
Anina masih bergelut dalam selimut setelah Edward kembali menerjangnya ia tak sadar kapan itu berakhir,yang ia ingat saat terakhir Edward mengerang ia menutup matanya lalu terlelap.
"Bangun dulu sayang kita melewatkan makan siang" Edward mengelus lembut pipi Anina, penampilan Edward sudah rapi dengan pakaian santainya sedang Anina masih terbalut dengan selimut.
"Juga sarapan" Anina mencebik, tubuhnya terasa remuk.. ingat mereka melakukannya dipagi hari hingga tenaganya habis terkuras dengan perut kosong.
"Siapa yang menggodaku di pagi hari hmm"
" Ish, itu karna kamu tak mau memulai.."
Edward terkekeh "Baiklah maafkan aku sayang, jadi sejak kapan?"
Anina mengeryit "Apa?"
"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku..?"
Anina menelan salivanya lalu pipinya kembali memerah, "Harus ku katakan ya?"
"Tentu saja.."
"Mungkin sebelum kamu mencintaiku.."
"Huh?"
"Aku mau mandi dulu, badanku lengket.."Anina hendak bangun namun Edward menahannya "Apa?"
"Aku gak ngerti maksudmu sayang..atau kamu hanya berbohong.. kalau mulai mencintaiku..?"
Anina menangkup pipi Edward "Lebih tepatnya mulai mencintai kamu lagi.." Edward semakin merasa bingung dengan ucapan Anina.
"Hari itu pertama kali aku melihat kamu, aku rasa aku jatuh cinta padamu, kamu ingat saat kamu memberiku minuman aku langsung menegaknya hingga habis, aku rasa aku gugup,karna itu aku tak sempat bertanya minuman apa itu..karna sejak masuk aku melihatmu,tapi tanpa disangka kamu menghampiriku, entahlah aku tak tau hanya aku merasakan perasaan yang belum pernah aku rasakan pada orang lain saat melihat kamu, tapi dalam sekejap saja aku tersadar cinta pertamaku tak seindah milik orang lain,saat kamu mengambil kesucianku...,"Anina menjeda ucapannya "Saaat aku meminta pertanggung jawabanmu aku harap kamu mau" Anina menunduk.. "Namun lagi lagi kamu merubah harapan cintaku dan merubahnya menjadi benci.."
Edward tertegun, astaga dirinya benar benar kejam..
"Tapi saat kamu mengakui bahwa kamu mencintaiku, aku mulai membuka hatiku, meski aku takut... takut kecewa kembali.."
"Oh.. sayang maafkan aku.." Edward merengkuh Anina dan memeluknya sesekali memberikan kecupan di ujung rambutnya "Maaf.." Anina menggeleng.
"Tidak jangan ungkap itu lagi, biarkan semua berjalan kedepan, dan aku harap kamu gak akan mengecewakanku lagi.."
"Tidak akan sayang.. aku benar benar mencintai kamu, aku sangat bahagia.." Edward mengecup seluruh wajah Anina.
.
.
.
Tak butuh waktu lama Anina membersihkan diri lalu mereka duduk bersisian dengan Edward yang menghadap kearah Anina,Edward mengeringkan rambut Anina yang masih basah sedang Anina memakan makanan yang Edward sediakan tadi, perutnya sudah benar benar lapar, sesekali Anina juga menyuapi Edward yang sibuk dengan rambut panjangnya.
"Enak tidak..?" Anina mengangguk..
"Enak" katanya sambil tersenyum..
"Syukurlah.." Anina mengeryit.
"Kamu yang memasaknya? aku gak tau kamu bisa masak"
__ADS_1
"Ya, spesial hanya untuk kamu"
"Oh ya, hanya aku.." Edward mengangguk. "Bahkan Liza juga belum merasakannya"
"Ya," Edward tak berbohong hanya Anina yang merasakan masakannya karna dulu Liza tak pernah mengijinkannya untuk memasuki dapur untuk memasak, bagi Liza dapur hanya untuk pembantu, maka saat Anina memasak untuknya ia baru merasakan -hangatnya keluarga.
Anina tersenyum lalu mengecup pipi Edward, setelah memberikan suapan ke mulut Edward.
"Terimakasih..
"Astaga sayang kamu menggodaku lagi.."
"Aku gak menggoda kamu,tapi kalau kamu tergoda jangan salahkan aku" dengan santai Anina menyuapkan kembali makanannya.
Edward memeluk Anina dengan Kakinya yang mengurung Anina "Ed, makananku belum habis.." Anina merasa sesak karna Edward mengencangkan pelukannya.
"Baiklah, makan yang banyak karna selanjutnya tenaga kamu akan terkuras kembali.." Edward menyeringai lalu mengendurkan pelukan nya tanpa melepasnya.
.
.
"Papa cepatan,, " teriak Anina, ia dan Queen sudah menunggu sejak tadi dan Edward belum juga turun.
"Sebentar sayang" Edward keluar dari kamar dengan membawa dasi juga jas nya, entah mengapa Edward benar benar manja akhir akhir ini,padahal Anina yang mengandung namun Edward yang sering mengalami perubahan mood.
Ya Anina sedang hamil usia kandungannya baru menginjak dua bulan setelah pernikahan mereka delapan bulan lalu, beruntung ia tak mual dan muntah seperti saat kehamilan Queen, tapi sebaliknya Edward lah yang setiap pagi muntah dan mual.
Kata orang jika suami yang mengidam menggantikan istri itu artinya cinta suami pada istri lebih besar dari pada cinta istri pada suami, da ya.. Anina akui Edward benar benar memanjakannya dan memberi cinta yang besar padanya.
Edward pun menghampiri Queen yang sudah merentangkan tangannya minta di gendong "Hap.. aduh ratu papa sudah wangi mau kemana Hum..?"
"Tuiin mo te lumah momi Aya pah.."
"Oh ya, mau apa?"
"Momi Aya kan mo punya dede bayi, dadi Tuiin mo nengok duyu" Edward tau itu, karna sejak kemarin Anina sudah memintanya untuk mengantar kerumah Kanaya.
"Oh,, oke, kalau gitu Queen harus makan banyak supaya kuat buat kerumah momi Aya"
Tiba tiba Ponsel Anina berdering menampilkan nama Kanaya,Anina yang sedang menyiapkan sarapan pun menghentikan kegiatannya "Hallo Ay kenapa?"
"An, kamu gak usah kerumah aku udah dirumah sakit, kayaknya mau lahiran sekarang" terdengar ringisan dari mulut Kanaya di sebrang sana.
"Ya ampun Ay, bukannya jadwalnya satu minggu lagi.. ya udah aku kerumah sakit sekarang"
.
.
Di sebrang sana Bagas malah uring uringan tak jelas melihat Kanaya kesakitan..
"Dok, kenapa istriku terus meringis, tidak bisakah hilangkan rasa sakitnya,, lihat wajahnya sudah pucat.." Dokter menghela nafasnya, sedangkan Kanaya mendengus.
"Itu alami pak, untuk wanita yang akan melahirkan" jelas dokter.
"Tapi dok.."
__ADS_1
"Sayang kamu keluar aja deh, berisik tau..isshh" Kanaya kembali meringis.
"Tapi sayang.."
"Keluar saja dulu baru nanti masuk setelah kamu bisa tenang!" Bagas mengangguk pasrah dan keluar ruangan.
Saat keluar dari ruangan Kanaya,Bagas bisa melihat Anina dan Edward berjalan kearahnya.
"Bagaimana?"
"Belum.. dokter bilang masih pembukaan empat" Bagas terlihat kacau "Aku baru melihat Kanaya kesakitan sampai seperti itu.." lirihnya.
"Tenang lah, kamu harus tenang,, jika kamu tidak tenang bagaimana bisa kamu beri dukungan" Anina mengelus bahu Bagas dan mendapat tatapan tajam dari Edward.
"Ya sudah aku mau lihat Aya dulu" Anina pun masuk dan tinggal Bagas dan Edward yang duduk bersisian , Queen tak jadi ikut, karna situasi yang tak memungkinkan membawa anak kecil.
"Kamu sudah hubungi keluarganya?"
"Sudah.. mom dan dad segera kemari" tak berselang lama Adam dan Alyla pun datang dengan raut cemas mereka.
Adam dan Alyla pun segera masuk dan menemui putri mereka,setelah Anina keluar dari ruangan Kanaya, sementara Bagas mengusap wajahnya kasar, ia sudah menyarankan untuk operasi caesar saja namun Kanaya ingin melahirkan secara normal, yang membuat Bagas khawatir adalah, Kanaya tak hanya melahirkan satu anak, tapi dua.. ya, buah cinta mereka kembar.
Alyla dan Adam sudah keluar "Nak temani istrimu..." titah Adam,"Jangan panik tenangkan dirimu" Bagas mengangguk lalu masuk ke ruang bersalin Kanaya.
Setelah berjuang antara hidup dan mati akhirnya bayi kembar itu terlahir.
Bayi kembar berjenis kelamin berbeda sudah berada di gendongan Adam dan Alyla sementara Bagas masih menggenggam tangan Kanaya yang tersenyum ,melihat kedua bayi kembar mereka, sesekali memberi kecupan pada dahi Kanaya lalu bergumam 'Terimakasih sayang'.
"Sayang apa kita juga bisa punya bayi kembar?" tanya Edward yang menatap salah satu bayi Bagas yang kini berada di gendongan Anina.
"Kenapa tidak jika tuhan menghendaki"
"Hmm.. tapi apapun itu aku akan mencintai nya, dan aku bangga padamu" Edward mengusap perut Anina.
"Ternyata melahirkan tidak mudah, maka itu maafkan aku yang tak ada saat kamu berjuang untuk Queen"
"Ya, pengorbanan mereka sungguh besar.." Timpal Bagas "Aku bangga padamu sayang" lalu mengecup lagi dan lagi dahi Kanaya.
"Sudah siapkan nama untuk si kembar?" Bagas dan Kanaya mengangguk.
"Nathan Radhi Wijaya,
dan Nala Raine Wijaya"
Hari ini semua terlihat bahagia hari dimana lahirnya buah cinta Bagas dan Kanaya.
"Hallo Nathan..
"Hallo Nala.. selamat datang.."
.
.
.
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin🙏
__ADS_1