
Kanaya melangkah dengan berapi api, ia mendapat kabar dari Roni jika Bagas sedang di goda batu koral, ia bahkan lupa melepas apron nya, meski sudah beralih menggantikan Bima, Kanaya masih tetap melayani para pelanggan cafenya.
Kanaya melihat perempuan yang masih berdiri di dekat Bagas "Kemarilah sayang.. Aku merindukanmu" baru beberapa jam tak bertemu ia sudah merindukan Naya nya.
Kanaya mencebik lalu berjalan mendekat "Siapa dia..?"
"Hanya seorang tamu" Kanaya melewati Lena dan mendudukan dirinya di pangkuan Bagas.
"Oh Hay aku Kanaya, kamu pasti sudah tau siapa aku kan, wajah kami sudah terpampang dimajalah majalah" kata Kanaya dengan nada bangga.
Bagas masih tetap tenang meski melihat tingkah Kanaya diluar perkiraan nya tak biasanya dia bertingkah agresif, tapi Bagas suka ini.
Lena berdehem, lalu Kanaya menoleh "Apa masih belum selesai? Aku mengganggu ya sayang?"suara Kanaya begitu mendayu lembut sambil meraba dada bidang Bagas.
Bagas mulai menegang "Ti.. tidak sama sekali sayang, dia sudah selesai" Bagas bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Kanaya sekedip pun, Bagas menyampirkan rambut Kanaya yang berantakan,apa gadis ini berlari kesini.
"Jika begitu bisakah kamu pergi nona" Kanaya tersenyum manis "Tentu saja jika kamu punya malu melihat adegan kami selanjutnya" Kanaya mengusap rahang lalu mengecup pipi Bagas.
__ADS_1
Lena mendengus, siasatnya salah tadinya ia ingin menciptakan kesalah fahaman,malah dirinya yang seperti tak kasat mata dan diacuhkan.
Lena menghentakkan kakinya dan akan pergi namun langkahnya terhenti saat Kanaya kembali bersuara "Ah satu lagi jangan lupa tutup pintunya.. terimakasih"
Saat pintu tertutup Kanaya berniat turun dari pangkuan Bagas, namun Bagas menahannya dan mengeratkan pelukannya di pinggang Kanaya "Mau kemana?"
"Lepas.." Kanaya mendelik tajam.
"Kamu marah?"
"Tentu saja, bisa bisanya kamu diam begitu saat di dekati sudal bolong,lihat pakaian nya atas bawah tidak sampai.. ish"
"Kamu mengujiku? jika sekali lagi kulihat dia bertingkah seperti itu aku pastikan kamu juga menerima akibatnya" Kanaya berusaha bangun, "Lepas..!!'
Bagas menggeleng,sambil terkekeh "Tidak akan, kamu harus bertanggung jawab"
"Bertanggung jawab apa?"
__ADS_1
"Kamu tidak merasakan dibawah mu sudah mengeras,kamu dari tadi menancingku sayang" Kanaya mengerjap lalu menyadari sesuatu dibawah sana memang mengeras bahkan terasa mengganjal di bokongnya .
"Bagas!!!" Kanaya mencubit lengan Bagas lalu meloncat turun. "Dasar mesum..!"
"Siapa yang tidak mesum, jika digoda seperti itu"
Kanaya mendengus "Apa kamu juga tergoda oleh perempuan ganjen itu,seperti ini" Kanaya menarik dasi Bagas dan mepraktekkan yang Lena lakukan, namun Bagas malah merasa terpancing sekarang, berbeda saat tadi Lena yang melakukannya ia merasa jijik, namun kini di depannya adalah Kanaya, tentu saja ia merasa tergoda, dada yang membusung kearahnya dan tatapan Kanaya yang tajam justru membuatnya bergairah.
"Tentu saja tidak, mesumku hanya untuk mu" Kanaya melepas dasi Bagas dan mencebik.
Bagas tertawa lalu meraih tangan Kanaya "Aku tidak akan melakukan apapun yang kamu takutkan sayang aku tidak tergoda samasekali, cintaku hanya untuk mu seorang, aku bahkan tak akan pernah lupa perjuanganku untuk mendapatkan kamu kembali dan itu tidak mudah, aku tidak akan menyianyiakan mu"
"Cih.. perayu, pokoknya kalau sampai aku lihat yang seperti tadi lihat saja apa yang aku lakukan" Kanaya bahkan sampai menunjuk matanya.
Kanaya hendak pergi dari ruangan Bagas "Sayang berikan aku kecupan sebelum pergi" pinta Bagas.
"Dalam mimpimu. . " Kanaya membanting pintu, dan Bagas terkekeh.
__ADS_1
Setelah Kanaya pergi Bagas menghubungi Roni "Katakan pada tuan Jodi jika masih ingin bekerjasama dengan ku, jangan biarkan anaknya mendekatiku.. atau jika tidak batalkan semua kerjasama kita dengan mereka"
Tentu Bagas tidak akan rugi kehilangan beberapa miliyar saja, jika di banding harus kehilangan Kanaya, dan tipe wanita seperti Lena akan terus ber ulah jika tak langsung di singkirkan.