
Saat Queen memasuki apartemen, Queen melihat Raja duduk di sofa bersandar sambil memejam, namun Queen tak melihat Selin ada disana.
"Dari mana saja?"
"Kenapa kakak keluar kamar, kakak masih sakit"
"Aku tanya sama kamu, kamu dari mana? bukannya sudah aku bilang jangan pergi kemana pun" Queen tertegun melihat Raja yang terlihat marah, kenapa Raja terlihat marah?
"Aku tadi dari luar, aku fikir tadi kakak dan Selin bisa bicara dengan bebas jika.."
"Jika?"
Queen menghela nafasnya, Raja masih terlihat lemas dan sesekali memejam menahan sakit di kepalanya.
"Kakak belum sembuh benar, jadi lebih baik kakak kembali ke kamar.. ayo"
Raja menepis tangan Queen "Kamu tadi tinggalin aku?"
Queen mengeryit "Iya tadi aku keluar sebentar.."
"Aku bilang jangan pergi kemana pun!" Raja mengusap wajahnya.
"Ya tapi tadi ada Selin yang jagain kakak.."
"Aku bilang kamu,ya kamu!"
Raja berjalan lemah kembali kedalam kamar sesekali Raja berhenti saat merasakan pusing di kepalanya "Ayo aku bantu" Raja kembali menepis tangan Queen dan terus melangkah pelan.
Queen bingung dengan tingkah Raja, kenapa Raja harus marah saat Queen meninggalkannya, bukankah dia akan lebih senang jika bersama kekasihnya kenapa malah marah marah?
Setelah melihat kondisi Raja yang tak ada perubahan Queen memutuskan membawa Raja kerumah sakit, dengan bantuan dari Arman, Queen berhasil membawa Raja.
"Terimakasih Arman" Mereka sedang berada di ruang rawat Raja,setelah pingsan di apartemen, Raja sudah kembali sadar.
"Ya, jika terjadi sesuatu kamu bisa langsung hubungi aku, baiklah aku pulang dulu" Arman sempat melihat kearah Raja dan tersenyum mengejek.
__ADS_1
Raja berdecih..
"Kenapa harus minta tolong dia!" Raja menatap tajam pintu yang tertutup. "Dia meledekku"
"Terus harus minta tolong siapa, yang ada di fikiran aku cuma Arman"
"Kamu memikirkan dia?" Raja menatap Queen dangan rahang mengeras.
"Huh?" Queen menggeryit.
"Maksudku, aku cuma tau no ponselnya Arman.."
"Cih kenapa tidak panggil petugas keamanan saja"
"Aku, kan panik mana ingat sama petugas kea...."
"Tetap saja yang kamu mengingat 'dia'.."
Queen menghela nafasnya lelah, sudah untung Arman mau membantu jika tidak apa yang akan terjadi pada Raja,dia pingsan karna kekurangan cairan, dan demam yang tak kunjung reda, bukannya berterimakasih malah marah marah, apa Raja cemburu? Queen menggeleng tidak mungkin.. ah ini pasti karna perselisihan nya dengan Arman terdahulu karna Selin... ah lagi lagi Selin.. batin Queen.
"Sudahlah mending kakak istirahat,dan jangan libatin aku sama urusan kakak dan Arman,aku tau itu semua karna Selin bukan.."
"Aku tau dari Arman soal ini.."
"Bicara apa dia sama kamu?" Queen menggedik.
"Tapi ini sama sekali tidak.. kamu mau kemana?" Raja tak meneruskan kata katanya saat Queen beranjak dan hendak pergi.
"Keluar.. "
"Gak boleh! kamu mau tinggalin aku lagi.."
"Huh? mau kakak apa sih? disini juga cuma berdebat dan dari pagi aku belum makan" sibuk mengurus Raja juga merenung di atap gedung Queen melupakan sarapannya, bahkan ini sudah lewat jam makan siang.
Raja menatap Queen dengan pandangan rasa bersalahnya,Raja mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian..
Queen menatap bahkan tak berkedip melihat sosok di depannya, tubuhnya tinggi tegap, rahangnya tegas juga tampangnya yang sedikit bule, jangan lupa bulu tipis yang tumbuh mengelilingi rahangnya ,persis seperti bayangan Queen tentang CEO di dunia novel, tanpa sadar Queen tersenyum.
Dan Raja kembali berdecih..
"Kamu asisten kak Raja?"
Pria di depan Queen mengangguk.
"Ya nyonya"
Queen tertawa " Wah.. aku gak tau kalau kak Raja punya asisten ganteng"
"Jono, kamu membawa pesananku?" Raja segera memanggil asistennya, apalagi melihat Queen menatap Jono dengan tatapan kagumnya membuat Raja jengah, karna itulah Raja tak pernah meminta Jono datang ke apartemennya, karna dimanapun Jono dia selalu bisa mengalihkan perhatian orang lain,karna wajahnya yang Raja akui memang tampan.
"Oh, iya Pak" Jono pun menghampiri Raja dan memberikan beberapa kantung makanan.
"Tunggu sebentar, nama kamu Jono?" tanya Queen antusias.
"Ya nyonya,perkenalkan nama saya Jono Januar.."
"Wuah... emejing.. kamu bule dan namamu Jono?"
"Ya bapak saya dari Jawa, dan ibu saya dari Belanda"
"Oh.. ya ampun..! hallo Jono aku Queen"
Queen menjabat tangan Jono dengan antusias.
"Sudah!" Raja menarik tangan Queen karna tak mau lepas dari Jono, Jono tersenyum canggung "Sudah kamu boleh pergi!"
Jono pun undur diri dan keluar dari kamar Raja.
"Sudah jangan lihat kesana terus dia sudah tidak ada!"
__ADS_1
Queen mengeryit lalu melihat kearah Raja "Kakak kenapa sih? dari tadi marah marah terus, kayak cowok yang lagi cemburu sama pacarnya, tau gak"
"Ya.. aku cemburu! sejak tadi kamu terus saja melihat pria lain.. tadi Arman, sekarang Jono,tidak bisa ya lihat aku saja!"