Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn Edwar-Anina(2)


__ADS_3

Nyatanya pemilik kamar sudah pulang sebelum sore menjelang bahkan disaat hari masih siang.


Edward menempelkan kartu yang membuat pintu kamar bertuliskan 302 terbuka, Edward melepas jasnya dan menaruhnya di sofa, langkah Edward terhenti saat netra nya melihat seseorang terbaring di atas ranjangnya.


Matanya membulat saat Anina sedikit menggeliat dari tidurnya, Edward membalikkan tubuhnya agar Anina tak melihatnya, namun sepertinya Anina hanya mengubah posisinya dan tertidur lagi.


Mengumpulkan keberanian untuk mendekat kearah Anina, Edward menelan ludahnya melihat wajah merah Anina persis waktu itu saat Anina tak sadarkan diri karna mabuk,cantik.. sangat cantik.. lalu terlintas bayangan itu saat pertama kalinya ia lah yang menjamah tubuh ini,dan merasakan nikmatnya saat bibir manis itu ia cu mbu lalu ketika miliknya bersarang dalam..


Edward menggeleng saat fikiran mesum menghampirinya,lalu ia berjongkok di sisi ranjang sambil terus meneliti raut Anina,Anina melenguh lalu meringis..


Tangan Edward terulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Anina... tunggu ia merasakan sesuatu.. panas, badan Anina panas.. Anina sakit.


Edward begitu panik hingga ia jadi bingung apa yang harus ia lakukan..


"Ah dokter aku harus menghubungi dokter" gumamnya lalu ia menekan ponselnya dan meminta manager hotel mengirimkan dokter.

__ADS_1


Edward mondar mandir dengan gelisah saat melihat dahi Anina semakin berkeringat, beberapa kali ia menyekanya lalu keringat itu keluar lagi.


Manager masuk dengan membawa dokter yang dipesannya, Edward segera menyingkir membiarkan dokter untuk memeriksa Anina.


"Bagaimana?" tanya Edward "Apa dia baik baik saja?"


"Tidak terlalu serius tuan, dia hanya demam karna kelelahan,dan kekurangan cairan,hanya membutuhkan istirahat cukup,saya akan memberikan cairan infus untuk membantu mengembalikan cairannya"


Edward mengangguk lega, "Terimakasih dokter"


Sudah dua jam namun Anina belum juga bangun,Edward masih menunggunya sesekali ia masih menyeka keringat di dahi Anina, entah mengapa ia begitu khawatir pada Anina, apa ini, perasaan apa ini? Edward menyentuh lalu menggenggam tangan mungil Anina, tangan yang terlalu kurus dan mungil jika dibanding Liza, tentu saja Anina tak seperti Liza yang bertubuh proposional, tapi mengapa tangan itu begitu nyaman ia genggam.


Edward merebahkan dirinya disisi Anina, tubuh Anina hanya setinggi dadanya, jelas bukan tipe dan kriterianya,tapi mengapa melihat tubuh Anina yang mungil seperti melambai minta di peluk,Edward mengulurkan tangannya lalu menarik Anina mendekat lalu menelusupkan tangannya di tengkuk Anina agar menjadi bantalaannya, memeluknya, mendekapnya.


Ah.. nyaman nya, batin nya bergejolak benarkan secepat itu rasanya tumbuh belum satu bulan ia bercerai namun ia sudah jatuh cinta lagi pada Anina,yang anehnya perasaan ini tak terasa asing baginya,apakah..?

__ADS_1


Anina mengerjap beberapa kali rasa kantuk yang begitu berat hingga matanya tak ingin terbuka,apalagi rasa hangat yang seolah mendekapnya, lalu mata Anina memicing dan membulat saat menyadari sesuatu...


"Kamu sudah bangun?"


Deg..


__________


Kita simpan sementara Kanaya dan Bagas karna mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan,๐Ÿ˜… jadi kita beralih sama mantan cinta satu malam (EdAn)dulu ya..


Terimakasih sudah membaca๐Ÿ™


jangan lupa like.. komen... vote


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนโ˜•โ˜•โ˜•

__ADS_1


__ADS_2