
"Kamu yakin Anina tak melihat itukan?" tanya Edward pada asisten nya.
Edward sengaja membuat klarifikasi itu pada hari ini saat dirinya juga akan menjebak Liza agar tertangkap dengan begitu berita tentangnya akan teredam dengan berita yang lebih heboh dari Liza,Edward takut Anina akan salah faham padanya.
Jika dirinya tak menunjukan penyesalannya terhadap Liza, maka orang orang akan curiga padanya, Edward bukan orang yang suka bermain peran hanya saja ia mengikuti alur permainan Liza, dan bermain bersih.. Edward juga menyalahkan dirinya sendiri karna memang dirinya lah yang bersalah.
.
.
Liza memasuki sebuah hotel dengan kartu akses yang sudah di pegangnya,transaksi sudah deal, dan uang muka sudah Liza terima dengan jumlah yang tak main main, bahkan Liza kira ini adalah bayaran termahal yang pernah ia dapatkan.
Andai Liza tak bercerai dari Edward ia tak akan mau menjual tubuhnya, namun karirnya yang terpuruk membuatnya frustasi, dan ia juga membutuhkan uang yang tak sedikit untuk biaya hidup juga gengsinya.
Di perjalanan menuju kamar yang sudah pelanggannya sewa sebuah pesan muncul.
-Mbak Liza saya sudah selesai dengan Pak Suryo, bagaimana sisa uangnya?-
-Saya akan transfer-
Liza pun mentransfer sejumlah uang pada model baru yang baru saja melayani pria hidung belang,model model yang membutuhkan uang untuk gaya hidupnya,dan melalui Liza mereka bisa mengenal para lelaki kurang belaian, dan mendapatkan uang.
Memasuki kamar yang cukup mewah yang sudah disediakan Liza mulai berlenggok saat melihat pelanggan baru yang kata managernya itu kaya dan pengusaha luar negeri.
Tak perlu waktu lama bahkan dengan keahlian Liza sekejap saja adegan sudah berubah menjadi erotis dan panas.
__ADS_1
Liza terlarut dengan pesona tuan tampan yang menyewanya,ia terus men desah dan berteriak saat tuan yang menyewanya mendominasi dengan sangat lihai..Liza tak menyadari pria didepannya menyeringai..
Saat suasana semakin panas tiba tiba pintu kamar hotel terbuka dengan paksa..
Brak..!!
Wajah Liza pucat pasi melihat segerombolan orang mendatanginya apalagi salah satu dari mereka membawa kamera.
Tangan Liza bergerak mencari apa saja untuk menutupi tubuhnya, namun naas selimut pun telah terlempar jauh hingga ia hanya bisa menarik sprei yang sudah kusut akibat percintaan yang belum tuntas.
.
.
.
.
Edward melihat pintu balkon terbuka.. Edward membawakan selimut lalu menyampirkannya di bahu Anina.
Anina mendongak saat merasakan kehangatan dari selimut yang Edward berikan.
"Disini dingin.."Edward ikut berdiri disisi Anina yang memandang jauh kedepan.
"Ada yang mau kamu tanyakan?" Anina mengalihkan pandangannya pada Edward.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan itu?"
Edward menghela nafasnya "Semua sudah tau sebelum aku membeberkan semuanya, aku hanya mengklarifikasi, bahwa kamu bukan pelakor seperti yang orang lain tuduhkan"
"Lalu bagaimana dengan Queen?"
"Semua akan hilang seiring berjalannya waktu, berita itu akan tertimbun dengan berita berita baru yang muncul, bila perlu kita pergi ke tempat dimana tidak ada yang mengenal kita.. jika itu bisa membuat kamu tenang" Edward menggenggam tangan Anina "Aku sungguh sungguh An, aku menyayangi kalian aku gak akan biarkan kamu dan Queen kesulitan dalam hal apapun, aku akan jadi tameng pertama jika ada yang menyakiti Queen" Manik Anina menatap Edward mencari keraguan, namun Anina malah menemukan mata tulus memandangnya dengan penuh perasaan, jika saja ini bukan malam hari pasti Edward bisa melihat semburat merah jambu di pipi Anina, ditambah lampu balkon yang sengaja dimatikan dan hanya berpendar dari cahaya bulan membuat Anina bisa melihat Edward yang begitu.. tampan.
Edward menyingkirkan rambut Anina yang terbang terbawa angin malam menutupi wajahnya "Aku mencintai kamu An, aku tau ini terlalu cepat untuk kamu percayai, maka dari itu aku harap kita akan sama sama belajar untuk saling mencintai anggap saja begitu.. kamu bersedia bukan?"
Ponsel Edward berdering mengalihkan atensinya dari Anina, Edward ingin mengumpat jika saja telpon yang ia tunggu juga penting "Ya.."
"Semua sudah selesai tuan"
Edward menghela nafasnya "Ya, terimakasih"
"Tapi tuan, Tuan Felix meminta imbalan lebih"
"Katakan padanya aku akan berikan dia dua kali lipat" Edward mematikan ponselnya.
"Ada apa?"
Edward beralih kebelakang Anina dan mendekapnya dari belakang "Semuanya sudah berakhir" Edward bersyukur masalahnya tak serumit yang terlihat, semoga setelah ini tak ada masalah yang datang lagi di antara Edward dan Anina.
Anina yang bingung dengan jawaban Edward tak bisa bertanya lebih, tubuhnya mendadak kaku saat merasakan hangatnya dekapan Edward.
__ADS_1