Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn(10)


__ADS_3

Pintu rumah Anina diketuk, Anina mengerutkan keningnya saat melihat jam di dinding siapa malam malam begini datang,seingatnya Bude Darmi sedang menginap dirumah tetangga mereka yang akan mengadakan hajatan, "Apa tidak jadi menginap?" Anina keluar kamar untuk membuka pintu.


"Loh.." Anina melihat Edward yang membawa Queen di pangkuannya "Kenapa Queen, bukan nya mau nginep?"


"Dia nangis, kayaknya mimpi buruk" jelas Edward, Queen sudah tertidur sejak jam delapan malam, namun tiba tiba dia menangis dan memanggil mama nya, Edward bahkan sampai kewalahan menenangkan Queen, hingga ia menyerah dan membawa Queen pulang kerumah Anina.


Anina mengambil alih Queen "Uh.. anak mama kok nangis, mimpi apa sayang?" Queen menelusupkan wajahnya di ceruk Anina, matanya merah karna terus menangis.


Edward mendudukan dirinya di kursi lalu memejam ia lelah, perjalanan dari hotel ke rumah Anina menempuh waktu kurang dari satu jam, dan Edward tak sempat menghubungi supir,sedangkan sepanjang jalan ia juga harus menenangkan Queen.


Anina sudah menidurkan kembali Queen dan kembali ke ruang tamu, melihat Edward tertidur sambil duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi kecil pasti tak nyaman.


Anina menepuk bahu Edward "Bangun.." Edward melenguh lalu mengerjap.


"Queen mana?" tanya nya.


"Sudah tidur,, kamu boleh pulang!" Edward bangkit namun bukannya pulang ia malah masuk ke kamar Anina "Loh, mau ngapain pulang sana!"


"Aku nginep disini" Edward langsung tidur disisi Queen.


"Apa? gak ada pulang sana!" Anina menarik Edward agar terbangun.

__ADS_1


"Sudahlah mama, jangan berisik aku lelah" Edward menarik Anina hingga Anina terjatuh di atasnya, "Lusa aku akan pulang, dan kalian harus ikut"


"Apa??" Anina berontak namun Edward memeluknya erat, satu tangannya menggenggam tangan Anina kuat hingga Anina tak bisa bergerak.


"Tidak ada bantahan, aku gak mau jauh dari kalian, sekarang tidur ini sudah malam" Edward memberikan kecupan dirambut Anina "Selamat tidur sayang" Edward benar benar mengantuk dan langsung tertidur, sedangkan Anina malah memperhatikan raut Edward yang tertidur dengan expresi tak terbaca, ia menghela nafasnya lalu memejam, masih diposisi yang sama dipelukan Edward.


Edward benar benar membawa Anina dan Queen kembali ke Jakarta,ia juga mengajak Bude Darmi untuk ikut, namun Bude Darmi memilih tinggal dengan alasan tak ada yang mengurus kebunnya, rencana pulang lusa harus di percepat karna Edwar punya pertemuan penting,maka malam itu juga mereka kembali ke Jakarta.


Sedangkan Anina hanya bisa pasrah mengikuti karna ancaman Edward yang akan membawa Queen meski pun Anina tak ikut.


Edward membawa Anina dan Queen kesebuah rumah besar, namun bukan rumah yang terakhir kali Anina datangi dengan Bagas tempo hari.


Anina tak bertanya dan tak ingin tau apapun itu, ia hanya mengikuti saja Edward dari belakang, "Ini kamar kamu,tentu saja jika sudah menikah kamu akan pindah ke kamarku disebelahnya" Anina memutar matanya, terserah.


"Cama mama,cama papa juda" Edward menyeringai.


"Ya sudah ayo" Edward masuk kedalam kamar yang ia tunjuk sebagai kamar Anina tadi.


"Loh, bukannya ini kamarku?"


"Karna ini permintaan Queen jadi aku akan tidur disini" Anina melongo tak percaya, trus untuk apa dia menunjuk kamarnya tadi.

__ADS_1


Sesuai permintaan Queen Edward dan Anina tidur disisinya, Edward disebelah kanan dan Queen disebelah kirinya.


Setelah beberapa saat Queen pun tertidur,Edward pun bangun dari baringannya, dari tadi dia hanya pura pura tidur agar Queen bisa tidur.


Edward memberi kecupan di dahi Queen lalu berjalan kearah Anina,Anina ternyata juga belum tidur"Kenapa belum tidur?"


"Mau apa?" Anina terduduk saat melihat Edward mendekat padanya, tentu saja ia curiga pada Edward yang selalu mesum, apalagi mengingat tadi pagi ia terbangun masih diposisi yang sama di pelukan Edward,pria itu benar benar tak melepaskannya.


"Tidur lah, ini sudah malam!" Edward menaikan selimut Anina dan mengecup dahi Anina, "Tenang saja aku tak akan menyentuhmu sebelum kita menikah jika itu yang kamu takutkan" Edward terkekeh saat melihat raut tegang Anina" Ia tau Anina takut padanya meski tak ditunjukan dengan terang terangan "Aku ada pekerjaan jadi tidurlah" Anina mendesah lega saat Edward sudah tak terlihat, setidaknya ia tak perlu takut Edward berbuat macam macam bukan jika benar begitu, nyatanya dari kemarin meski mereka tidur bersama Edward tak pernah melewati batasan lebih dari pelukan saja.


Selama beberapa hari ini juga Edward selalu bersikap lembut, meski terkadang ia berkata tajam, namun itu terjadi jika perkataan nya dibantah.


Anina menatap langit langit matanya menerawang jauh "Apa yang harus aku lakukan" Haruskan ia menyerah, dan menerima Edward, lalu bagaimana jika itu tak berhasil seperti pernikahan nya dengan Bagas yang bertepuk sebelah tangan, ia tak ingin hanya dirinya yang berjuang sendiri mempertahankan pernikahannya ,ia juga tak tau perasaan Edward padanya, meski pria itu menyebutnya sayang namun bisakah itu disebut sebagai ungkapan cinta? tak mungkin kan Edward mencintainya, secepat itu?


Jika pernikahan ini tak bertahan lama, bukan kah lebih baik tak ada pernikahan, Anina tak ingin ada perceraian lagi, dan berujung pada harapan Queen mendapatkan keluarga yang harmonis pupus kembali.


Anina sendiri akan melakukan apa pun untuk Queen meski ia harus menekan perasaan nya, ia tak akan berharap lebih pada sesuatu bernama .. cinta.. nyatanya cinta pertamanya sudah mengecewakannya bahkan menghancurkan nya.


____________


Semoga kalian gak bosen ya bacanya...

__ADS_1


Ada yang tau siapa cinta pertama Anina?


__ADS_2