
Bagas uring uringan sejak tadi ia tak bisa menghubungi Kanaya, dan orang suruhan nya bilang jika nona Kanaya sedang melakukan kunjungan ke cafe yang lain di temani Bima, Ya sejak Kanaya bersedia kembali, Bagas lebih posesif lagi dan kembali menempatkan orang untuk menjaga dan mengawasi Kanaya.
"Roni, pastikan si Bima sialan itu tak macam macam pada Naya ku"
"Baik tuan" Roni hanya mengangguk.
"Lalu kenapa sekarang ponselnya tak aktif"
'Mana aku tau tuan'
"Mungkin ponsel nona kehabisan baterai tuan, dari laporan terakhir yang di dapat mereka masih berada di cafe cabang mereka di Bogor"
"Astaga jauh sekali"
'Nona Kanaya tidak keluar pulau apa lagi keluar negeri tuan' Roni hanya bisa mengelus dada.
"Oh ya tuan lima belas menit lagi kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan S&J "
"Aku tau, kau berisik sekali"
Roni menghela nafasnya bukan kah dari tadi tuannya lah yang berisik, bahkan tuan Bagas masih mengumpat dan terus menghubungi ponsel nona Kanaya yang tidak aktif,Roni benar benar harus bersabar.
"Oh ya tuan mengenai hadiah yang anda kirimkan pada tuan Azka beliau sudah mengembalikannya"
"Di kembalikan lagi?" Bagas melongo tak percaya bahkan ia harus berebut dan menghabiskan banyak uang untuk mobil edisi terbatas yang hanya ada dua di dunia.(😁)
Sudah berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan hati Azka,dengan memberikan berbagai hadiah namun selalu berujung penolakan dan pengembalian barang.
Bagas mendesah frustasi apa yang harus dirinya lakukan, tak ada sesuatu yang baik sudah tiga hari ia tak bertemu Kanaya dan semua hadiah selalu ditolak Azka dan sekarang Kanaya malah melakukan perjalanan bisnis dengan si Bima sialan itu.
Bagas menjambak rambutnya "Sial.."
__ADS_1
Bagaimana caranya agar mendapat restu dari Azka dan Daddy dari Kanaya haruskah dirinya bertanya pada mesin pencarian..
"Tuan jika boleh saya memberi saran.." Bagas menggeleng.
"Tidak, bagaimana bisa kau punya saran sedangkan kau sendiri belum punya pacar, aku tak percaya padamu"
Roni menghela nafasnya 'Ya.. sudah jika tak mau tau' biarkan saja tuannya itu berusaha sendiri.
"Bagaimana dengan saham?, aku akan memberikan sahamku untuk kakak ipar" Bagas bahkan sudah merubah panggilannya menjadi kakak ipar dan Ayah mertua pada Azka dan Adam.
"Tuan Azka bukan orang miskin yang kekurangan uang tuan, buktinya semua hadiah yang anda beri ditolak mentah mentah" semua hadiah yang Bagas berikan tak main main harganya,namun berakhir penolakan.
"Kau benar.. lalu aku harus apa?"
"Sesuatu yang berharga tak hanya uang tuan"
"Kau benar, bagiku Naya yang paling berhar-ga.."
Roni mengangguk lalu Bagas berjengit benar baginya Naya yang paling berharga ia berani memberikan semuanya untuk Kanaya nya...itu berarti.... Roni mengangguk sambil tersenyum.
Bagas lalu tertawa, "Kenapa baru terfikir olehku Roni..ck.. kenapa tidak dari kemarin saja, aku hanya membuang waktu" Bagas baru menyadari siasatnya salah,padahal dia sudah menyelidiki apa saja yang Azka sukai.
"Aku ingin memberi tau tapi anda tak mendengar..."
"Ckk.. kau ini" disaat yang sama ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
-Maaf ponselku kehabisan baterai-
Lalu Bagas segera menghubungi no tersebut.
.
__ADS_1
.
.
.
Kanaya sedang meninjau cafe Azka yang berada di Bogor saking sibuknya dirinya tak menyadari jika ponselnya mati.
Sebenarnya ia merasa canggung saat harus pergi berdua dengan Bima, tapi beruntung Bima pun bersikap profesional.
Sejak kejadian itu Bima langsung meminta maaf pada Kanaya, Bima memang sedikit kesal, bukan sedikit tapi banyak karna Kanaya memilih Bagas, tapi ia kembali tersadar kembali jika cinta tak bisa dipaksakan berkat seseorang yang mengingatkannya, ia harus berterimakasih pada Mima gadis itu berhasil menyadarkannya jika dia sudah bersalah pada Kanaya dan Bagas, dan kini Bima benar benar menjalani kegiatan kerjanya dengan Kanaya dengan hati ringan,
Bima dan Kanaya sedang makan siang dengan menu di cafe yang mereka tinjau, Kanaya baru saja mengeluarkan ponselnya dalam tas lalu melihat ponselnya mati, beruntung dirinya membawa penambah daya cadangan, hingga tak perlu kerepotan.
"Ayo makan dulu" Bima menyodorkan sebuah piring pada Kanaya.
"Sebentar kak, ponselku mati" Kanaya berhasil menyalakan ponselnya kembali,
lalu mengambil piring dari tangan Bagas. "Terimakasih.."
Tak berapa lama ponsel Kanaya berbunyi tiada henti hingga beberapa notifikasi muncul, dan Bima melihat semua.
"Ck.. dasar posessif.." cibir Bima.
Kanaya meringis..
120 panggilan tak terjawab..
dan
74 pesan...dari Bagas.
__ADS_1
Lalu Kanaya mengetikan pesan..
-Maaf ponselku kehabisan baterai-