Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn-Ketakutan Edward


__ADS_3

Beberapa hari ini Edward tidur tak teratur, menahan rindu dengan Anina dan Queen Edward menghabiskan waktu dengan bekerja sampai menjelang pagi..


Meski di jam makan siang ia selalu menyempatkan datang, namun tetap saja rasanya berbeda ia ingin mencium kening Anina dan Queen sebelum tidur,lalu mencuri waktu memeluk Anina dalam tidurnya.


Hari ini seluruh badannya terasa sakit juga panas dan menggigil secara bersamaan.


"Tuan Ed, boleh saya panggilkan dokter..?" Amar asisten Edward


"Tidak, aku butuh tidur saja, jangan ganggu aku hari ini" asisten Edward hanya bisa menghela nafasnya, ia tau mengapa Edward tak suka dokter.


Jam makan siang sudah terlewat namun Edwrad tak juga bangun, Amar semakin khawatir, Amar mendengar ponsel tuannya berdering lalu melihat siapa yang menghubungi, Anina. Amar tau alasan tuannya tidur dikantor beberapa hari ini, apa di harus memberitahu Nona Anina, atau tidak.


Sudah dua kali panggilan namun Amar masih bimbang tapi melihat tuannya yang sudah tak berdaya membuatnya takut, semoga nona Anina bisa membujuk tuan Edward untuk diperiksa dokter, dan Amar pun memberanikan diri untuk bicara.


"Hallo.."


Hening beberapa saat.


"Hallo apakah ini ponsel Edward..?"


"Ya, begini nona tuan Ed, sedang sakit bisakah anda kemari"


.


.


Anina memacu langkahnya rautnya terlihat khawatir, Anina menghela nafasnya, jadi selama satu minggu ini Edward tidur dikantor.


Anina segera dipersilahkan masuk dan di antar langsung oleh Amar, Anina melihat Edward yang tertidur namun juga berkeringat dingin,dan suhu badannya, panas "Sudah hubungi dokter..?"


Amar meringis "Begini nona, tuan tidak ingin diperiksa dokter" Anina menggeryit, bagaimana bisa sembuh jika begitu.


"Kenapa?"


"Tuan Ed, tak suka dokter nona apalagi kalau.."


"Ck, cepat hubungi dokter dan aku minta air hangat dan handuk kecil" potong Anina. Amar mengangguk lalu pergi untuk membawa pasanan Anina.


Anina melihat sekeliling nya ruangan yang ditempati Edward cukup nyaman, meski hanya ada ranjang dan satu lemari, dan nakas kecil, mungkin itu memang hanya dikhususkan untuk istirahat selagi sibuk bekerja, jadi tak ada apapun, di atas meja kecil ada seporsi makanan, sepertinya belum tersentuh.

__ADS_1


Anina sudah mengompres dahi Edward sembari menunggu dokter datang.


Edward melenguh saat merasakan dahinya basah "Bagaimana perasaanmu?"


Edward membelalak, "An.. kamu disini, mana Queen"


"Iya tadi aku telpon,trus asisten kamu bilang kamu sakit, aku gak bawa Queen aku belum pastikan keadaan kamu" Edward mengangguk,lemas.


Tak berapa lama dokter pun datang di antar Amar "Silahkan dok.." Anina mempersilahkan dokter untuk memeriksa Edward.


"Siapa yang menyuruhmu membawa dokter" Tatapan Edward begitu tajam pada Asistennya tersebut.


Amar meringis lalu melihat kearah Anina "Jika tidak di periksa bagaimana bisa sembuh Ed,." Anina tak menyadari Edward sedikit gemetar.


"Baiklah peri..ksa cepat lalu berikan obatnya!" Edward tak ingin terlihat lemah di depan Anina.


Dokter pun mulai memeriksa keadaan Edward "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tuan Ed hanya demam biasa karna kelelahan dan kekurangan cairan, saya sarankan untuk di infus saja agar cairan lebih cepat masuk" mata Edward membulat.


"Baiklah dok.."


"Tidak mau.. berikan saja obat" Edward memotong ucapan Anina.


Amar yang masih berdiri di sudut ruangan hanya bisa mengulum senyumnya.


"Tidak mau..!!" teriak Edward.


Anina terlihat terkejut, lalu menghela nafasnya saat ia melihat Amar yang memberi kode lewat kedipan mata.


Ah, Anina mengerti "Kamu takut jarum suntik?" cibirnya


"Ti..tidak.."


"Ouh ya?" Edward mengangguk "Jika begitu kenapa tidak mau di infus, kamu tau ini berbeda dari jarum suntik"


"Sama saja itu mengerikan aku tidak mau" Anina hampir tertawa, secara tidak langsung Edward mengakui bahwa dirinya memang takut.


Dokter dan Amar hanya menunduk geli melihat reaksi Edward.


"Begini saja ayo kita taruhan, kalau ini sakit aku akan merawat kamu sampai sembuh, jika tidak sakit aku akan pergi dari sini" Edward terlihat berfikir ini terdengar menarik dan jika Anina merawatnya hingga sembuh itu berarti Anina akan disini menemaninya seharian.

__ADS_1


"Ba.. baiklah" Dokter mulai mengeluarkan cairan infus dari tasnya, Edward meringis, dan gemetar saat melihat melihat jarum jarum berjejer di kotak kecil yang dibawa Dokter.


Anina duduk di sisi Edward dan menggenggam tangannya "Kemari.." Anina merenggangkan tangannya agar Edward melihat kearahnya dan memeluk Edward agar bersembunyi di dadanya, biasanya itu cukup ampuh saat Queen takut di imunisasi.. ck.. anak dan ayah sama saja.


Edward tertegun sesaat sebelum ia masuk kedalam pelukan Anina, wangi dan hangat jika bisa seperti ini Edward rela disuntik setiap saat, sebelah tangan Edward di pegang dokter yang akan memasang jarum infus, namun sebelah lagi menelusup ke pinggang Anina dan merapatkan tubuh mereka.


Anina mendengus dalam hati merasa pelukan Edward makin kencang 'Cari kesempatan' namun Anina tak bisa mendorong Edward karna dokter belum selesai, Anina hanya pasrah saat Edward menenggelamkan wajahnya di dada Anina dan sedikit menggelitik Anina 'Dasar mesum awas kau Ed..'


Dokter memberi kode pada Anina saat jarum infus sudah terpasang, lalu Anina mendorong Edward "Sudah.. tidak sakit kan?"


Edward melihat kearah tangan nya "Auh.. ini sakit An," teriak Edward.


Anina tau Edward pura pura, jika mau berteriak kenapa tidak dari tadi saja.


Amar hanya menggeleng lalu pamit untuk mengantar dokter keluar "Terimakasih dokter"


"Sama sama nyonya, saya akan kembali untuk melepas infusnya nanti" Anina mengangguk lalu dokter pun keluar ruangan Edward.


Anina menatap tajam Edward mau marah tapi melihat wajah pucat Edward jadi tak tega,Anina hendak turun dari ranjang, namun Edward mencegahnya "Mau kemana, kamu kan sudah janji akan merawatku jika ini sakit.. ini sakit loh An,," Nada bicara Edward terdengar manja.


Anina mendengus lalu melempar bantal yang ada di depannya dan tepat diwajah Edward "Auh.." Edward mengaduh apalagi saat darah mengalir naik dari jarum infus Edward.


Anina membelalak terkejut "Astaga maaf apa sakit?" Anina terlihat khawatir, Edward begitu menikmati raut Anina yang begitu mengkhawatirkannya.


Anina mengelus tangan Edward "Tangannya jangan banyak gerak"


"Ini sakit sayang" nafas Edward terasa menerpa kulit wajah Anina dan Anina baru menyadari bahwa jaraknya dan Edward sangat dekat.


Edward tak melepas tatapannya dari wajah cantik Anina, dan membuat Anina gugup lalu menegakkan tubuhnya "Aku.. aku mau pesan makanan dulu" Anina segera keluar ruang istirahat Edward dan berdiri di balik pintu sambil mengelus dadanya,, berdebar.


.


.


.


Si Ed,, modus gaes🤭..


Like..

__ADS_1


komen..


vote ..


__ADS_2