
"Queen?" Queen melihat kearah pria yang sejak tadi menemani nya "Kamu yakin mau berangkat sekarang?"
Queen mengangguk "Terimakasih sudah temani aku Arman" Queen sengaja mengecoh Raja seolah dia sudah berangkat semalam padahal Queen masih di Yogyakarta, hingga dia nanti tak bertemu Raja di Jakarta, benar saja Arman melihat Raja di bandara pagi pagi sekali mungkin akan menyusul Queen ke Jakarta.
"Kamu yakin tak mau mendengar penjelasan Raja terlebih dulu,mungkin Selin berbohong"
"Lalu bagaimana dengan hasil tes dari dokter dan foto USG nya.. aku ingin egois tapi anak itu butuh ayahnya Arman, lagi pula aku.. tidak akan sanggup.."Queen menggeleng,matanya lagi lagi meneteskan bulir bening, tentu saja Queen tak akan sanggup memaafkan Raja jika memang Selin benar mengandung anak Raja,jelas saja dari usia kandungan Selin di ketahui bahwa Raja melakukan itu setelah mereka menikah,itu berarti Raja sudah menodai pernikahan mereka, meski pernikahan mereka di dasari perjanjian, tapi bukan kah Queen meminta Raja untuk tak bertemu kekasihnya selama masa perjanjian mereka, berhianat.
Arman menghela nafasnya,sulit memang jika bukti yang ditunjukan Selin kuat tapi Arman tetap tidak percaya,mengingat dulu dirinya pernah di fitnah oleh wanita ular itu,berkata seolah Arman melakukan kekerasan padanya,hingga Raja memusuhinya hingga sekarang.
Terdengar suara panggilan keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Queen menguar, dan Queen segara meraih kopernya "Sekali lagi terimakasih Arman.. semoga lain kali kita bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik"
"Kamu berkata seolah akan memutuskan hubungan pertemanan kita" Queen terkekeh.
"Aku akan terus mengaktifkan email ku jika kamu mau kirim undangan pernikahan,dan jangan terlalu lama nanti keburu tua.."
"Benar kan, mengapa email, lalu nomor mu? dan aku tidak mau undangan ku ku kirim lewat Email, lebih baik aku tak mengundang mu" Queen menggedikkan bahunya "Aku harap kamu hanya menenangkan hati kamu sebentar Queen, tak baik lari dari masalah, setidaknya selesaikan dahulu baru kamu bisa tenang, entah keputusan apa yang kamu ambil nantinya"
__ADS_1
Queen memeluk Arman "Terimakasih Arman aku seperti punya kakak laki laki"
"Kalau begitu kamu harus memanggilku kakak mulai sekarang" Queen mengurai pelukannya, lalu tersenyum.
"Baiklah kakak.."
.
.
Edward tidak menyangka jika semua akan seperti ini, meski sejak awal Edward tidak setuju dengan niatan Queen menikahi Raja apalagi hanya untuk membuat Raja berada di posisinya, namun Edward kira pemandangan yang ia lihat di Bali begitu meyakinkan dan tulus dari keduanya, namun lagi lagi Raja brengsek itu mengecewakannya dengan membuat Queen menangis saat menghubunginya, dan mengatakan bahwa Raja menghamili kekasihnya.
Edward melihat ke arah Anina yang menangis sedih "Sudah lah sayang Queen akan baik baik saja"
"Baik bagaimana, dia sedang patah hati"
"Dia patah hati sejak lama"
__ADS_1
"Iya dan kamu membiarkannya" Anina mendelik kesal kearah Edward, yang menyetujui rencana konyol Queen dan berakhir gagal.
"Sebenarnya ini tidak bisa di sebut gagal, karna aku lihat Raja sudah jatuh cinta pada Queen, kamu lihat tadi Raja begitu frustasi.." Edward menyadari dari tatapan Raja yang memohon bahwa dia cukup tulus mengharapkan Queen.
"Ya tapi percuma mereka tak bisa bersama" Anina menyeka hidungnya dengan tisu.
"Itu kan tujuan Queen kita, membuat Raja jatuh cinta lalu meninggalkannya"
"Ck, tetap saja Queen tersakiti,dengan kenyataan Raja berselingkuh apa lagi sampai perempuan itu hamil,"harusnya Queen pergi dengan bangga, namun Queen malah pergi dengan hati yang semakin hancur.
Edward menghela nafasnya lelah "Lalu dimana Queen sekarang?"
"Di penerbangan menuju Belanda"
"APA?" teriak Anina dia terkejut "Edward Delvino..kamu!!" Anina mendelik,sedang Edward hanya tersenyum meringis,jika Anina sudah memanggilnya dengan nama lengkap itu artinya dia benar benar marah.
"Biarkan saja sayang, dia butuh waktu untuk sendiri,lagi pula ada Granny nya disana"
__ADS_1