
Bagas terus mendekat, Kanaya bahkan menyilangkan tangannya di dada "Mau...apa...??"
"Aku mau kamu" suara Bagas terdengar serak.
Degh...
Jantung Kanaya hampir copot sekarang "Ja..ngan... macam macam ya!" Kanaya merasakan lututnya lemas kala jari tangan Bagas mengusap pipinya lalu beralih ke bibir dan turun ke leher terus turun dan...
grep..
Bagas menarik tangan Kanaya yang menutupi dadanya, Kanaya hampir memekik saat Bagas menariknya "Ayo.." Bagas membawanya berjalan santai menyusuri ruangan di rumah besar miliknya. "Kita lihat lihat rumah ini" lanjutnya.
Kanaya menghela nafasnya lega, hingga helaan nya terdengar oleh Bagas lalu menghentikan langkahnya "Kenapa?"
"Apanya?"
"Jangan bilang kamu memikirkan yang tidak tidak?" pipi Kanaya merona.
"Yang.. tidak tidak apa..?" gugup nya
"Lihat pipi kamu merah, ah kamu fikir aku akan.." Bagas tersenyum lalu menunjuk Kanaya dari atas sampai bawah, sontak saja Kanaya menyilangkan tangan nya kembali di depan dada.
Bagas tertawa terbahak.. "Benarkan kamu berfikir seperti itu, kamu fikir aku akan mencium mu lalu mencu mbu lalu...hmmp.." Kanaya membekap mulut Bagas yang bicara mesum.
"Diam.. sialan!" Bagas makin terbahak.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan itu Naya..! meskipun aku ingin.." Bagas kembali menggerlingkan matanya.
"Kau..!"
"Aku tidak akan melakukan nya sampai kamu menentukan untuk memilihku, jadi sampai saat itu tiba aku akan menahannya meskipun aku merindukan rasa bibir kamu.." bisiknya, Kanaya makin merona "Kecuali kamu yang mau... kamu mau... jadi bagaimana mau.."
"Bagas...!!"
"Baiklah kalau mau ayo.." Bagas mencondongkan tubuhnya.
"Bagas diam!!" Kanaya mendorong tubuh Bagas, lalu berjalan menjauh meninggalkan Bagas yang masih terbahak.
Kanaya mengedarkan pandangannya menyusuri ruang demi ruang dirumah Bagas, waktu itu saat Bagas mengajaknya kesana, salah ... tapi memaksanya kesana ia tak memperhatikan rumah Bagas karna dikuasai kemarahan,langkah Kanaya terhenti.. ia menyadari sesuatu..
Bagas mengikuti Kanaya satu meter di belakangnya ikut berhenti namun tidak mendekat, Kanaya meneruskan langkahnya lagi.. dengan hati yang semakin berdebar melihat ruang demi ruang, hingga ia teringat sesuatu.
"Rumah yang,, dikelilingi taman agar nanti anak anak ku bisa bermain dan berlarian, semua ruangan harus di isi dengan perabot yang aku inginkan.. tidak perlu besar tapi harus lengkap ada home teater, ruang musik, ruang bermain anak.. juga.."
"Kalau ada home taeater dan ruang musik bagaimana tidak besar.."
"Kamu potong pembicaraan ku..aku belum selesai.."
"Baiklah, tapi aku bingung jika rumahnya tidak besar bagaimana akan ada bioskop dan ruang musik juga ruang bermain?"
"Kamu bicara seolah akan membuatkan nya" ketus Kanaya "Rumahku ya terserah aku.."
__ADS_1
"Tentu saja aku yang akan membuatkannya memangnya siapa lagi..!"
"Ish.. nanti suami ku yang akan buat" Kanaya memalingkan wajahnya.
"Karna itu aku yang akan membuatnya karna aku yang akan jadi suami mu.. aku kan pacar kamu"
"Pacaran belum tentu menikah.." Kanaya mencebik.
"Memang mau menikah dengan siapa? lagi pula aku tidak akan membiarkan kamu menikahi pria lain,pokoknya kamu harus menikah denganku, dan aku yang akan membuatkan rumah itu untuk mu, baiklah lanjutkan apa lagi yang harus ada dirumah kita nanti..?"
.
.
Kanaya menelan ludahnya kasar semua yang ada di depannya seperti keinginan nya, lalu Kanaya memasuki home teater didalamnya ada delapan sofa bed yang menghadap layar besar empat diantaranya disatukan masing masing dua sofa hingga terlihat seperti sebuah ranjang tak lupa sebuah selimut diatasnya "Kamu mau menonton?" Kanaya memang suka menonton karna itu ia ingin ada bioskop dalam rumah agar tak perlu mengantri membeli tiket.
"Semuanya untuk kamu,aku sudah menepati janjiku untuk membuatkan nya, semoga ini seperti yang kamu mau, meski mungkin tidak akan ada aku di dalamnya"
__________
.
.
__ADS_1
.