
Pesawat yang membawa Ayah Bagas baru mendarat di bandara,Ayah Bagas berencana akan langsung menuju hotel tempat diadakannya makan malam bersama, sedangkan Bagas sudah tiba di hotel untuk memastikan semua berjalan sempurna.
Semua kejutan sudah ia siapkan, berharap Kanaya mau menerima lamarannya, lebih bagus lagi jika Azka pun merestui tapi kalau pun tidak bukan kah yang penting restu Adam dan Alyla.
Keluarga Kanaya sudah tiba di lobi dan langsung diarahkan menuju tempat dimana sudah Bagas persiapkan.
"Ayah gak nyangka kamu punya hubungan dengan putri Adam Sadewo,apa itu alasan kamu menceraikan Anina"
"Kanaya gak ada hubungannya dengan perceraian ku, lagi pula aku sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan Naya sebelum Anina"
"Ayah tau sejak menikah kamu gak mencintai Anina tapi, Ayah tidak menyangka jika Queen bukan anak mu" Ayah Bagas menghela nafasnya,ia sudah tau jika Queen bukan cucu kandung nya, dan Bagas hanya menikahi Anina demi menjaga kehormatan Queen dimasa depan.
"Queen tetap anak ku" Bagas merasa bersalah karna sudah menelantarkan Queen meski nyatanya Queen bukan anak nya, tapi Queen tak bersalah, sudah sepantasnya Bagas menerima Queen meski ia tak menerima Anina.
"Ya.. Ayah mengerti, semoga mereka baik baik saja sekarang"
"Mereka baik baik saja, dan Anina akan mendapatkan Ayah yang baik untuk Queen"
__ADS_1
Ayah Bagas menepuk bahu Bagas "Maafkan Ayah selama ini yang tak memperdulikan kamu,dan sudah lalai sebagai seorang Ayah"
.
.
Keluarga Adam sudah tiba dan dipersilahkan duduk, Bagas menghampiri lalu menarik kursi untuk Kanaya.
Untuk sesaat Bagas bahkan terpaku melihat Kanaya yang begitu cantik dengan balutan dres berwarna navi, dan rambut dibiarkan tergerai menutupi punggung nya yang terbuka "Kamu cantik.." bisiknya,Kanaya mengulum senyumnya lalu berkata terimakasih tanpa suara.
"Apa kabar tuan Wijaya?"
"Baik terimakasih,, mari mari silahkan" mereka sudah duduk di kursi masing masing yang melingkari meja, tak lama satu persatu hidangan di sajikan mulai dari makanan pembuka, hidangan utama dan penutup.
Sepanjang acara makan malam tersebut tangan Bagas tak lepas dari tangan Kanaya, dibawah meja tangan mereka saling menggenggam.
"Bagas anakku juga sudah menceritakan tentang hubungannya dengan putrimu" Ayah Bagas mulai bicara setelah makanan mereka dibersihkan dari meja kini mereka tengah menikmati teh. "Aku cukup terkejut dengan itu, dan dia juga ingin aku melamar putrimu untuknya"
__ADS_1
Kanaya menunduk malu, sedangkan Bagas tak mengalihkan pandangannya dari Kanaya. "Tapi aku juga ingin tau tentang pendapat kalian tentang status putraku yang seorang duda" Ayah Bagas tersenyum lalu memperhatikan raut keluarga Adam dan tak ada yang terkejut, tampaknya mereka semua sudah tau.
"Mengenai status kami tak mempermasalahkannya kami sudah tau tentang itu, namun jika tentang lamaran biarkan Kanaya yang memutuskan"
"Bagaimana sayang?" tanya Adam pada Kanaya,Kanaya mendongak menatap Adam "Meski sebenarnya daddy belum siap melepas kamu, tapi usia kamu memang sudah pantas menikah tapi kamu tetap putri kecil daddy dan mommy, jangan takut katakan apapun yang kamu mau, jika kamu menolak maka dad akan..
"Aku mau dad" potongnya, tentu saja semua orang disana tertawa dengan jawaban spontan Kanaya.
Bagas mengeratkan tautan tangannya di jari Kanaya lalu tersenyum, sedang Kanaya wajahnya semakin menunduk malu.
"Terimakasih sayang" bisik Bagas.
.
.
Like, komen, vote..
__ADS_1