
Pagi hari ke esokan harinya di villa
Semua penghuni sibuk dengan aktifitasnya masing-masing bu mar sudah datang seperti biasa bu mar membereskan rumah bersih-bersih, bi siti sibuk dengan menyiapkan semua kebutuhan intan,dan kini bertambah dengan kehadiran kedua tuan mudanya karna ia juga harus menyiapkan semua kebutuhan kedua tuannya klara dengan bu karina sibuk di dapur, menyiapkan sarapan.
Sedangkan katiga sang pangeran dari kerajaan anggara masih di kamarnya menikmati mimpi yang belum usai entah.
Setelah selesai menyiapkan sarapan bu karina membangunkan suaminya usai membangunkan pak anggara bu karina kembali ke dapur tapi ada yang ia lupakan yaitu membangunkan kedua putranya yang masih di kamar.
"Sayang mamah bisa minta tolong bangunkan rey sama han gak" bu karina.
"Iya mah" saat klara hendak menaiki anak tangga klara melihat reynant turun dengan badan yang terlihat segar.
"Abangmu mana?" Tanya klara.
"Bang han?" Reynant balik nanya.
"Iya siapa lagi" klara.
"Masih bikin pulau" reynant.
"Bangunin gih! di suruh mama!" Seru klara.
"Males ah kak rey udah tanggung nyampe sini" tolak reynant.
"Huhh dasar males" klara
"Emang rey males!" reynant.
"Dasar" klara terlihat kesal, lalu klara terpaksa pergi kekamar yang di tempati reyhan, klara beberapa kali mengetuk pintu kamar reyhan namun tak ada jawaban lalu klara menarik gagang pintu kebetulan pintunya gak di kunci setelag pintu di buka klara melihat reyhan yang masih tertidur pulas dengan berbalut selimut tebal.
Klara merasa canggung saat akan membangunkannya lalu dengan Klara pelan membangunkannya.
"Dok dok dokter dokter" ucap klara seraya mengoyangkan lengan reyhan yang tak tertutup selimut namu belum juga bangun kembali klara membangunkannya.
"Dok dokter bangun dok, iihhhh susah banget sih di banguninnya kaya orang mati, apa beneran dia mati kali ya" gerutu klara dengan kesal.
"Tapi masa ia sih dia aku panggil mama dulu deh" kata klara, dan saat klara hendak pergi tiba-tiba "hap" tangan klara di raih reyhan dan menarik tubuh klara ke pelukannya yang masih terbaring.
"Aaaa..." teriak klara untung teriakannya tak terlalu kencang hingga tak terdengar yang lain, pandangan mereka saling beradu jantung klara berdebar kencang saat menatap reyhan begitu juga reyhan untuk pertama kalinya reyhan merasakan detakan jantung yang begitu hebat saat berdekatan dengan klara namun bukan karna penyakit jantung.
"Dokter"
"Kenapa masih mengira aku mati"
"Emmhh maaf" klara menyadari jika tubuhnya berada di atas tubuh reyhan.
Namun reyhan tak melepaskannya begitu saja reyhan semakin mendekap tubuh klara.
"Dok lepaskan!" Seru klara sembari terus meronta.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dok nanti di lihat intan atau yang lain gak enak" ucap klara.
"Aku gak peduli"
"Dok lepaskan aku, aku bukan istrimu sekarang, lagi pula selama aku jadi istrimu aku gak pernah merasa di peluk seperti ini" mendengar ucapan klara reyhan langsung melepaskan pelukannya klara pun merasa aneh kenapa dengan ucapan itu reyhan langsung melepasnya klara kemudian bangkit namun pelan-pelan sambil memandangi mimik wajah reyhan yang terlihat aneh bukan marah tapi juga bukan kecewa seperti terlihat sedih setelah berhasil turun dari tubuh reyhan klara segera pergi, reyhanpun bangkit dan duduk di tepi kasur menundukan kepalanya dengan tumpuan kedua telapak tangan dengan jari menjambak rambut bagian depannya.
Setelah sarapan reyhan duduk di kursi taman belakang dan di hampiri pak anggara.
"Han" sapa pak anggara.
"Eh pah" sapa balik reyhan.
"Han bagaimana rencana kamu kedepan?" Tanya pak anggara.
"Entah lah pah, rey fokus pada perusahaan han disini sekarang yang sempat han lalai kan"
"Bagus han kamu harus kembali angkit"
"Oh iya pah rencananya hari ini han mau merenovasi rumah dinas yang dulu pernah han tempati itu"
"Ya terserah kamu lakukan apa yang terbaik buat kamu!"
"Terima kasih pah"
"Intan! kenapa?"
"Apa kamu serius mengakui intan sebagai anakmu?"
"Kenapa papah bertanya demikian? Ya jelaslah han serius karna dia anak han pa"
"Ya papah sama mama kamu sudah tau bagaimana sipat kamu yang tak pernah mau mengalah dengan keadaan sepahit apapun"
"Maksud papa?"
"Perjuangkan lah apa yang menurut kamu baik dan yang benar-benar kamu inginkan dan jangan sampai kamu salah lagi dalam menyikapi hidup seperti dulu mengejar yang tak pantas kamu kejar"
"Iya pa, han tau sekarang apa yang mesti han perjuangkan"
"Bagus" saat mereka asyik gobrol intan tiba-tiba datang menghampiri kakeknya.
"Akeh" teriak intan sambil berlari.
"Ada apa sayang?" Sang kakek bertanya pada cucunya yang berlari seperti sedang di kejar dan ternyata benar saja intan di kejar sang unkle.
"Intan secepat kilat naik ke pangkuan pak anggara lalu pak anggara memeluknya, intan melirik pada reyhan dengan seketika intan diam ia memandangi reyhan, reyhan tersenyum.
"intan mau main sama ayah?" reynant mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ayo ayah kejar intan!" Seru reynant pada reyhan, sengaja untuk mendekatkan reyhan dengan anaknya.
"Intan ayo lari... tar di tangkap ayah" reyhan menuruti permainan reynant untuk pertama kalinya reyhan bermain dengan anak kecil, dan yang pertama itu anak nya sendiri yaitu intan reynant sengaja membuat intan di tangkap ayahnya dan reyhan pun menangkap intan lalu menggendongnya intan tertawa lepas begitu juga reyhan dan reynant.
"Aduh ayah unkle cape" reynant mencelentangkan badannya di lantai yang berlapis marmer.
"Ayah juga cape" reyhan pun ikut selentang di lantai dekat reynant.
"Intan gak cape" ucap intan.
"Intan gak cape?!" Tanya reyhan.
"Nggak" jawab intan.
"Wah berarti intan dong yang menang" kata reyhan.
"Hore... hore... hore... intan menang" intan loncat kegirangan dengan kemenangannya, bu karina dan yang lainnya tersenyum bahagia melihat momen ayah dan anak, sampai-sampai bi siti sengaja merekamnya untuk kenangan karna menurut bi siti itu peristiwa langka saat di mana seorang dokter reyhan yang angkuh dan bersipat dingin tapi hari itu dengan semangatnya ia bermain kejar-kejaran dengan intan yang tak lain anaknya sendiri sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.
Seminggu berlalu reyhan berada di kampung nanglu
Selama di kampung nanglu reyhan semakin dekat dengan intan tapi intan belum pernah mendengar menyebut ayah pada reyhan meski sekarang semua orang di villa sengaja memanggil reyhan dengan sebutan ayah jika di depan intan namun tetap mulut intan seperti terkunci untuk menyebutnya ayah padahal biasanya anak kecil cenderung mengikuti bagaimana orang tua mengajarkan memanggil sebutan untuk seseorang.
Hari itu klara dan intan dari rumah orang tuanya menuju pulang ke villa di antar pak abdi menggunakan motor kesayangan pak abdi, saat melewati rumah dinas intan yang duduk di depan melihat ayahnya berdiri di halaman rumah dinas tersebut tengah memperhatikan rumah dinasnya yang baru selesai di renovasi.
"Abah itu...!" Tunjuk intan.
"Apa sayang?" Tanya pak abdi. Yang fokus mengedarai motornya tanpa melihat kanan kiri tiba-tiba intan memanggil reyhan.
"Ayah....!!!" Panggil intan pak abdi yang mendengar intan memanggil ayah langsung menghentikan motornya di tepi jalan.
"Bunda itu ayah dokter!' Tunjuk intan.
"Iya sayang intan mau ke ayah" intan menganggukan kepalanya lalu ia minta untuk turun dari motor.
Reyhan yang mendengar panggilan ayah, ia dengan segera menoleh ke sumber suara yang berada di belakangnya karna reyhan sangat hapal dengan suara intan meski baru bertemu.
Saat reyhan melihat intan yang turun dari motor reyhan sangat bahagia dengan segera reyhan menghampiri intan.
"Sayang tadi intan manggil ayah?" reyhan.
"Iya kalna intan lihat ayah doktel!" Ucap intan.
"Sayang gak usah pake dokter panggilnya ayah aja ya!" Kata reyhan.
"Iya ayah" mendengar intan memanggilnya ayah, reyhan sangat senang reyhan menciumi wajah intan beberapa kali.
"Ayah sayang sama intan" ucap reyhan di depan pak abdi dan klara, pak abdi dan klara tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu, meskipun pak abdi sempat kecewa dengan sikap reyhan yang pernah menelantarkan anak dan cucunya kalau bukan karna bu karina dan pak anggara yang terlalu baik pada klara mungkin pak abdi sudah tak mau mengenal reyhan lagi, selain itu pak abdi juga kasian melihat reyhan yang seperti defresi ketika intan tak mau menerimanya sebagai seorang ayah.
To Be Continue
__ADS_1