
Edward baru saja tiba di hotel, dan merebahkan dirinya di ranjang, ia memijit pelipisnya lelah, sebenarnya apa yang dia cari dalam hidupnya, mengapa semuanya jadi berantakan,istri yang selingkuh hanya karna ambisi, punya anak diluar nikah,bahkan anaknya pun tak tau dirinya adalah ayah biologisnya, karna dirinya yang tak mau mengakui, bahkan dengan teganya ia berkata 'gugurkan saja'..
Yang lebih menyedihkan kini ia berakhir.. sendiri.. hanya sendiri.
Jika dia menuntut pengakuan dari Queen apa itu akan mudah, apa Anina akan mempersilahkan ia masuk ke kehidupan Queen,sedangkan dulu ia membuangnya.
.
.
Pagi sekali Edward sudah keluar dari hotel untuk pergi kerumah Anina, Edward mengawasi sekitarnya dan melihat Anina yang baru akan pergi bekerja, setelah beberapa saat Anina pergi Edward keluar dari mobil dan memasuki pekarangan rumah Anina.
Edward mengetuk pintu hingga keluarlah wanita paruh baya, "Cari siapa ya?"
"Saya Edward bisa bicara sebentar" Edward melihat kearah belakang perempuan paruh baya tersebut lalu tersenyum "Hallo Queen.." hati Edward membuncah satu bulan dia tak melihat Queen dan pertumbuhannya membuatnya pangling.
__ADS_1
Bude Darmi mengajak Edward berbicara di depan rumah mereka di kursi rotan "Silahkan duduk"
Edward menarik nafas panjang lalu melihat Queen yang bermain di dekat mereka, apa baik bicara di depan Queen, tapi tak ada pilihan lain, Edward hanya bisa mendekati Queen lewat belakang Anina, dia belum siap di tolak Anina, ia hanya ingin dekat dengan Queen.
Edward mulai ceritanya dari awal ia bertemu Anina hingga Anina hamil, dan terakhir penolakan nya terhadap kehamilan Anina.
Bude Darmi mengepalkan tangannya terlihat ia benar benar marah, orang macam apa lelaki dihadapan nya ini.
"Saya tau saya bersalah dan berdosa, tapi saya sungguh ingin memperbaikinya, saya ingin mengambil tanggung jawab pada Queen sebagai ayahnya"
"Lalu bagaimana dengan Anina?"
"Saya akan meminta maaf, dan saya tak akan mengusik Anina, saya juga tak akan mengambil Queen,anda tenang saja saya hanya ingin dekat dengan Queen,tolong izinkan saya"
Bude Darmi menghela nafasnya "Ini bukan kuasa saya, untuk sementara saya izinkan tapi saya harap kamu bisa selesaikan dahulu dengan Anina, jangan biarkan ini berlarut"
__ADS_1
Edward duduk di sebelah Queen "Hai Queen ini papa, mau main sama papa?" hatinya membuncah saat mengatakan itu,matanya bahkan sudah berkaca kaca, sedangkan Queen menatap Edward dengan mata bulatnya yang mengerjap perlahan.
.
.
Anina memijat tengkuknya yang terasa pegal,, sepertinya ia akan sakit. matanya sedikit berkunang dan badannya terasa hangat, beruntung jam kerjanya akan segera usai dan ia akan pulang lalu beristirahat.
Edward baru keluar dari mobilnya dan memasuki lobi hotel, dan seseorang menghampirinya "Tuan Edward selamat datang, kami merasa terhormat anda menginap disini,maaf saya baru bisa menyapa anda,apa anda memerlukan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakan nya pada saya"
"Tidak masalah tuan Liam, saya kemari untuk berlibur bukan untuk berbisnis jadi tidak perlu formal" Edward baru tau hotel yang ia tempati adalah milik rekan kerjanya.
Saat Edward berbincang dengan tuan Liam,Anina melewatinya dan Edward yang menyadari jika itu Anina segera memalingkan wajahnya, setelah Anina keluar Edward baru berani melihat kearah kemana Anina pergi "Dia bekerja disini" gumam nya.
"Ah tuan Liam boleh saya meminta sesuatu.."
__ADS_1