
Raja membolak-balik lembar kertas di depannya saat ini ia tak fokus sama sekali entah kenapa hatinya merasa gundah, sejak obrolannya dengan Queen tadi pagi ia terus terfikir tentang kehidupan pernikahannya, ia mungkin marah karna setelah ia mengatakan pada Selin bahwa ia sudah menikah hubungannya dengan Selin harus berakhir, namun yang difikirkan bukan itu .. tapi akan seperti apa kehidupannya kedepan, benarkan jika sudah tiga bulan berlalu semua akan baik baik saja, lalu bagainmana reaksi bunda dan Ayah Azka, juga keluarganya jika tau pernikahan mereka hanya berlangsung Tiga bulan saja.
Raja mendesah lelah, tadi pagi mereka sudah sepakat untuk menjalankan peran suami istri dan Raja juga berjanji untuk tak menemui Selin selama masa perjanjian, lagi pula ia harus memberi waktu pada hubungannya dan Selin yang sedang dalam keadaan buruk.
Queen baru saja menyelesaikan sesi membersihkan rumah ketika bel apartemennya berbunyi, dengan berlari Queen membuka pintu.
"Assalamualaikum..Queen?"
"Eh,Waalaikum salam.. tante Eva..?" Queen tersenyum melihat ibu sambung dari Raja.
"Kok tante sih, panggil mama dong kaya Raja" Queen mempersilahkan Eva masuk.
"Eh, ia Ma,..."
"Kamu betah disini?" Queen tersenyum lalu mengangguk, Eva menyimpan kotak makanan dimeja "Mama bawakan makanan untuk kalian,,"
"Terimakasih ma" Queen masih sedikit canggung dengan mertuanya ini.
" Papa Sandi juga menitipkan salam, main lah kerumah jika Raja sedang libur, kita harus mempererat ikatan keluarga kita" Eva tersenyum dan mengusap lembut lengan Queen, benar kata Rona, mama Eva itu baik, perhatian dan lembut, dan itu mengingatkannya pada mamanya sendiri, mendadak Queen jadi begitu merindukan rumah.
"Baik ma, nanti aku bicarakan sama kak Raja"
"Oh ya, kemana Bi Laras? kenapa sepi"
"Eh..? siapa Bi Laras ma?"Queen mengeryit bingung
"Pembantu di sini, dia biasa datang pagi dan pulang sore untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makan"
Queen tertegun sesaat lalu kembali tersenyum "Ah.. itu.. aku yang suruh kak Raja buat gak pake pembantu, aku
...soalnya aku bisa mengerjakan semuanya sendiri ma" Queen tiba tiba merasa benar benar tertipu apa kata Raja bahwa disini tak ada pembantu, tapi nyatanya Raja sengaja membuat Queen mengerjakan semuanya.. benar Raja memang sengaja melakukan itu agar Queen kelelahan.
"Kamu yakin?" setau Eva Queen dari keluarga berada dan pasti tak terbiasa dengan pekerjaan rumah "Sayang apa Raja memperlakukan kamu dengan baik?" mengingat bagaimana terpaksanya mereka menikah karna sebuah insiden.
Queen mengangguk "Mama aku baik baik aja, dan kak Raja baik sama aku"
"Jangan sungkan bicara sama mama atau papa jika terjadi sesuatu, meski mama cuma mertua tiri tapi mama akan bantu jika mama bisa"
__ADS_1
"Terimakasih mama baik sekali, aku jadi ingat mamaku" Queen merasakan matanya berkaca kaca.
"Sudah sudah.. kenapa jadi sedih, kamu bisa pulang jika rindu mama kamu lagian Yogya dan Jakarta tak terlalu jauh, mau mama minta Raja buat antar kamu?" Eva mengusap mata Queen yang meneteskan air mata.
"Gak usah ma, biar nanti Queen yang minta sama kak Raja sendiri"
.
.
"Kakak sudah pulang?" Queen mengambil tas kerja Raja juga melepas jas Raja.
"Kamu tak perlu melakukan ini"
"Kenapa? mama biasa melakukan ini sama papa,lagi pula itu biasa dilakukan seorang istri bukan?" Queen berjalan menjauh dan meletakan tas kerja Raja. "Aku udah siapin air anget buat mandi jadi kakak bisa langsung mandi aku mau siapin makan malam"
Raja hanya memperhatikan Queen sampai Queen keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
"Kamu memasak semua ini?" Raja melihat makan cukup banyak di meja.
"Bukan ini dari mama Eva, tadi beliau kesini untuk menyapa, ah boleh kan nanti aku ke rumah papa Sandi kayaknya gak sopan sejak datang aku belum berkunjung"
"Mama Eva bilang kakak suka semua jadi aku taruh di piring semuanya" setelahnya Queen menuang air putih dan meletakkannya di depan Raja, lalu mereka makan dengan hening.
Dua hari kemudian Raja mengantar Queen kerumah papa Sandi, mereka pergi sebelum Raja berangkat ke kantornya.
Di dalam mobil hanya ada keheningan Raja yang fokus menyetir dan Queen yang memperhatikan jalanan, tiba tiba ponsel Queen berbunyi dengan nama 'Tuan koki' yang menghiasi layar.
Queen menggeser tombol hijau hingga terdengar suara di sebrang sana.
"Hay.. Queen hari ini kau akan belajar apa aku sedang di super market sekalian membeli bahan.. aku bisa membelikan untukmu juga"
"Oh,, maafkan aku, aku lupa mengabarkan hari ini aku tidak bisa, bagaimana jika besok" Queen meringis saat ia lupa mengabarkan Arman hari ini tak bisa datang.
Raja mendengar nada bicara Queen yang seakan merasa bersalah, sesekali ia melirik Queen dengan ekor matanya.
"Oh.. baiklah, tak masalah.." terdengar seperti nada kecewa di sebrang sana.
__ADS_1
"Ya, maaf sekali aku benar benar lupa memberi tau,.Dan aku yang akan belanja nanti cukup beritahu aku apa saja bahan yang kamu butuhkan"
"Baiklah beri tau aku apa yang ingin kau masak, maka aku akan berikan catatannya"
"Ya aku akan beri tau lewat chat"
Queen memutuskan panggilannya lalu melihat kearah Raja yang masih memandang ke depan dengan datar, Queen menghela nafasnya lalu melihat kembali kearah jendela.
"Siapa?"
"Huh?"
"Siapa yang menelpon?" Queen tak menyangka Raja akan menanyakan itu, Queen kira Raja akan acuh saja.
"Oh, itu seorang teman"
"Laki laki?" Raja sebenarnya mendengar samar suara seorang pria di balik ponsel Queen.
Queen mengangguk "Secepat itu?" Queen mengerutkan keningnya "Kamu baru beberapa hari disini dan sudah punya teman?"
Queen terkekeh "Kakak tidak tau ya, aku ini orangnya pintar bergaul, dimana pun aku, aku akan cepat mendapatkan teman"
Raja mendengus lalu berkata "Hati hati banyak orang yang terlihat baik padahal mereka orang jahat,jangan terlalu dekat dengan orang yang baru kamu kenal"
.
.
.
.
Like.like.like
komen.komen.komen.
vote.vote.vote.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹