
Bagas benar benar dikunci di kamar mandi selama satu jam lebih ia menunggu dan akhirnya ada orang yang membuka pintu, seorang pria berseragam OB "Maaf tuan, saya diminta membuka pintu ini setelah satu jam" Bagas menghela nafasnya.
"Ya terimakasih" setelah OB tersebut pergi Bagas menghubungi Roni "Roni, cari dimana istriku" Roni terdiam sesaat
"Maaf tuan bukan kah, istri anda ada bersama anda?"
"Aku tak akan mencari jika dia ada disini, jangan banyak bicara cari saja cepat!" Bagas mematikan ponselnya lalu berjalan kearah kasur, sudah tersedia pakaian nya disana sepertinya sebelum pergi Kanaya menyiapkannya, lalu Bagas meraih note yang terletak di atas pakaiannya..
-Maaf sayang tapi aku tidak kuat Vag..i ku sudah bengkak, jadi aku mau isi energi dulu-
-I love you😘
Bagas tersenyum lalu terkekeh "Gadis itu.." Bagas menggeleng "Tidak dia sudah bukan gadis lagi, dia istriku.." Bagas bahkan tak bisa marah pada Kanaya,dengan segera ia mengenakan pakaiannya sudah tidak sabar untuk menangkap istri nakalnya,senyum manis terus tersungging dari bibirnya.
.
.
.
Dalam beberapa menit ia sudah tau dimana Kanaya,Bagas bergegas untuk menemuinya ternyata lokasinya tak jauh dari hotel dalam waktu sepuluh menit saja ia sudah sampai di Restoran tempat Kanaya berada.
Bagas memarkirkan mobilnya, saat akan turun dari mobil dahi Bagas menggeryit ia melihat Edward dan Liza masuk ke mobil yang sama, Bagas berdecak "Awas saja jika dia macam macam" Bagas melanjutkan langkahnya Edward menjadi urusannya nanti tapi sekarang ia harus memastikan Kanaya baik baik saja.
__ADS_1
Dari arah pintu Bagas bisa melihat Kanaya duduk bersama Queen dan Anina, apa mereka juga melihat Edward tadi, tapi kenapa mereka terlihat biasa saja, apa lagi Kanaya yang selalu mengebu gebu untuk menghajar Edward, atau mungkin mereka tak melihat Edward.. baguslah setidak nya Bagas harus cari tau dulu sebelum mengambil kesimpulan, bukankah Edward mengatakan ia sudah jatuh cinta pada Anina, Bagas harus pastikan itu benar atau hanya bualan semata.
"Sudah puas isi energi nya?" Bagas menghampiri meja ketiga perempuan yang tengah asik bersenda sambil makan itu.
"Eh.. hehehe sayang ayok duduk kamu mau makan apa?" Kanaya langsung mengampit Bagas dan menarik kursi untuk Bagas, Bagas menampilkan wajah datar hingga Kanaya mengira Bagas tengah marah padanya.
Anina tersenyum, lucu sekali Kanaya ini baru saja ia bercerita menggebu gebu kesal pada Bagas.
"Sayang aku pesankan yah"
"Hmm"
"Kamu mau apa?"
"Apa saja"
"Loh, jangan dulu dong An, kita kan bisa ngobrol dulu" Tatapan Kanaya seolah meminta pertolongan agar Anina membantunya.
"Sudahlah sayang lagi pula gak baik merepotkan Anina,oh ya An terimakasih sudah menemani Naya, aku udah minta Roni untuk antar kamu" Bagas meletakan ponselnya setelah menerima pesan dari Roni bahwa dia sudah berada diparkiran.
Anina dan Queen sudah keluar dari Restoran, kini tinggal Bagas dan Kanaya yang masih bungkam sambil mencebik.
"Kenapa tidak bilang kalau 'itumu' sakit sayang.. maaf ya" nada bicara Bagas tiba tiba melembut,kemana tatapan tajam Bagas tadi dan membuat Kanaya takut.
__ADS_1
Kanaya mencebik "Memang kalau bilang, bakalan dilepas..?"
"Enggak,apa lagi kalau sudah kepalang tanggung" Bagas menyeringai.
"Ya ampun.." keluhnya
"Habis ini kita pulang, kita harus bersiap, nanti sore kita berangkat ke Turki"
"Aku gak mau ah, apalagi kalau disana tetep gak bisa jalan jalan"
"Tentu saja tidak sayang kita akan tetap jalan jalan"
"Benarkah..?"
"Hmm 90:10.."
"Hah..?"
"90 % dikamar, 10% jalan jalan" Kanaya mendengus, sama saja bohong.
.
.
__ADS_1
.
Waduh.... Bagas ini.. mentang mentang pengantin baruðŸ¤