
Kanaya dan Bagas sudah pulang dan Queen sudah tidur, kini tersisa Edward dan Anina yang masih menemani Queen hingga benar benar lelap.
"Aku sudah siapkan semuanya, semua dokumen sudah aku serahkan ke KUA" Anina mendongak melihat Edward yang juga menatapnya serius.
"Untuk resepsinya kita adakan nanti, tunggu masalah Liza reda, tak apa kan?.. kamu mau menikah denganku kan?" Edward tak ingin mendengar kata orang jika mereka bahagia di atas penderitaan Liza, meski ia tak peduli namun ia memikirkan perasaan Anina.
"Memang kalau aku bilang aku gak mau kamu lepaskan aku?"
Edward meraih tangan Anina "Aku tau aku egois, tapi maaf aku gak bisa melepas kamu,meski kamu belum mencintaiku.. tak apa, aku hanya harap kamu buka hati kamu,aku yakin perasaan cinta itu akan datang" Edward menyentuh dada Anina "Aku bisa rasakan ini berdebar cepat"
Seperti malam malam sebelumnya Edward pulang, itu yang dia bilang, padahal dia menempati kantornya, namun hatinya sudah ringan sekarang..
Semua sudah selesai dan tinggal menunggu hari bahagianya dan Anina, Edward merebahkan dirinya di sofa, lalu mengetikan sesuatu
-Aku sudah sampai.. selamat tidur sayang-
Anina pun hendak memejam melihat notifikasi pesan dari Edward kembali membuka matanya lalu tersenyum.
__ADS_1
-Ya, selamat tidur-
Anina terbangun kala mendengar suara ribut ribut dari luar, dahinya mengeryit ada apa, Anina melihat kearah Queen yang masih tertidur pulas lalu membenarkan selimutnya dan beranjak untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar kamarnya.
Anina merapatkan kimononya, angin masih dingin diluar bahkan masih terlihat gelap, ini masih subuh lalu siapa yang membuat keributan pagi pagi buta begini.
Menuruni tangga dan langsung melihat kedua Art nya tengah menunduk dan berhadapan dengan seorang wanita berpenampilan nyentrik,dan bling bling berteriak dan marah marah..Anina menggeryit... siapa?
"Wah.. wah.. wah.. bagus ya ini sudah hampir terang dan kamu baru bangun wanita pemalas" suaranya melengking hingga Anina meringis.
.
.
Ponselnya tak henti bergetar, Edward ingin mengumpat lalu melihat siapa yang menghubungi nya pun ia urungkan malah raut nya berubah berseri, Anina menghubunginya pagi pagi ada apa? mungkin kah Anina merindukannya..
"Hallo sayang.. pagi sekali apa kamu merindukan ku?, aku juga merindukan mu,apa semalam mimpi indah?"
__ADS_1
Namun bukan suara Anina yang terdengar malah pekikan seseorang wanita yang membuat Edward terjungkal dari sofa..
"Oh.. Shi..it"
Edward segara menyambar jasnya dan berlari keluar ruangan dengan terpogoh pogoh, untung kantor masih sepi karna masih terlalu pagi,jika tidak rusak sudah reputasinya,Edward yang selalu mengutamakan kerapihan dan kebersihan.. hanya ada beberapa OB, yang mulai pekerjaan mereka dan menggeryit heran, melihat penampilan Direktur mereka yang berantakan dan lari terburu buru.
Edward merutuki dirinya bagaimana bisa ia melupakan wanita itu, seketika ia menjadi khawatir akan Anina dan Queen apa mereka baik baik saja,mengingat watak wanita itu.
"Sial.." Edward memukul setirnya "Sayang, Queen tunggu papa nak.."
Edward terus merapalkan doa semoga Anina dan Queen baik baik saja, beruntung jalanan masih lenggang karna masih terlalu pagi untuk keluar rumah.
Edward yakin ia akan mendapat teriakan dan makian dari wanita itu..
Edward memarkirkan mobilnya sembarangan dan lari masuk kedalam rumah, benar saja Anina tengah menunduk dihadapan wanita itu..
"Mam.."
__ADS_1