
Jantung Kanaya bergedup kencang saat memikirkan sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Nandowijaya, Kanaya menghirup, dan mengeluarkan nafas berulang kali untuk meredakan kegugupannya.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu membuatnya mengalihkan pandangannya dari cermin yang sedang mematut tubuhnya "Hay.." sapaan dari perempuan yang melongokkan wajahnya ke celah pintu sebelum ia masuk sempurna.
"Masuk..!" seru Kanaya yang langsung mengeret Anina masuk kedalam kamarnya.
"Cantiknya..pengantin satu ini" Kanaya tersipu. "Terimakasih.."
Anina menyerahkan sebuah kotak kepada Kanaya
"Aku harap itu bukan kenangan kita yang kamu robek" Anina terkekeh.
"Aku bukan kamu.."
"Ya hanya aku mantan yang akan memberi kado pada pesta pernikahan mantannya yang membawa barang yang sudah rusak" Kanaya tertawa.
"Kamu bukan mantan, karna sebenarnya hubungan kalian gak pernah berakhir meski nyatanya kalian sempat terpisah karna aku" Lirih Anina "Maaf, karna sudah melibatkan kalian.. aku harap setelah ini kamu dan Bagas selalu bahagia" doa tulus Anina ucapakan untuk dua sahabatnya yang sudah menanggung derita karna dirinya.
"Sudah lah itu sudah berlalu jangan diungkit terus, oh.. mana Queen?"
"Ada diluar bersama Edward" Kanaya mengeryit.
"Kamu bersamanya?" Anina mengangguk
"Dia meminta ku menikah,kami bahkan sudah satu minggu berada disini"
__ADS_1
"Dan kamu mau?"
"Itu kemauan Queen, dan aku akan melakukan apa pun untuk Queen"
Kanaya mendesah "An, ini bukan cuma soal Queen, tapi juga soal perasaan kamu, apa kamu bisa bahagia hidup dengan bajingan itu?"
"Aku bahagia jika Queen bahagia, Queen adalah hidupku Ay,aku akan lakukan apapun, dia selama ini tak punya sosok ayah, dan Edward datang dengan membawa kasih sayang untuk Queen" Kanaya tau, karna selama pernikahan Anina dan Bagas, Bagas memang tak pernah memperhatikan Queen, hanya baru akhir akhir ini saja Bagas mulai mendekat.
Mendadak Kanaya merasa bersalah karna datang lagi ke hidup Bagas "Jangan bilang kamu merasa bersalah?" tebak Anina. "Denger Ay, yang harus disalahkan itu aku, aku yang menghancurkan hubungan kalian dan merusak persahabatan kita.." Kanaya menggeleng.
"Bukan, bukan kamu yang salah, yang harus disalahkan harusnya si bajingan Edward, dia menanam kecebong diam diam lalu setelah menjadi kodok tak mau bertanggung jawab..cih" Kanaya berkata dengan geraman.
"Iya benar harusnya ini salah si bajingan mesum itu.." tawa Anina pecah mendengar perumpamaan Kanaya.
Alyla masuk setelah mengetuk pintu, "Sudah puas bercandanya?"
"Hallo tante.." Sapa Anina.
"Hay sayang,panggil mom jangan tante dong kayak sama siapa aja,oh ya, mom liat Queen udah duduk cantik sama.." Alyla bingung mau menyebutnya apa.
"Mereka akan segera menikah mom" jelas Kanaya.
"Oh ya selamat.." Alyla bahkan menggenggam tangan Anina lembut
"Terimakasih mom" Senyum Anina terukir meski hatinya terasa getir,Anina tak punya pilihan lain, jika bisa ia ingin pergi berdua, melarikan diri dengan Queen, tapi apa bisa,, juga dengan Queen yang semakin menyayangi Edward,tidak ada cara lain selain pasrah dengan keputusan Edward.
__ADS_1
"Ayo sayang akad nya akan segera dimulai" Alyla mengampit Kanaya yang terlihat anggun dengan kebaya putih khas pengantin dengan ekor panjang menyapu lantai, Anina membantu membawa ekor dari kebayanya dari belakang agar tak terinjak.
.
.
Bagas mengusap wajahnya lagi dengan tisu, sambil bergumam menghapal mantra yang akan menjadikan Kanaya miliknya seutuhnya,Roni bahkan sudah memegang botol air ketiga karna Bagas terus minta minum.
"Tuan, jika anda minum terus nanti anda ingin ketoilet.." Bagas tak hiraukan dan terus menghapal baris per baris kalimat di secarik kertas kecil di depannya.
"Ini lebih sulit dari pada mempelajari berkas Roni"
"Anda berkata seolah ini pertama kalinya" ah benar dulu saat ia menikah dengan Anina dia tak gugup sedikitpun bahkan terkesan masa bodoh, tapi hari ini ia ingin semuanya sempurna dan berkesan seolah inilah pernikahannya yang sesungguhnya.
"Apa aku mengganggu.." Edward masuk dengan Queen "Aku bingung berada diluar sedangkan Anina juga menemui Kanaya" Tanpa di suruh Edward duduk di sofa yang ada di kamar Bagas.
"Ck.. kau bertanya tapi masuk lebih dulu" Bagas melihat Queen di pangkuan Edward tersenyum kearahnya.
"Hallo Queen gak mau peluk papa"
Edward berdecak sambil menatap Bagas tajam "Aku papanya!" tegasnya.
Bagas terkekeh, setidaknya dia bisa menghilangkan sedikit ketegangannya dengan menggoda Edward"Sebelum kau aku yang jadi papanya"
"Lupakan dulu, sekarang hanya aku papa Queen"
__ADS_1
Bagas mengangguk "Sini sama Daddy Queen"ajak Bagas, Queen melihat kearah Edward seolah meminta izin, Edward menurunkan Queen dan Queen berlari kearah Bagas untuk memeluknya.