
"Ya ampun banyak sekali, apa jarinya tidak pegal" gerutunya
Dari sekian banyak pesan dan panggilan dari Bagas Kanaya hanya mengetikan empat kata saja..
-Maaf ponselku kehabisan baterai-
Setelah mengirim pesan pada Bagas, Kanaya mulai mengambil makanan dan menaruh dipiring nya, Bima sendiri sudah mulai makan sejak tadi.
Kanaya akan menyuapkan makanan tiba tiba ponselnya kembali bergetar.
"Astaga Aya, makanlah dulu kenapa dia mengganggu sekali"
Kanaya hanya tersenyum meringis Bagas ini kenapa posesif sekali, rasanya dulu dia tak seperti ini.
Kanaya meletakan kembali sendoknya lalu menjawab ponselnya..
"Hall.." baru saja bicara, Bagas sudah memberondong pertanyaan padanya.
"Naya.. kamu dimana?
masih di Bogor..?
dengar sayang jika si Bima sialan itu
mengganggumu aku akan menghajarnya?
Kenapa kamu bisa pergi dengan dia, apa tidak ada orang lain?"
Kanaya menjauhkan ponselnya lalu menghela nafasnya, bahkan ia bisa melihat Bima berdecak.
"Aku tidak akan macam macam.. hanya satu macam.." teriak Bima, tentu saja Bima mendengar ucapan Bagas, karna suara Bagas yang kencang, bahkan Kanaya memegangi telinganya.
"Heh,, sialan kenapa kau ada disana? jangan macam macam pada Naya-ku kau mengerti, jangan dekati dia menjauh darinya.. jaga jarak dua meter!!"
.
__ADS_1
.
.
Bagas sedikit kesal saat Kanaya mengatakan bahwa Kanaya dan Bima sedang makan siang bersama.
Bagas dilanda takut Bima kembali menggoda Kanaya, meski Bagas yakin Kanaya tak akan tergoda karna cinta Kanaya hanya untuk nya, dia harus segera melancarkan rencana nya untuk mendapatkan restu Azka.
Azka baru saja pulang dari kantor, bibirnya menggerutu dia jengah setiap hari Bagas mengirim hadiah, entah kerumah atau ke kantor, dan Azka selalu mengembalikannya,dia fikir Bagas bisa menyogoknya begitu saja lalu menyetujui hubungannya dengan Kanaya.. enak saja,akan ia buat jalan Bagas tidak mudah.
Begitu memasuki rumah Azka dikejutkan dengan kehadiran Bagas "Selamat sore bang Azka"sapanya.
"Sedang apa kau disini?" Azka tak habis fikir bagaimana Bagas bisa masuk mansion nya.
"Mas udah pulang.." Yasmin membawa nampan berisikan minuman dan meletakkannya di depan Bagas "Silahkan di minum dulu" lalu Yasmin menyalami Azka yang baru tiba "Mas mau mandi dulu atau makan dulu"
"Sebentar Sayang, kenapa orang ini ada disini?"
"Oh Bagas tadi nolongin aku sama Rona, untung ada Bagas kalau enggak Rona nangis karna pengen cepat pulang" Bagas tersenyum penuh arti pada Azka yang menatapnya tajam.
"Roni kamu sudah pastikan ini berjalan lancar kan?"
"Tentu saja tuan ban mobilnya sudah saya kempiskan .. semuanya"
"Kenapa semuanya apa mereka tidak akan curiga,bagaimana kalau mereka tau"
"Tenang tuan rekaman Cctv nya sudah saya hapus jadi meskipun mereka curiga tak akan ada bukti,lagi pula jika hanya satu mereka mungkin punya ban cadangan" Bagas menggeleng pelan.
"Baiklah kita mulai.." Bagas turun dari mobil lalu memasuki mall, tak berapa lama keluar dengan membawa sebuah paper bag, tentu saja untuk membuat alibi bahwa dirinya habis berbelanja.
Saat keluar ia mendapati Yasmin yang sedang menenangkan Rona "Sabar ya, sayang,, tunggu bentar aja" bujuk nya Rona menangis ingin segera pulang.
"Kak Yasmin..?" Bagas menyapa Yasmin.
"Eh.. siapa ya" Yasmin sedikit bingung kenapa orang di depan nya tau namanya.
__ADS_1
"Saya Bagas Kak, pacarnya Kanaya, kakak istri bang Azka kan.." Bagas mengulurkan tangannya.
"Oh, kamu yang dari kemarin mengirimkan hadiah.." Bagas tersenyum canggung.
"Kalau boleh tau kenapa mobilnya Kak,?"
"Oh gak tau tiba tiba ban nya kempis semua" Yasmin juga bingung kenapa tiba tiba ban mobilnya kempis,dan yang membuat heran ban mobilnya kempis semua, sang supir sekaligus bodyguard yang ditugaskan Azka menjaga Yasmin sedang menghubungi montir untuk datang.
Rona terus menangis ingin segera pulang "Kasian kak Rona nya nangis, gimana kalau saya antar saja"
"Iya mungkin panas, gak usah biar naik taksi saja"
"Memang bang Azka mengizinkan jika Kak Yasmin naik taksi?" benar juga Azka selalu khawatir pada keluarganya dan tak mengizinkan nya bepergian sendiri.
"Tapi apa gak ngerepotin?"
"Nggak kak, mari dari pada Rona nya kepanasan"
Yasmin pun mengikuti langkah Bagas untuk masuk kedalam mobilnya.
"Sebenarnya saya juga mau memberikan sesuatu lagi sama bang Azka semoga kali ini Bang Azka suka" Bagas mulai melajukan mobilnya.
Yasmin mengangguk, "Sebenarnya mas Azka tuh baik loh Gas, coba deketinnya jangan pake hadiah kayak gitu"
"Oh ya, gimana caranya kak?"
"Kamu serius kan sama Aya?"
"Saya serius kak, kalau bang Azka dan pak Adam sudah setuju, saya mau melamar Kanaya" kata Bagas dengan yakin.
"Tapi susah banget kak, bang Azka benci banget kayaknya sama saya, saya mengaku saya salah dan saya menyesal, tapi saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi"
"Saya hidup dalam penyesalan selama ini karna menyakiti Naya" Bagas menujukan raut sedih dan penyesalannya dan membuat Yasmin merasa iba.
Bagas melirik Yasmin yang terdiam, perasaannya tidak di buat buat, sungguh ia menyesal menghianati Kanaya,namun tidak ada cara lain selain menunjukan nya di depan Yasmin dan berharap Yasmin akan membantunya.
__ADS_1
Segalak galaknya singa jantan ia akan takluk pada singa betina.. begitu fikirnya.