjian pranikahnya pada orang tua nya.


"ya allah klara! jadi kamu punya perjanjian seperti itu kenapa kamu gak bilang sama kita" ali kaget mendengar ucapan klara.


"bapak tau soal itu" ucap pak abdi.


"apa! kenapa bapak gak bilang sama ali" kata ali.


"iya bapak minta maaf karna bapak gak mau kalian kepikiran soal klara" jawab pak abdi.


"klara kamu gak bisa tinggal di sini lagi, dengan perjanjian itu secara hukum agama sudah jatuh talak reyhan satu terhadapmu setelah anakmu lahir" ujar ali memberitahu adiknya.


"iya bang klara tau, klara juga sudah bicara sama mamah dan ayah di sini" klara.


"lalu" ali.


"mereka bilang mereka akan terus mempetahankan pernikahan aku sama dokter reyhan" klara.


"percuma di pertahankan klara, dia gak mencintaimu dia hanya ingin bertanggung soal anakmu saja, klara ini penghinaan bagi keluarga kita seolah-olah hanya kamu yang bersalah" tukas ali.


"tapi bang!" Ucapan klara di potong oleh ali.

__ADS_1


"tapi apa? kita pulang ke kampung kamu gak bisa tinggal di sini lagi" kata ali.


"keluarga ini gak mau berpisah dengan cucunya, kasihan mamah sangat menyayangi anaku" ucap klara.


"mereka masih bisa menemui cucunya kapan pun, kita juga gak akan melarangnya kan?!" Ujar ali sedangkan pak abdi hanya diam mendengar anak laki-lakinya menasihati adiknya.


"tapi bang mamah bilang mamah akan membuat dokter reyhan benar-benar mau mengakui klara sebagai istrinya dan rujuk dengan klara" kata klara.


"iya aku tau mertuamu sangat baik padamu, tapi belum tentu anaknya mau melakukan apa yang di inginkan orang tuanya sekarang abang tanya sama kamu, dimana suamimu?" Tanya ali.


"di korea" ali menjawab pertanyaannya sendiri dengan kesal klara menganggukan kepalanya.


"bukankah dia orang kaya yang memiliki segala kemudahan untuk pergi kemanapun bahkan keluarga ini punya pesawat pribadi, mana? apa dia pulang ketika mendengar kamu sudah melahirkan?! nggk kan dia hanya mementingkan dirinya sendiri" ali semakin kesal dengan semua perlakuan reyhan pada adiknya.


"Klara!!! masih banyak laki-laki yang baik yang pantas jadi suami kamu kelak" ali terus membuat pengertian pada adik semata wayang nya itu.


"biar abang sama bapak yang bicara sama mertua kamu" ucap ali kali ini klara hanya diam mendengar ucapan abangnya ali terlihat kesal mendengar sikap reyhan yang tak adil pada adiknya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar pembicaraan mereka, bu karina mendengar pembicaraan keluarga klara saat akan menemui mereka di kamar klara, kebetulan pintu kamar klara tak tertutup rapat bu karina mengurungkan niatnya untuk masuk ia menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan mereka mengenai perjanjian pranikah klara dan reyhan, bu karina mendengarkan di balik pintu.


"bagaimana ini?! aku gak mau cucuku di bawa aku harus berbuat sesuatu" ucap bu karina lalu ia pergi dari sana lalu menemui suaminya yang tengah berada di ruang kerja.


"yah" panggil bu karina saat membuka pintu ruang kerja sauminya.


"mamah!! ada apa ayah kaget lo?" kata pak anggara.


"ayah cucu kita mau di bawa dari sini!" seru bu karina, pak anggara kembali di kagetkan dengan ucapan istrinya ia langsung berdiri dari duduknya .


"di bawa kemana?" Tanya pak anggara.


"sudah lah mah jangan nangis dulu" saat pak anggara berusaha membuat istrinya tidak menangis pintu ruang kerja pak anggara di ketuk.


"masuk! ada apa?" Tanya pak anggara pelayan yang baru datang sedikit membungkukan badannya.


"maaf tuan bapak dan abang nya non klara mau bicara sama tuan" jawab pelayan di balk pintu.


"iya ajak ke ruang tengah nanti saya kesana!" seru pak anggara.


"baik tuan" pelayan tersebut lalu kembali dari ruangan pak anggara.


"ayah mereka akan membicarakan soal perjanjian itu" kata bu karina.


"iya sudahlah mah kita kesana dulu" ucap pak anggara lalu pak anggara pergi dari ruangan tersebut untu menemui besannya yang sudah menunggu di ruang tengah bu karina mengikuti suaminya.


Di ruang tengah sudah ada pak abdi dan ali pak abdi dan ali berdiri saat melihat besannya datang.


"gak perlu sungkan pak silahkan duduk" ucap pak anggara.


"terima kasih" kata ali lalu kembali mereka menghenyankan pantatnya di sofa yang empuk itu.


"ada apa pak? apa ada yang penting?" Tanya pak anggara.


"sebelumnya maaf jika kami mengganggu" ucap ali.

__ADS_1


"oh enggak, kebetulan saya masih di ruang kerja saat sri memanggil saya ada apa memangnya pak" tanya pak anggara penasaran padahal dia sudah atau dari istrinya apa yang di katakan dua orang di hadapannya ali melirik pak abdi saat akan bicara pak abdi menganggukan kepala sebagai kode bahwa saatnya untuk bicara saat melihat anaknya melirik ke arahnya.


"begini pak bu saya ingjn membicarakan soal pernikahan adik saya dengan anak kalian" ucap ali.


"iya kenapa?" pak anggara pura-pura belum tau dulu.


"mereka kan sudah membuat perjanjian bahkan klara sempat menandatangani surat perjanjian yang di tulis dokter reyhan" ujar ali.


"oh soal itu, klara sudah memberitahukannya pada kami" kata pak anggara.


"lalu bagaimana menurut bapa?" Tanya ali.


"jadi begini..., kami akan membuat surat perjanjian itu tidak berlaku pernikahan klara dan reyhan akan terus berlanjut" ucap pak anggara.


"tidak pak, mereka sudah membuat perjanjian itu sebelum mereka menikah dan menurut agama sekarang mereka sudah bukan suami istri lagi" ali menegaskan.


"iya kami mengerti dengan itu, tapi reyhan, dia tidak tau dengan hukum agama yang sebenarnya jadi kami tidak akan memberi tau reyhan soal ini" kata pak anggara.


"maksud anda" ali tidak mengerti dengan ucapan pak anggara.


"jadi begini mungkin reyhan tidak tau jika dengan perjanjian itu dia sudah benar-benar menjatuhkan talak terhadap klara saat anaknya lahir, yang dia tau perceraian itu hanya bisa di ucapkan langsung hari itu juga dan mesti ke pengadilan agama, jadi kami akan berencana untuk membuat reyhan seolah ia belum menceraikan klara dan kami akan membuat reyhan kembali menikahi klara untuk yang kedua kalinya" kata pak anggara.


"iya pak kami tidak akan membiarkan cucu kami menderita karna perceraian orangtuanya" sambung bu karina.


"maaf pak, bu, kami memang orang susah tak seperti keluarga ini yang bergelimang harta tapi kami tidak akan membiarkan anak kami sengsara" ali menekankan perkataannya.


"bukan begitu maksud saya, saya tau gak mungkin keluarga pak abdi menelantarkan cucunya sendiri saya tau itu, maksud saya jika klara dan reyhan bercerai pasti suatu saat anaknya akan menanyakan mengapa orang tua nya berpisah dia pasti akan sedih ketika dia mengerti bahwa dia terlahir dari orang tua yang sama sekali tidak saling menyayangi dan menikah karna terpaksa tukas bu karina menjelaskan pada ali dan pak abdi agar tak salah paham.


"maaf bu tapi kami tidak mau jika klara hidup dengan orang yang merasa sama sekali tak pernah mengharapkannya" ucap ali sedangkan pak abdi hanya mendengarkan sambil menganggukan kepala tanda setuju dengan ucapan anaknya.


"saya akan berusaha untuk membuat anak saya reyhan mencintai klara dan saya juga yakin kalau klara juga mencintai reyhan" kata bu karina.


"pak, bang sudah lah" tiba-tiba klara dan bu indi muncul sembari menggendong anaknya.


"klara sini sayang!" seru bu karina lalu klra pun duduk di samping bu karina.


"pak, bang, ayah, ibu klara tau kalian semua menyayangi kami tapi klara punya keputusan sendiri setelah syukuran aqiqah dan pemberian nama anaku klara akan pindah daei sini klara akan tetap di jakarta tapi klara gak akan tinggal di sini, maaf mah klara bukanya tak menghargai apa yang di berikan mamah untuk klara, tapi klara harus tau diri kalau sekarang klara bukan siapa-siapa lagi di rumah ini" tukas klara.


"sayang kamu tetap menantu mamah dan kapan pun kamu akan tetap menjadi menantu mamah bahkan mamah menganggap kamu seperti anak sendiri" bu karina mulai menitikan kembali air matanya sembari memandang semu wajah klara.


"klara kamu mau tinggal di mana?" Tanya ali.


"klara akan ngontrak rumah klara akan mulai hidup mandiri klara akan buka usaha sendiri dengan tabungan klara yang klara dapat dari hasil klara main film waktu itu" ucap klara.


"kamu yakin?" ucap bu indi.


"ibu tenang saja kali ini anak ibu sama bapak sudah bisa hidup mandiri dan mah klara akan kasih waktu sampai dokter pulang jika dokter benar-benar peduli dia akan pulang melihat anaknya dan mengatakan rujuk pada klara" kata klara dan jika dokter pulang dan tak mengharapkan rujuk dengan klara, klara minta maaf klara akan pulang kekampung" kata klara.


"klara kamu yakin dengan keputusan kamu!" sekali lagi ali menekankan.


"iya bang klara gak mau jika suatu saat anak klara di sebut sebagai anak korban percerain dan klara gak bisa mengatakan apa-apa pada nya kelak" klara menatap wajah bayinya yang masih merah itu dan mengelus pipiny sambil menangis.


"baiklah kalau begitu keputusan kamu kami akan menghargai" ucap pak anggara.

__ADS_1


"yah sudhlah kalau begitu abang juga akan menyutujui keputusan kamu" kata ali.


"klara kami akan selalu bersama kamu" ujar bu karina dan akhirnya malam itu pembicaraan selesai.


__ADS_2