
Kanaya merebahkan dirinya di tempat tidur, lega dan nyaman.
Setelah tadi makan bersama Bagas dan berakhir dengan kekesalan tapi sekaligus menyenangkan, Bagas tertawa setelah berhasil membuatnya kesal dan berbohong bahwa dirinya tak bisa makan pakai tangan.
"Aku bisa Naya, tentu saja setelah kamu pergi aku suka makan disini dan memakan makanan kesukaan mu dengan cara makan yang sama" Bagas tersenyum sendu, Kanaya tidak menyangka jika Bagas melakukan itu.
"Tapi aku senang setidaknya hari ini aku bisa makan dari tangan kamu" Bagas terkekeh."Sudah selesai kan? ayo aku antar pulang"
Bagas pun mengantar Kanaya hingga gerbang rumah Kanaya sebelum turun Bagas kembali berbicara "Aku akan jemput besok, sepertinya kamu harus ajukan cuti satu minggu kedepan"
"Apa..?"
"Hmm... besok dan satu minggu kedepan aku akan menempel sama kamu,jadi kamu gak bisa kerja"
"Mana bisa..? aku harus kerja"
Bagas mengedik kan bahu "Gak akan ada yang berani pecat kamu Naya!"
"Tetep aja itu gak profesional nama nya"
"Hanya satu minggu Naya, lagi pula itu kesempatan terakhirku bukan?" Bagas tersenyum getir,ya .... ini usahanya yang terakhir.
Kanaya membeku melihat raut wajah Bagas,namun tak lama Bagas kembali tersenyum, lalu keluar dan membuka pintu untuk Kanaya "Masuk dan mimpikan aku ya! setidaknya untuk satu minggu kedepan" bisik Bagas lalu memberikan usapan di pipi Kanaya.
Kanaya memejamkan matanya dan meraba pipinya kenapa usapan tangan Bagas masih terasa hingga kini, besar dan hangat.
Kanaya mengusap wajahnya "Ya ampunnnn gimana ini" Kanaya takut akan luluh, lalu bagaimana dengan Bima?
.
.
'Aku sudah ada di depan gerbang'
Pesan dari Bagas muncul saat Kanaya baru selesai mandi "Dia benar benar datang.. kenapa pagi sekali"
'Ayo sarapan bersama'
__ADS_1
Lagi pesan dari Bagas muncul, Kanaya tak membalas hanya melanjutkan gerakan nya memakai pakaian "Hanya satu minggu kan baiklah tak masalah, setelah ini dia tidak akan mengganggu ku lagi" gerakan Kanaya terhenti sesaat, kenapa dirinya merasa tak rela dengan kenyataan itu, Kanaya menggeleng mengenyahkan fikiran nya.
"Ayo sarapan dulu sayang.." Ajak Alyla, saat melihat Kanaya menghampirinya dan Adam.
"Gak mom, aku sarapan diluar.. aku pamit mom, dad" Kanaya mengulurkan tangannya pada Adam dan Alyla
"Hati hati kalau dia macem macem bilang daddy oke" Kanaya mengerutkan kening.
"Apa sih dad?"
"Gak papa sudah sana" Adam pun kembali dengan sarapannya, Kanaya mengangguk dan pergi setelah mengucapkan salam.
"Ada apa mas?" Alyla bertanya penasaran dengan apa yang di maksud Adam.
"Kemarin Bagas datang kekantor dan mengatakan untuk meminta kesempatan sama Aya, dan minta izin dari aku, yah meskipun aku ingin membuat wajah bocah itu babak belur, tapi mau bagaimana lagi dia bahkan bersimpuh demi mendapat izin dariku" Bagas bahkan menceritakan semuanya secara detail pada Adam apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu bagaimana dengan Bima?"
"Biarkan Aya yang memutuskan, dia pasti bisa membedakan mana yang terbaik untuknya"
"Aku cuma takut mas, Aya jadi tertekan"
"Lalu Bima,apa dia tau?" Adam mengangguk.
.
.
Kanaya keluar dari gerbang disambut senyuman Bagas yang membukakan pintu mobil untuknya, tanpa banyak kata Kanaya masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi.
"Mau sarapan apa?" tanya Bagas.
"Apa aja" Bagas mengangguk lalu melajukan mobilnya.
"Kamu beneran gak kerja" Bagas mengangguk.
"Selama satu minggu?" Bagas mengangguk lagi,Kanaya tak ingin bertanya lagi meskipun ia penasaran bagaimana dengan perusahaan Bagas.
__ADS_1
"Aku masih memantau meski dari ponsel, dan ada Roni disana,aku hanya mengganti jam kerja dengan malam" Bagas menjelaskan,seolah tau apa yang ada di otak Kanaya,Kanaya hanya mengangguk, namun Kanaya malah berfikir lebih jauh lagi.
Lalu apa Bagas tak tidur semalaman karna mengganti jam kerja nya,Bagas bergadang demi bisa menghabiskan waktu satu minggu bersamanya,bagaimana jika Bagas sakit, kenapa Kanaya tiba tiba merasa khawatir.
.
.
.
"Abis ini mau kemana?" tanya Bagas setelah mereka menghabiskan sarapan nya.
"Kamu yang ngajak, kok nanya aku"
"Oke, aku kira kamu punya tempat yang mau di datangi, kalau begitu semua terserah aku" Bagas menyeringai.
Kanaya menghela nafasnya saat memasuki rumah Bagas, lalu menatap Bagas tajam, padahal kan banyak tempat lain untuk berkencan,selain rumah Bagas, tunggu... kenapa Kanaya merasa pipi nya terasa panas sekarang mengingat kata 'kencan'.. benarkan mereka sedang berkencan? "Nga..pain kesini?" tanya Kanaya, kenapa ia tiba tiba gugup.
"Tadi di tanya terserah aku"
"Tapi mau ngapain disini.??"
"Maunya ngapain?" Bagas mengedipkan sebelah matanya,sambil tersenyum kearah Kanaya, Kanaya menelan ludahnya..kenapa senyum Bagas terasa berbeda..
Bagas melangkah mendekatkan dirinya pada Kanaya, hingga Kanaya terpojok.
"Ja.....ngan macem macem ya"Kanaya mundur beberapa langkah, namun punggungnya sudah membentur tembok.
"Gak macem macem kok,cuma satu macem aja" Lagi lagi senyum Bagas membuat Kanaya bergidik.
.
.
.
Like..
__ADS_1
komen ..
vote..