Ex Bastard

Ex Bastard
Pasangan mesum


__ADS_3

Edward baru saja tiba dirumahnya meski sudah lebih dari satu minggu ia tinggalkan demi kenyamanan Anina.


Langsung menuju dapur dan melihat Queen yang asik dengan tayangan Y**tube di ponsel Anina, Anina masih sibuk menata makanan diatas meja dibantu asisten rumah tangga.


Edward langsung menyelipkan tangannya dipinggang Anina, sontak saja Anina menegang lalu memukul lengan Edward yang lancang memeluknya tak punya malu apa dia lupa ada asisten rumah tangga juga disana.


"Auh.."


"Gak punya malu" Anina melotot, sedangkan Edward mengedikkan bahu acuh dan memberi kecupan di pipi Anina, lalu beralih pada Queen yang masih asik dengan ponsel Anina, Anina mendengus Edward selalu bertingkah semaunya main cium cium aja gak peduli Anina izinkan atau tidak.


"Hai.. sayang... papa dicuekin ini?" Edward mengecup pipi Queen.


Queen tertawa saat Edward menggelitiknya.


"Deli papa.." rengek Queen.


"Kok, tumben masaknya banyak banget?" Edward melihat aneka makanan di atas meja,pantas saja Anina sampai tak sempat menjawab telpon nya, rupanya masakannya sebanyak ini.


"Oh, aku lupa kasih tau, tadi Kanaya bilang mau ketemu tapi aku masih belum mau keluar,jadi aku ajak makan siang bareng dirumah aja,gak papa kan?" Edward mengangguk bagaimana pun Anina masih takut untuk keluar rumah takut mendengar cibiran orang tentang dirinya dan Queen, meski tak mengalami nya secara langsung namun tetap saja rasa takut itu ada.

__ADS_1


"Ya udah aku mau siap siap dulu badanku bau keringat"


"Mau aku temani..?" godanya, Anina mencebik lalu pergi meninggalkan Edward yang terkekeh.


Edward bermain dengan Queen sambil menunggu Anina selesai, tak berselang lama suara deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah, Edward langsung membawa Queen kedalam gendongannya untuk menyambut Kanaya dan Bagas yang datang pertama kalinya bertamu.


"Selamat datang.." Edward membuka kan pintu untuk Kanaya dan Bagas,Bagas menggiring Kanaya masuk tangannya tak henti menggenggam Kanaya "Possessif" dengus Edward.


Bagas tak peduli lagi pula yang merasa kan itu dirinya ia khawatir sejak bangun tidur Kanaya terlihat lemas namun memaksakan diri untuk bertemu Anina.


"Mana Anina?" Kanaya sudah tak terlalu ketus pada Edward melihat bagaimana Edward berusaha meluluhkan Anina, Kanaya mulai percaya padanya.


Edward akan menjawab namun Anina turun dan langsung menghampiri "Hai.. udah lama, maaf aku baru selesai" Anina memeluk Kanaya.


"Aku baik, kamu gimana?"


"Naya lagi gak enak badan tapi maksa buat kesini katanya khawatir sama kamu" Bagas yang menjawab,Anina juga melihat wajah Kanaya sedikit pucat, Bagas mengantar Kanaya, karna Kanaya memaksa untuk pergi.


Kanaya mendengus "Memang siapa yang buat aku kayak gini? Tau gak dia ngajak aku bercinta di bawah shower malam malam selama satu jam" Bagas meringis karna naluri pengantin baru nya masih menggebu membuatnya penasaran dan melakukan apa saja hal baru.

__ADS_1


Edward dan Anina kompak tersedak mendengar ucapan prontal Kanaya.


"Maaf sayang.." Bagas mengelus punggung Kanaya "Tapi suka kan, enak lagi.."


"Iya .. sih tapi efeknya jadi begini" akunya pipi Kanaya bahkan memerah sekarang.


"Heii.. kalian ini bicara sembarangan tidak lihat ada anak kecil" Edward menutup telinga Queen.


"Ck.. bilang saja kau iri" cibir Bagas.


"Sudah sudah.. ayo makan dulu, nanti makanan nya dingin" Anina memilih mengalihkan pembicaraan, tidak tau apa dia jadi canggung sendiri mendengar ucapan Kanaya, trus apa tadi dia bilang 'enak' dasar pasangan mesum.


Edward berdehem lalu membawa Queen kembali ke meja makan.. ia ingin mengumpat dasar tak berperasaan, tak tau apa dia sudah puasa lama, apalagi harus menahan diri saat di depannya ada Anina yang seperti magnet ingin di cumbu.


"Kapan kalian menikah..?" tanya Bagas, setelah mereka selesai makan.


Edward melihat Anina yang malah menggigit bibir bawahnya lalu berkata "Secepatnya.."


"Baguslah, kalau sudah yakin jangan ditunda tunda.."

__ADS_1


"Tapi jangan paksa Anina awas kamu!" Kanaya tak ingin Anina terpaksa hanya karena Queen saja sudah selayaknya Anina juga bahagia kan.


Anina tersenyum kearah Kanaya, entah apa yang dirasakan nya, mungkin awalnya ia melakukan itu demi Queen, namun melihat begitu gigihnya Edward melindunginya dengan Queen, membuatnya sedikit bergetar,juga Edward yang selalu bersikap lembut akhir akhir ini, tentu saja setelah penyesalan nya kala bersikap kasar karna cemburu.


__ADS_2