
"Mama..Apa tu Jingan?" Queen yang baru terbangun akibat jeritan Anina dan bertanya bingung,
Anina terkesiap saat menyadari Queen ada bersamanya "Ya ampun mama jangan mengumpat di depan anak kita sayang" Edward tersenyum menggoda. "Pagi, ratu nya papa" Edward melompat naik keatas ranjang dan mengecupi Queen, hingga Queen tertawa geli, menghiraukan Anina yang menatapnya tajam. "Pagi juga calon istriku" Anina semakin meradang kala Edward mengecup pipinya, hampir saja mulutnya terbuka dan memaki Edward jika saja Edward tak kembali berbisik "Jangan mengumpat didepan Queen sayang".
Anina jengah sejak tadi Edward memanggilnya 'Sayang' tanpa risi sekali pun seolah sudah biasa mengucapkannya untuk Anina, bukan tersipu Anina malah semakin geram
Anina turun dan menghentakkan kakinya menuju kamar mandi "Edward bajingan, sialan, mesum,edan.." dengan nafas tersengal ia terus memaki bahkan sambil menatap cermin, Anina mengepalkan tangannya dan mengusap wajahnya kasar, kenapa dia bisa terjebak disini sekarang,bagaimana caranya lepas dari Edward apa dia kabur saja dengan Queen pergi yang jauh agar tak bisa di temukan Edward,tapi kemana?
Anina mondar mandir di kamar mandi sudah lebih dari satu jam ia berfikir namun tak menemukan solusi "Mama.. kamu sedang apa kenapa lama sekali?" teriak Edward dari luar.
Anina mencebik seenaknya saja memanggil mama, memang dia mamanya.
__ADS_1
Anina membuka pintu dan terkejut melihat penampilan Edward dan Queen sudah rapi dan wangi dimana mereka mandi, Anina melihat kebelakangnya bukan kah sedari tadi ia berada dikamar mandi "Kami mandi di kamar sebelah mama" seakan tau akan isi di benak Anina.
"Mama ndak mandhi" Queen menutup hidungnya "Mama bahu.."
"Astaga Queen mama gak bawa baju jadi mama gak mandi" Anina mengendus badannya.. tak bau, enak saja. "Kita pulang yuk, mama kan juga harus kerja"
"Kamu udah resign.." lagi lagi Anina melotot kan matanya "Jangan melotot terus mama" Edward menurunkan Queen "Queen main dulu papa mau bicara sama mama" Queen mengangguk dan berlari kearah mainannya.
"Apa kamu bilang, aku sama sekali gak mengundurkan diri" Geram Anina, Edward sudah menduga Anina akan marah, maka ia menjauhkan Queen.
Anina kehabisan kata kata, Edward benar benar keterlaluan "Maksud kamu apa, ah iya.. tak masalah lagi pula aku gak sudi kerja sama kamu" Anina harus mencari pekerjaan lain mulai sekarang, ya ampun cari kerja kan susah.
__ADS_1
"Jangan berfikir untuk mencari pekerjaan lain, kamu hanya perlu mengurus Queen dengan benar, mulai sekarang sampai kita menikah kamu dan Queen tanggung jawabku"
"Aku gak mau menikah..!"
"Kalau begitu bersiap untuk kehilangan Queen"
"Tolonglah Ed.. kamu membuat semuanya jadi rumit"
"Apa gak salah? kamu yang membuat ini rumit Anina.. cukup turuti aku dan kita menikah semua selesai" tatapan Edward berubah tajam, mengapa sulit sekali meyakinkan Anina.
Anina mengepalkan tangannya kuat, ia muak, sungguh muak. Anina tak butuh Edward atau siapa pun sekarang, ia hanya perlu berdua saja dengan Queen hidup tenang tanpa siapa pun, lagi pula untuk apa Edward datang sekarang disaat semuanya sudah terlambat, hati Anina sudah mati rasa.
__ADS_1
"Mandilah kita akan pergi jalan jalan, aku sudah siapkan pakaian mu" Edward melangkah menuju Queen, meninggalkan Anina yang masih memaku.
Edward melihat kearah pintu yang berdentum keras akibat di banting Anina, lalu menghela nafasnya.