
"Bagaimana hasilnya?" begitu tiba di kantor ia sudah ditunggu oleh asistennya.
"Selama beberapa hari ini nona Liza belum melakukan transaksi lagi tuan, dia lebih sering berada dirumah dirumah"
"Sial, cari terus sesuatu yang bisa menjatuhkannya, bila perlu yang akan membawanya ke penjara"
Edward menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya lalu memejam. Edward melihat koper yang dibawanya untuk sementara ia akan tinggal dikantor saja.
Bisa saja ia tinggal di apartmen nya,ia memiliki beberapa unit, juga rumah besar lainnya, namun semua percuma jika tak ada Anina dan Queen di dalamnya, lebih baik ia di kantor dan menghabiskan waktu dengan bekerja, baru pergi saja ia sudah merindukan Anina dan Queen, bagaimana jika ia harus seharian penuh tak melihat mereka, Edward mengeluarkan ponselnya menampilkan foto Anina dan Queen yang sedang bermain, dan ia ambil secara diam diam.
"Bersabar Ed,, kamu harus selesaikan dulu Liza, baru bisa memulai hidup baru mu dengan tenang" gumamnya pada diri sendiri.
Edward teringat sesuatu,lalu menekan no Bagas..
.
.
.
Bagas dan Kanaya sedang berbulan madu, semalam mereka tiba di Turki, "Sayang ponselmu berdering..ah.."
"Biarkan saja... mh.."
Bagas tak peduli ia masih terus menghujam Kanaya yang terus Mende sah di bawahnya..
"Ah.. tapi.. Sayang bagaimana jika penting, mungkin itu dari Roni..bagaimanah jika tentangh pekerjaanh.."
"Sialan aku pastikan ia akan ku hajar nanti" Bagas melepaskan dirinya dari Kanaya, lalu mencium bibirnya sebelum beranjak.
Kanaya mendesah lega akhirnya Bagas bangun, sungguh demi apapun seluruh tubuhnya serasa remuk ,akibat gai rah Bagas yang tak pernah berhenti.
__ADS_1
"Kau mau mati" maki nya setelah tau siapa yang menghubunginya.
Edward terkekeh "Apa aku mengganggu mu?"
"Tentu saja bodoh..kau tak tau ini jam berapa" Edward melihat jam di tangannya pukul delapan pagi itu berarti diturki baru jam empat subuh.
"Maaf, aku lupa kau sedang diluar negeri, tapi aku yakin kau sedang tidak tidur bukan" ejek Edward.
"Sebaiknya katakan ada maksud apa kau menghubungiku" Bagas melihat Kanaya yang berjingkat pergi ke kamar mandi.
"Aku membutuhkan bantuanmu"
"Atas dasar apa?"
"Membantu teman tidak akan membuatmu rugi"
"Aku tak merasa pernah berteman denganmu"
"Bahkan aku tak sudi punya kerabat jauh macam kau"
"Sialan, baiklah terserah anggap aku apa pun, tapi setidaknya ini berhubungan dengan nama baik Queen, dan Anina" Bagas mulai mendengarkan.
Edward pun menceritakan semua yang terjadi hingga Liza yang mengancamnya, jadi itu alasan Edward berada di Restoran bersama Liza.
Bagas menghela nafasnya, "Baiklah hubungi Roni, dan dia akan mengenalkan mu pada seseorang"
"Apa harus dia?" Edward bahkan cemburu pada kedekatan Roni dan Anina, apa jadinya jika dia harus berhadapan dengan Roni, ia pasti ingin mencekiknya lebih dulu.
"Mengapa memangnya, tidak mau ya sudah, jangan hubungi..
"Baiklah aku akan menemuinya"
__ADS_1
"Oh ya aku melihat mu bersama Liza kemarin, aku tak yakin apa Anina juga melihatmu, aku kesana untuk menjemput Kanaya yang sedang makan dengan Anina dan Queen"
"Sial.." terdengar umpatan sebelum Edward mematikan ponselnya.
"Bedebah itu.." Bagas melihat ponselnya yang dimatikan Edward secara sepihak.
"Ada apa?" tanya Kanaya penasaran.
"Kenapa sudah mandi sayang? kita belum selesai" Bagas tak bisa memberitahu Kanaya itu akan merusak suasana hati Kanaya.
"Ish, badanku sakit semua, aku juga lelah" sejak turun dari pesawat Bagas tak berhenti mencumbunya.
"Maafkan aku sayang, aku tak bisa berhenti saat melihatmu, rasanya aku ingin melihatmu berada dibawahku dan terus mende sahkan namaku sayang"
"Bajingan mesum" umpat Kanaya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Bagas terkekeh, lalu berbaring disisi Kanaya "Baiklah sekarang akan aku lepaskan tapi jangan harap besok lagi" Bagas memeluk Kanaya dan membiarkan Kanaya terlelap.
.
.
.
Abis nikah Bagas tambah mesum bae..ðŸ¤
Like.
komen.
vote.
__ADS_1