
Seorang dokter muda tampan mapan penuh pesona terlahir dari keturunan keluarga yang tak bisa di pandang sebelah mata.
Tak sedikit orang yang mengaguminya tak sedikit pula para gadis yang berharap menjadi kekasihnya seperti seorang dokter cantik dari kalangan keluarga kaya raya, dokter cantik tersebut juga anak dari rekan bisnis reyhan yang cukup berkuasa, namanya alina angelista sebut saja alin ia selalu berharap untuk jadi kekasih reyhan, setiap reyhan berkunjung ke rumah sakit tempatnya alina bekerja sebagai seorang dokter alin selalu merasa bahagia, hatinya selalu berdebar ketika melihat reyhan alina jatuh cinta pada reyhan.
Alina berusia 27 tahun alina menengenal reyhan saat ia di korea alina selalu di bantu oleh reyhan selalu mendapat pengarahan dari reyhan alina juga di tempatkan di rumah sakit miliknya oleh reyhan atas ijin dinas kesehatan.
Pagi itu reyhan datang ke rumah sakit tempat alin bekerja alin begitu semangat karna ia mendengar kalau pria idamannya akan berkunjung.
Dengan dandanan yang memukau karna sebelum berangkat sang dokter cantik mengoleskan make up di wajahnya melebihi dosis sebelumnya makin menambah kecantikannya dan semakin terlihat mempesona dan siap menyambut kedatangan reyhan yang sebenarnya ia datang bukan untuk bertemu alin reyhan kesana karna ada suatu hal yang harus ia selesaikan.
Alin melihat reyhan berjalan memasuki ruang dirut rumah sakit yang di ikuti beberapa pengawal di belakang dan di depannya, alin tersenyum, hatinya berdebar kencang ketika melihat reyhan, sudah hampir tiga bulan alin tak bertemu reyhan setelah kepulangannya dari korea, selama di korea alin sering bertemu reyhan dan disanalah alin mengagumi reyhan dan ia pun merasa kalau reyhan juga menyukainya.
"Aku akan menemui dia" ucap alin berkata sendiri kemudian ia berjalan menuju ruang dirut.
"Maaf anda mau bertemu siapa?" Tanya salah satu pengawal reyhan yang berjaga di depan pintu ruangan reyhan.
"Aku dokter alina mau bertemu dokter reyhan" jawab alin.
"Sebentar" pengawal merogoh ponsel dari dalam jasnya kemudian menelpon salah satu pengawal yang berada di dalam, setelah mendapat jawaban sang pengawal membukakan pintu dan mempersilahkan alin masuk untuk bertemu reyhan atas ijin reyhan sendiri.
"Dokter reyhan!" Sapa alin sambil berlari kecil menghampiri reyhan yang sedang duduk di kursi kebesarannya reyhan tersenyum memandang alin, reyhan berdiri dari duduknya lalu alina memeluk reyhan tanpa ragu.
"Iya iya" ucap reyhan sembari melepaskan pelukan alin karna ia merasa risih di lihat para pengawalnya dan juga asistennya.
"Aku kangen sama dokter" ucap alin.
"Ada apa kamu menemuiku?" Tanya reyhan.
"Aku kangen aja" jawab alin dengan tangan kembali akan memeluk reyhan reyhan menolak untuk di peluk lagi oleh alin.
"Dokter!" Panggil alin pada reyhan yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Hemm" reyhan dengan pandangn fokus kembali pada layar laptopnya.
"Dokter nanti kita makan bareng aku ya" ajak alin.
"Gimana nanti saja"
"Ayolah kita kan udah lama gak ketemu" rengek alin.
"Iya" reyhan terpaksa mengiyakan.
"Beneran ya" alin.
"Iya alinaa" kembali reyhan mengiakan.
"Makasih dok" ucap alin, alin memeluk bahu reyhan yang tengah duduk di kursinya, alin merasa senang.
"Sekarang kamu bisa kembali ke pekerjaanmu banyak pasien yang menunggu, aku gak mau mereka kecewa karna kesalahan satu orang dokter" reyhan menegaskan.
"Iya baiklah aku akan segera ke sana" dengan terpaksa alina pergi dari ruangan reyhan tapi ia juga senang karna siang nanti reyhan akan makan siang dengannya.
P**ukul 12.15 Siang**
Reyhan baru selesai mengadakan rapat dengan para dokter ahli dan juga para stap rumah sakit tersebut, reyhan lalu masuk kembali ke ruangannya reyhan melihat ponselnya ada beberapa pesan masuk termasuk alin namun tak ada pesan dari klara karna ia tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Dasar wanita bodoh kemana dia? Bukankah aku sudah bilang kalau aku menyuruhnya untuk membawakan makan siang kesini" ngedumel sendiri.
Reyhan melihat pesan masuk dari alin "dok kita jadi ya makan siang bareng" isi pesan alin. Kemudian reyhan membalas pesannya.
"Iya" balas reyhan singkat.
"Aku tunggu di restaurant ******"
"Oke"
Tak memakan waktu lama reyhan segera pergi menuju restaurant yang di sebutkan alin, mereka pun bertemu di sana alin merasa senang karna ia bisa kembali menikmati makan siang bersama reyhan setelah beberapa bulan tak bertemu alin duduk di samping reyhan.
Makan siang pun selesai makanan yang di pesan reyhan dan alina sudah berpindah keperut masing-masing.
__ADS_1
Reyhan mengajak alin untuk pukang namun alin menahan reyhan.
"Dok sebentar lagi ya, aku masih mau di sini sama dokter" ucap alin.
"Tapi pekerjaan kamu!"
"Dok inikan masih jam istirahat, lagi pula aku kan perginya sama dokter reyhan sang pemilik rumah sakitnya tempat aku kerja jadi gak ada yang mempermasalahkan" celoteh alin sambil bergelayutan di lengan reyhan.
"Baik lah sampai waktu istirahat habis setelah ini kita kembali ke rumah sakit karna kamu sebagai seorang dokter harus profesional jangan karna kamu kenal aku terus dengan seenak kamu meninggalkan kewajiban kamu" tukas reyhan.
"Iya iya" alin cemberut.
"Jangan cemberut tambah monyong tuh bibir" ledek reyhan.
"Ihh dokter" ucap alin manja, reyhan tersenyum melihat alin bertingkah manja padanta seolah tak menyadari jika alin menyukainya.
Saat reyhan meikmati moment kebersamaannya dengan alin ada sepasang mata yang memperhatikan dengan jarak tak cukup jauh dari tempatnya reyhan dan alin nampa jelas bagaimana reyhan memperlakukan alin.
Dua pasang mata itu milik klara seorang wanita yang baru kemarin di ajak rujuk oleh reyhan bahkan sempat memberikan ciuman, klara merasa kesal pada reyhan entah kenapa perasaannya yang dulu ia rasakan kembali lagi, persaan tak karuan saat reyhan mengagumi wanita lain ketika ia masih istri reyhan.
Di sana klara tak sendiri ia di temani bu laras manager bu shapira dan sudah hampir selesai menikmati makanan nya melihat klara sedari tadi belum menyentuh makanannya bu laras merasa aneh.
"Klara kenapa makanan nya gak di makan? gak suka? Biar aku pesankan makanan lain!" Tawar bu laras.
"Gak usah bu gak usah aku cuma lagi gak napsu makan aja" tolak klara.
Karna jarak meja klara dan reyhan tak cukup hanya terhalang dua meja reyhan dapat mendengar suara klara meski aga samar tapi ia dapat mengenali suara klara dan ia juga sempat mendengar seseorang menyebut klara.
Reyhan mencari sumber suara namun tak menemukan sumber suara yang ia dengar, saat orang di sebrang meja reyhan pergi terlihat klara tengah bersama seorang wanita, reyhan tersenyum ke arah klara, klara terlihat tak memperdulikan reyhan lalu ia mengajak bu laras keluar dari restaurant.
Reyhan tak aneh dengan sikap klara karna ia pikir klara masih belum siap menerima dirinya kembali, reyhan tak menyadari bahwa klara marah karna alin yang selalu bergelayutan pada reyhan.
S**iang berlalu berganti malam**.
Klara beristirahat di kamar tiba-tiba ia merasa lapar karna dari pagi belum makan akibat matanya harus melihat pemandangan yang tak mengenakan saat ia akan menikmati makanan di restaurant bersama bu laras, karna merasa perutnya semakin keroncongan klara pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan ia membuka kulkas tak ada beberapa makanan yang bisa di makan hanya sekedar mengganjal perut, klara mengambil makanan dan juga minuman di kulkas lalu ia membawanya ke balkon klara duduk di kursi yang ada di balkon ia merasa sepi di sana biasa selalu terdengar suara intan yang cerewet kini ia hanya bisa mendengar dan melihatnya lewat panggilan vidio setelah itu kembali sunyi dan bi siti juga ia terpaksa harus pulang kampung.
"Apa aku di takdirkan seperti ini, sendiri tanpa kekasih tanpa seorang pria yang akan mendampingiku di masa tua" gumam klara lalu ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.
Ditengah lamunannya tiba-tiba klara di kagetkan dengan sentuhan tangan yang melingkar di pinggangnya, spontan ia berbalik dan ketika ia berbalik klara melihat jelas wajah seorang laki-laki yang tengah ada dalam pikirannya kini berada di depan wajahnya.
"Dokter" bentak klara seraya melepas tangan reyhan dari pinggangnya.
"Ya aku dokter" kata reyhan.
"Bisa nggak, gak ngagetin orang?" Klara.
"Aku gak ada niat ngagetin kamu, kamu aja panik gak karuan" jawab reyhan.
"Ngapain dokter kesini malam-malam?" Tanya klara.
"Untuk Ketemu kamu" jawab reyhan datar.
"Ngapain ketemu aku?" Klara terlihat kesal.
"Ya aku mau aja ketemu kamu" reyhan.
"Aku gak suka di temuin, lagi pula temuin aja tuh perempuan yang tadi anda ajak makan siang! Ops udah puas kali ya? seharian bersamanya makanya datang kemari" cetus klara dengan raut wajah masam.
"Perempuan mana?" Tanya reyhan.
"Parempuan ma-naa! Sok sok lupa" klara mengulang kata reyhan dengan judes.
"Tunggu! maksud kamu si alin?"
"Mungkin, mana aku tau nama tuh perempuan pake nanya lagi!"
"Kamu cemburu?!"
"Cemburu!? Siapa yang cemburu aku cuma mengingatkan!" Klara.
__ADS_1
"Mengingatkan apa?"
"Ya mengingatkan kamu sama dia"
"Gak perlu di ingatkan sama kamu juga, aku pasti ingat"
"Ya udah pergi sana temuin dia lagi pula ngapain datang kesini, aku juga mau tidur gak penting ngobrol sama orang yang hati dan pikirannya kesana kemari" klara mengusir reyhan lalu ia masuk, reyhan mengikutinya, karna reyhan melihat kecemburuan di wajah klara,
Reyhan menarik tangan klara seperti biasa reyhan memeluknya seperti yang sudah ia lakukan.
"Lepas lepas! aku gak suka di peluk sama kamu aku jiji tubuh kamu itu pasti bekas meluk wanita itu seharian, aku gak mau di peluk sama kamu" klara terus meronta. mendengar klara berkata demikian reyhan melongarkan pelukannya klara pun dengan mudah melepaskan diri.
"Wanita mana maksud kamu?"
"Wanita itu, seharian kamu bersamanya badan kamu bekas wanita itu iyakan?" Ucap klara dengan nada tinggi setengah teriak, ia menangis dengan menutupi mukanya lalu berlari hendak menuju kamar, reyhan mencegahnya dan kembali memeluknya.
"Lepas! lepaskan aku!"
"Klara dengarkan dulu! aku gak bersamanya seharian bahkan aku kesana pun dengan mobil berbeda dia itu bukan siapa-siapa aku, dia seorang dokter yang bekerja di rumah sakitku kalau kamu gak percaya kamu tanya orang-orang yang bekerja di sana apa hubungan aku sama dia"
"Ngapain aku nanya-nanya?" Klara memandang wajah reyhan dari pelukan reyhan yang belum lepas.
"Ya biar kamu gak cemburu buta kaya gitu!" Jawab reyhan dengan mata yang kini beradu tatap.
"Sudah aku bilang aku gak cemburu" elak klara.
"Terus kenapa marah-marah lihat aku lagi sama wanita lain?" mendengar pertanyaan reyhan pipi klara memerah karna malu ia merasa apa yang di katakan reyhan benar kenapa harus marah saat melihat reyhan dengan perempuan itu? pikirnya klara membenamkan wajahnya di dada reyhan yang belum melepas pelukannya.
Tiba-tiba "kurucuk kurucuk kurucuk" terdengar suara perut klara yang minta di isi.
"Kamu belum makan" tanya reyhan. Klara mengelengkan kepalanya.
"Dari kapan?"
"Dari pagi"
"Memangnya gak ada bahan makanan di kulkas?"
"Ada tapi aku males masak"
"Ya sudah kita cari makan di luar"
"Tapi ini sudah malam!"
"Baru jam sepuluh"
"Tuh kan sudah malam"
"Ini jakarta, jam segini jangankan restaurant yang masih buka bayi aja masih berkeliaran di luar"
"Masa si bayi jam segini masih pada di luar.
"Udah ayo kita cari makan" ajak reyhan.
"Aku ganti baju dulu"
"Gak usah gitu aja"
"Gini aja! pake baju tidur?"
"Iya, ribet amat cuma mau makan doang"
"Aku bawa uangnya dulu"
"Klara! kamu sebenarnya mau makan sama aku, atau sama orang orang kere, cuma buat makan kamu doang sama restaurantnya aku bisa beli" celoteh reyhan dengan sombongnya.
"Ayok" reyhan menarik tangan klara membawanya keluar.
To Be Continue
__ADS_1