
Raja memandang rumah besar dihadapannya, dulu ia selalu tak mau memasuki rumah ini karna ada Queen di dalamnya, namun sekarang ia harus masuk demi untuk Queen, Raja mempersiapkan diri untuk apa saja yang akan mertuanya itu lakukan karna sudah menyakiti putri kesayangan mereka, namun Raja akan menerima semuanya asalkan ia bisa membawa Queen kembali.
"Loh.. Raja kamu datang" Anina menengok kearah belakang Raja namun tak menemukan yang dia cari "Queen mana?" tanyanya lagi.
Kening Raja mengeryit saat mendapat pertanyaan dari Anina, bukankah Queen sudah pulang sejak semalam, lalu kenapa malah dirinya ditanya dimana Queen.
"Siapa sayang?" Edward turun tergesa saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi,ia kira Queen yang datang, karna Queen bilang ia akan segera pulang, namun rahang Edward mengeras saat melihat pria di depannya, hingga tanpa aba aba Edward memberi pukulan pada Raja, hingga Raja terhunyung ke belakang,Anina memekik kaget saat Edward akan kembali memukul Raja.
"Mau apa kamu kemari? belum puas kamu membuat anak ku menangis"
Raja terdiam sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah "Ada apa ini pa?" Anina tampaknya tak tau apa yang terjadi.
"Aku mau jemput Queen"
"Cih.. setelah menyakitinya kamu mau mengambil Queen kami kembali, untuk apa? untuk kembali kamu sakiti"
Anina tak mengerti "Kamu mau jemput Queen tapi Queen gak ada datang"
Raja mengeryit heran, "Queen sudah kemari sejak semalam" Edward masih terlihat tenang "Papa pasti tau di mana Queen?" Raja yakin Queen sudah tiba,Jono mengatakan bahwa Queen ada di daftar penumpang menuju Jakarta tadi malam.
__ADS_1
"Kalau pun saya tau, saya tidak akan beri tahu kamu" Edward masuk ke dalam ruang kerjanya dan tak berapa lama Edward kembali.
"Ambil ini dan pergi dari sini" Edward melempar sebuah map dan melemparnya ke wajah Raja, sejak telpon dua hari lalu Edward mempersiapkan semuanya, saat Queen berkata ingin pulang, namun mendengar perkataan Queen semalam semakin membuat Edward emosi.
Raja membuka dan membaca kata perkata yang tersusun di atas kertas putih tersebut,surat gugatan cerai dari Queen, namun dengan cepat Raja meremasnya "Aku gak akan ceraikan Queen" mata Raja berkilat,bahkan ia tak gentar dengan menatap mata Edward langsung.
"Egois sekali kamu, lalu bagaimana dengan perempuan itu?" Raja mengeryit.
"Apa maksud papa?" Raja tak mengerti perempuan mana,apakah Selin.
"Kamu fikir aku gak tau kamu menjalin hubungan dengan perempuan lain" Anina mulai syok Raja menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Aku gak melakukan itu ma" Ya sejak mereka menikah, setidak nya Raja mulai lupa dengan Selin, meski awalnya Raja sempat ingin mempertahankan hubungannya dengan Selin,namun tak lama Queen berhasil masuk dalam hatinya dan mengganti Selin dengan mudah. "Tolong aku ma, aku gak bisa kehilangan Queen,aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Selin"
Anina berpaling "Papa Ed benar, jika pun Queen ada di sini kami gak akan biarkan kamu menemuinya, lebih baik kamu lepaskan Queen" Anina memilih percaya pada sang suami dan mengabaikan tatapan Raja yang penuh pengharapan padanya.
"Aku sungguh mencintai Queen pa,ma.. dan aku gak akan melepaskan Queen sampai kapan pun"
"Jika kamu mencintai Queen kamu gak akan menyakiti Queen, dengan menanam kan kebencian semakin dalam, di diri Queen, kamu mengabaikan kesempatan kamu untuk bersama Queen dan malah menciptakan hal baru dengan perempuan itu..meski Queen bertekad hanya ingin membalas kamu awalnya,tapi semua yang dia tunjukan pada kamu itu semua tulus,bahkan saya berharap apa yang kamu tunjukan pada kami di Bali itu benar,dan kamu bisa membahagiakan Queen,tapi ternyata semuanya hanya sandiwara kamu saja"
__ADS_1
Raja tak mengerti dengan ucapan Edward, seingatnya ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Selin kemarin, lalu masalah apa yang sudah ia buat, hingga Queen memilih pergi, meski ia sudah katakan dan memohon pada Queen agar tak pergi darinya,dan juga apa Queen benar benar hanya ingin balas dendam saja padanya,karna dulu ia selalu mengabaikan Queen.
"Pergilah, dan pertanggung jawabkan semuanya,janji kamu pada perempuan itu, berikan padaku jika surat itu sudah kamu tanda tangani dan jangan harap kamu bisa bertemu Queen lagi" Edward memilih pergi dan membawa Anina yang masih terlihat syok.
.
.
.
Queen masih saja duduk di kursi tunggu,Queen masih ingat dengan kata kata Selin yang berhasil membuatnya memutuskan untuk pergi, meski sejak awal ia memang akan pergi, namun memikirkan bahwa Raja mulai mencintainya membuat Queen ingin bertahan akan tetapi, Queen kembali mengingat tangisan Selin waktu itu.. waktu Selin memintanya untuk bicara.
"Lepaskan Raja Queen, biarkan kami bahagia..dan lagi ada sesuatu yang harus aku katakan.."Selin menunduk sebelum berkata "aku mengandung anak Raja."
Queen terpaku.. tubuhnya mendadak tak bisa bergerak, sendi sendinya terasa lemas.
Selin masih menunduk dan mengusap air matanya"Sebenarnya kedatanganku ke apartemen untuk memberi tau Raja bahwa aku mengandung anaknya,namun Raja malah bicara bahwa dia mulai mencintai kamu dan memintaku melepaskan nya, bagaimana bisa aku melupakannya sedangkan diperutku ada buah cinta kami, jika saja aku tak mendengarkannya untuk melakukan itu, aku gak akan seperti sekarang, aku akan dengan mudah melepas Raja, tapi waktu itu Raja berjanji semua akan berakhir dalam tiga bulan dan kami akan segera menikah,, tapi sekarang aku harus apa, disaat benih ini telah tumbuh.. dia memintaku untuk melupakannya.."
Queen tersadar dari lamunannya saat seseorang memanggilnya..
__ADS_1
"Queen...?"