
Di tempat berbeda Anina tengah bersiap pergi bekerja, stelan kemeja putih dibalut jas, dengan rok span hitam, rambut tergulung rapi "Sayang mama kerja dulu ya, Queen jangan nakal sama Mbah"
"Iya mama" Queen pun melambaikan tangan pada Anina.
"An, hari ini Bude bawa Queen ke kebun ya Bude mau panen singkong"
"Iya bude hati hati aja ya"
Anina beralih pada Queen "Queen nanti di sawah jangan nakal ya"
"Iya mama," Anina mencubit pipi Queen gemas.
Anina menaiki sebuah angkot yang akan membawanya ke tempatnya bekerja, tiga puluh menit kemudian Anina tiba di tempat kerja nya, memasukan absensinya lalu masuk kedalam konter, ia bekerja sebagai resepsionis sebuah hotel berbintang sejak tiga minggu lalu, bersyukur ia tak terlalu lama mencari pekerjaan ketika tiba di kampung halaman orang tuanya "Baru datang An?"
"Iya aku gak telat kan?"
"Gak masih ada lima menit lagi, ya udah aku beres beres dulu" Anina mengangguk.
"Aku pulang ya An" Anina melambaikan tangannya pada salah satu resepsionis yang jam kerjanya digantikan Anina.
.
.
.
"Emang Anina tinggal dimana sih, kok pake pesawat" tanya Kanaya pada Bagas.
"Biar cepet.. sayang,"
"Ck... kenapa gak bilang aja sih dimana, sok misterius"
"Tuh,," Bagas menunjuk jadwal penerbangan yang ada di bandara.
__ADS_1
"Oh,," Bagas dan Kanaya menaiki pesawat yang akan membawanya ke Semarang.
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih satu jam pesawat yang membawa Kanaya dan Bagas tiba di Semarang.
"Jauh ya, sampai ke perkampungan? aku baru tau Anina punya sodara disini"
"Kata Roni, mereka baru bertemu saat Anina mengunjungi makam Orang tuanya disana mereka bertemu" Kanaya mengangguk. "Benar ini rumahnya?" tanya Bagas pada orang suruhan Roni.
"Benar tuan, biasanya Bu Anina sedang bekerja di waktu seperti ini"
"Lalu Queen?"
"Nona Queen biasanya ikut ke sawah bersama Neneknya"
"Cari siapa ya?" Bude Anina baru saja tiba dengan menggendong Queen.
"Ya ampun Queen" Kanaya memekik saat melihat Queen.
"Queen darimana sayang?"
"Dali cawah momi"
"Perkenalkan saya Bagas" Bude Anina menyambut tangan Bagas "Ini calon istri saya, kami teman Anina dari Jakarta"
"Oh.. saya Darmi Bude nya Anina,kalau begitu mari masuk, mas sama mbaknya"
"Queen mandi dulu yuk" ajak Darmi.
Kanaya juga melihat Queen tampak kotor mungkin karna habis dari sawah "Biar saya yang mandikan Bude"
"Loh jangan Mbak gak enak saya"
"Gak pa-pa kok Bude dimana kamar mandinya.."
__ADS_1
Bagas,Kanaya dan Queen bermain bersama, bahkan mereka pergi berbelanja semua kebutuhan Queen.
Hari sudah menjelang sore, Anina sudah menaiki angkot untuk pulang,Anina mengeryit saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya, lalu rumahnya terdengar ramai,, ada siapa?.
Anina hampir terlonjak saat melihat rumahnya dipenuhi mainan, lalu langkahnya memaku saat melihat Bagas dan Kanaya sedang bermain dengan Queen.
"Kamu sudah pulang?" Kanaya memeluk Anina yang masih terlihat syok.
"Kalian tau darimana aku disini?" lalu dia berdecak bagaimana bisa dia lupa bahwa Bagas selalu tau, apa yang ingin pria itu tau.
"Kamu baik?" tanya Bagas.
"Hmm aku baik, kalian ngapain kesini?"
Kanaya menghela nafasnya "Gak boleh ya?"
"Bukan gak boleh Ay, tapi kan.."
"Kami akan menikah" kata Bagas, Anina terlihat terkejut.
"Beneran?" Kanaya mengangguk sambil tersenyum.
"Gak masalah kan?"
"Kok tanya aku, ya bagus dong" Anina bahkan terlihat biasa saja bahkan terlihat lega..dengan begitu rasa bersalahnya bisa hilang.
"Aku kan harus minta izin sama mantan istri Bagas dulu" Kanaya terkekeh."Kamu harus datang!"
"Pasti.."Anina memeluk Kanaya. "Selamat ya, pasti aku datang"
"Tapi jangan labrak aku ya" Anina jadi ingat saat pernikahannya dan Bagas, Kanaya datang dengan kado kenangan mereka yang sudah hancur, lalu Anina tertawa.
Dari luar seseorang memperhatikan rumah Anina,lalu menutup kembali kaca mobilnya "Ketemu.."
__ADS_1