
Nyatanya baru satu hari Edward keluar dari rumah mobilnya kini sudah berada di halaman rumahnya kembali,Edward menarik nafas sebelum memutuskan masuk kedalam rumahnya, semoga Anina sudah tak marah lagi dan ia bisa bertemu Queen.
Edward merasa bersalah saat menuduh Anina pergi dengan Roni, padahal nyatanya Anina mungkin melihatnya bersama Liza, tapi kenapa Anina terlihat biasa saja jika ia melihat Edward dan Liza apa dia tak cemburu..?
Edward lagi lagi menghela nafasnya untuk apa Anina cemburu bukankah sudah jelas jika Anina tak mencintainya, lain hal dengan nya yang menjadi gila hanya karna Anina di antar pulang oleh Roni.
Edward terus memacu langkahnya menelusuri ruang demi ruang untuk menemukan Anina dan Queen hingga tiba di taman belakang Edward melihat Anina dan Queen berada dalam ayunan yang baru dipasang kemarin atas perintah Edward,mengayun dengan kaki Anina yang sedang memangku Queen sambil sesekali tertawa dan membaca cerita di buku yang Anina pegang.
Sungguh pemandangan yang indah untuk Edward, hatinya menghangat pasti bahagia jika melihat itu setiap hari.. selalu bersama.
"Papa!!" teriak Queen ketika menyadari Edward tengah memperhatikannya.
Anina terpaku melihat Edward yang berdiri dari jauh sambil merentangkan tangannya pada Queen, Queen berlari dan memeluk Edward "Papa kangen sekali sayang" baru satu hari saja tak bertemu Edward merasa begitu merindukan Queen.
Edward melihat Anina yang masih berdiri di sisi ayunan, sambil menggendong Queen Edward menghampiri Anina dengan cepat meraih tengkuk Anina dan memberikan kecupan di dahi Anina yang masih membeku.
"Ada yang mau kamu tanyakan Anina?"
Anina mengeryit, mereka sedang duduk bersisian sambil memperhatikan Queen dari jauh. "Tanyakan dan jangan buat kesimpulan sendiri"
"Aku gak ngerti.."
__ADS_1
"Kamu melihat ku di Restoran waktu itu bersama Liza bukan?"
"Melihat atau tidak bukan urusanku"
"Tapi aku dan Liza tak ada hubungan apapun selain mantan suami, istri"
"Terserah.."
"An, apa sedikit saja kamu gak merasa cemburu dengan Liza?"
"Apa hak ku?" Anina melihat manik Edward yang entah mengapa membuatnya bisa melihat bahwa Edward sedang putus asa.
"Kamu calon istriku.."
"Ya, kamu membenciku.." potong Edward "Tapi itu gak bisa membuatku bisa merelakan kamu berhubungan dengan lelaki lain, aku cemburu meski aku tau kamu tak mencintaiku,aku cemburu meski cinta ku gak berbalas" Anina mengerutkan keningnya "Maaf aku hilang kendali kemarin"
"Dan mungkin jika aku katakan pun kamu gak akan percaya, aku mencintai kamu An" Tak ada expresi di wajah Anina, tak ada semu merah saat seorang pria menyatakan cinta pada seorang perempuan.
Anina malah tertawa "Kamu lucu Ed,, kamu menyatakan cinta padaku, setelah beberapa hari lalu kamu juga menyatakan cinta pada mantan istri kamu, dan berciuman dengan mesra"
Edward mengeryit, lalu menegang saat teringat hari itu "An..itu" Edward teringat saat Liza menciumnya di pernikahan Bagas dan Kanaya, apa Anina melihatnya,tapi apa Anina menyaksikan hingga akhir dan mendengar ancaman Liza.
__ADS_1
"Sudah lah Ed, kamu cukup jadi ayah Queen saja"
"Apa kamu mendengar sampai akhir.." Anina menggedikkan bahunya.
"Untuk apa, aku sudah tau apa pun akhirnya bukan urusanku, mungkin ciuman makin panas atau..
"Atau aku mendorongnya.." Edward menghela nafasnya "Dia mengancamku akan mencemarkan nama kamu dan Queen sebagai pelakor dan anak haram" Anina mulai tegang.
"Dia mengancam untuk menuruti semua perintahnya karna itu kamu melihat ku juga di Restoran, aku sudah banyak menyakiti kalian dan aku tak ingin kalian juga terluka karna cemoohan orang diluar sana"
"Ini semua salahku, dan aku gak akan biarin kamu dan Queen menanggungnya"
Anina melihat kearah Queen, tidak Queen bukan anak haram.
"Lalu apa? apa yang harus aku lakukan.. tidak .. Queen bukan anak haram.." Anina menggeleng dan terlihat khawatir, Edward mengeryit ada apa dengan Anina? Anina berdiri dari duduknya lalu meremas tangannya "Semuanya salahku, coba saja waktu itu aku tak pergi kesana aku tak akan bertemu kamu dan ini gak akan terjadi" Anina panik..
Anina terus menggeleng, Edward semakin terkejut dengan reaksi Anina.. kenapa? dia sedang menyesali dirinya, dan menyalahkan dirinya.
"An..? kamu oke..?" ragu Edward memegang tangan Anina yang bergetar.
.
__ADS_1
.
.