Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn Edward-Anina (3)


__ADS_3

"Kamu sudah bangun?"


Deg..


Anina merasakan jantung nya berdebar kuat "Ya ampun apa yang ku lakukan" Anina merutuki dirinya, yang tertidur di ranjang tamu hotelnya.


"Sebentar, kamu harus melepas infus kamu dulu" Anina melihat kearah pergelangan tangannya,apa yang terjadi mengapa tangannya tertusuk jarum infus.


"Jam berapa ini? dan apa yang terjadi?" tanya nya.


"Ini sudah jam lima sore, aku gak tau, aku cuma disuruh menjaga kamu sampai kamu bangun, trus katanya kamu tadi demam jadi kamu tadi udah di periksa dokter, nah ini obatnya"


"Ya ampun apa aku bakalan kena masalah" Anina meremas rambutnya.


"Kayaknya enggak deh, aku disuruh langsung sama pemilik kamar ini jagain kamu, itu artinya dia gak akan laporin kamu, tapi melihat selang infus itu sepertinya manager sudah tau" Anina semakin gusar saja, bagaimana bisa ia tidur dan tak menyadari semuanya, terakhir ia tertidur karna merasakan kelelahan juga badannya yang tak enak, lalu bagaimana bisa dia merasa nyaman dan tak menyadari saat jarum infus menyentuh kulitnya, apa dia pingsan?


"Ami bagaimana ini aku gak mau di pecat"


temannya Ami yang menungguinya saat tidur tadi malah cengengesan. "Kamu kenapa?" Anina merapikan rambutnya yang berantakan kembali menggelungnya hingga rapi.


"Tau gak An, yang tadi nyuruh aku jagain kamu ganteng banget" Anina menepuk dahinya, mana peduli dia dengan ganteng atau tidaknya , yang penting adalah apa dia masih bisa bekerja disini atau tidak.


"Terus kayaknya dia suka sama kamu deh, makanya dia suruh aku jaga kamu,terus panggilin dokter segala,trus pas liat kamu tadi, tatapannya juga kelihatan khawatir gitu.."


"Ngaco.." Anina keluar dari kamar tersebut diikuti Ami.


"Beneran loh An, kalau kamu gak mau buat aku ya!"

__ADS_1


"Serah" Anina segera melangkah cepat keluar kamar, untuk menanyakan nasibnya pada Manager hotel.


Edward keluar dari persembunyiannya lalu menyunggingkan senyuman, sekarang dia sudah tau apa yang harus ia lakukan agar bisa bersama Queen.


.


.


Anina melangkah gontai keluar hotel lalu menghela nafasnya manager memang tak marah, namun ia menegur Anina agar tak melakukan kesalahan lagi.


Anina tetap bekerja dan masih harus melayani penghuni kamar 302 tersebut,sebenarnya siapa pemilik kamar itu, lalu kenapa harus Anina yang mengerjakan semuanya.


"Queennn mama kangen.." Anina memeluk Queen "Anak mama ngapain aja tadi dirumah?"


"Jalan jalan mah"


Queen menggeleng lalu mulutnya terbuka untuk menjawab, namun Bude Darmi segera menyela.


"Kamu sudah pulang An, sebelum peluk peluk Queen mending langsung mandi dulu, abis bersih baru, takutnya bawa virus dari luar"


"Eh, iya bude.. Queen mama mandi dulu ya" Bude Darmi menarik nafas lega setidaknya Anina akan lupa bertanya pertanyaan tadi, bude Darmi berharap Edward segera menemui Anina dan menyelesaikan permasalahan mereka dan bisa merawat Queen bersama sama, meski tak menikah setidaknya mereka bisa saling membantu dalam mengurusi semua kebutuhan Queen termasuk kasih sayang.


.


.


Anina mengerutkan keningnya saat pesan masuk ke ponselnya.

__ADS_1


'Pesankan saya makanan yang paling enak untuk sarapan'


Anina menghiraukan lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, ia sedang berada di angkot untuk berangkat bekerja.


'Jangan lupa bawa ke kamar 302'


Anina baru faham ternyata itu penghuni kamar 302 baiklah karna ia harus mengurusi penghuni kamar tersebut maka ia harus menuruti permintaannya.


'Baik pak, saya akan memesankannya jika sudah tiba di hotel' balasnya, benar kan sebutan pak, Ami bilang penghuni kamar itu laki laki yang kata si Ami ganteng.


'Saya gak mau masakan hotel, saya mau makanan luar yang paling enak'


Anina mendesah"Merepotkan" namun ia segera mengetik..


'Apa yang harus saya beli pak'


'Saya ingin makanan yang menurut kamu paling enak, itu yang akan saya makan' Anina makin keheranan kenapa dengan orang ini?


'Baik pak, apa anda punya riwayat alergi?'


'Saya alergi udang'


Baiklah berarti ia harus menghindari makanan terbuat dari udang.


Anina harus turun sebelum masuk ke hotel lalu berkeliaran mencari makanan yang paling enak, apa yang paling enak..? setahunya semua makanan itu enak, karna Anina termasuk penyuka semua jenis makanan, kecuali udang.. bukan tak suka, hanya saja Anina tak lagi memakan udang sejak tau Queen alergi udang.


Anina menghentikan langkahnya lalu menggeleng kenapa bisa Queen dan penghuni kamar 302 itu sama sama alergi udang, mengingat itu Anina jadi tersenyum , baru saja keluar rumah sudah rindu lagi putri cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2