Ex Bastard

Ex Bastard
Begitu mencintainya


__ADS_3

Queen tak bisa memejamkan matanya meski sudah mendekati pagi, fikirannya terus melayang pada saat Azka berbisik padanya, sungguh hati Queen serasa di tusuk sembilu.. sakit.


Selin..? nama itu terus terucap oleh Raja ditengah racauannya, siapa Selin?


Bodoh.. Queen memukul kepalanya tentu saja Selin pasti kekasih Raja, karna Raja juga terus meracau 'aku mencintaimu Selin' lalu apa yang terjadi hingga Raja mabuk, apa mereka putus karna Raja menikah dengannya? hingga Raja frustasi dan mabuk .. apa dia begitu mencintai perempuan bernama Selin itu.


Semakin lama rasanya semakin sesak, Queen memilih bangun saat jam wekernya berbunyi pergi membersihkan diri dan melangkah ke dapur untuk membuat sarapan Queen memutuskan untuk membuat Roti panggang selai setidaknya Queen bisa karna itu yang paling mudah, lalu menyeduh kopi, entahlah itu enak atau tidak yang pasti ia sudah menyiapkannya,meski ia tak yakin Raja memakannya atau tidak.


Raja keluar dari kamar dengan penampilan rapi dan segar dengan stelan kerja yang sudah melekat dan itu pakaian yang Queen siapkan ,melihat Queen sudah duduk di meja makan sambil memakan sepotong roti ,Raja tak menemukan Queen dan barang barangnya dikamar nya tadi, itu berarti gadis itu menurut untuk tidak satu kamar dengannya."Kakak sudah bangun" Queen bangun dari duduknya lalu tersenyum "Mau sarapan? maaf tapi aku hanya membuat roti" Tanpa kata Raja duduk di depan Queen lalu meminum kopi yang disodorkan Queen, tak ada reaksi wajah Raja tetap datar, Queen ingin bertanya apa rasanya enak? namun melihat Raja yang diam dan tak memuntahkan kopinya setidaknya itu sudah cukup.


Mereka sarapan dengan hening, Queen tak menyangka Raja akan memakan makanannya dan duduk berhadapan dengan Queen.


"Aku harap kamu tidak mengatakan pada bunda jika aku mabuk semalam" gerakan Queen terhenti saat merapikan piring bekas mereka sarapan "Dan juga, tentang perjanjian pernikahan hanya kita yang tau" setelah mengatakan itu Raja pergi tanpa berpamitan lagi dan meninggalkan Queen yang masih mematung.. ah, mengapa ia tak berfikir sejauh itu, mengapa ia tak hubungi bunda Yasmin, tentang kelakuan anak kesayangan mereka.


Queen mengedikkan bahunya memutuskan bangun dan mencuci piring, Queen meringis saat merasakan perih di jarinya yang hampir semua terluka memasak bukan hal mudah terlebih bagi Queen yang tak terbiasa,beberapa kali jarinya terluka saat mengiris sayuran.


Usai mencuci piring Queen mengganti plaster lalu terkekeh melihat tanganya yang banyak tertempeli plaster, tentu saja ia bangga karna bisa memiliki luka tersebut, seumur hidupnya ia baru kali ini terluka karna mengupas bawang dan memotong sayuran.


"Queen..?kamu tinggal disini juga?" Queen mendongak saat mendapati seseorang memanggilnya ia sedang berada di dalam lift hendak membeli makan siangnya, seharian di apartmen juga membosankan sepertinya ia akan mencari kegiatan nanti.


"Oh, hai Arman, kamu juga disini"

__ADS_1


"Ya aku satu lantai di atasmu, oh ya bagaimana acara memasaknya?"


Queen terkekeh lalu menunjukan kesepuluh jarinya "Wow,, kamu terluka segitu banyak"


"Ya, dan semua masakan ku gagal" lalu Queen tertawa.


Untuk sesaat Arman terpukau melihat tawa Queen yang begitu menawan, ah andai wanita ini belum menikah..


"Bagaimana dengan tawaranku, aku bisa memberikan les privat untuk mu"


"Sepertinya akan ku terima,karna aku tak mau setiap hari jariku terluka" lalu mereka tertawa "Kamu mau pergi bekerja?"


"Ya"


"Ya, aku memang koki, tapi aku tak bekerja sebagai koki di sana"


"Lalu..?"


"Ah, itu sebenarnya aku.. pemilik restoran"


"Waow.. kamu keren" mereka melangkah beriringan keluar dari lift ketika pintu terbuka.

__ADS_1


"Kamu akan kemana?"


"Aku mencari makan siang"


"Bagaimana jika aku traktir di restoranku?"


"Oh,, terimakasih banyak" Tak perlu memakai mobil hanya perlu menyebrang untuk pergi ke restoran milik Arman.


"Ayo" tanpa sadar Arman menggenggam tangan Queen saat akan menyebrang.


Queen berjengit ingin melepaskan, namun tarikan dari Arman membuatnya harus menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah Arman yang tinggi.


Saat tiba disebrang jalan sepertinya Arman menyadari dan langsung melepaskan tautan tangannya "Maaf, itu aku repleks melakukannya, itu.. seharusnya kita memakai jembatan penyebrangan tapi karna terlalu jauh jadi lurus lebih cepat"


Queen terkekeh "Ya, tapi itu berbahaya"


"Hehe.. iya makanya aku memegang tanganmu" Arman mengusap tengkuknya.


"Baiklah, tak masalah, ayo aku sudah lapar dan ingin menikmati makan gratisku, oh ya bisakah setelah ini kita mulai les privat nya, aku sudah tidak sabar"


"Tentu, sepertinya kamu begitu mencintai suamimu hingga ingin cepat cepat bisa memasak untuknya" langkah Queen terhenti dan Arman menyadari itu, Arman melihat raut sedih di wajah Queen lalu tiba tiba mengeryit saat Queen dengan cepat tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja.."


__ADS_2