
"Dari mana kamu?" Edward bahkan menghadang Anina di depan pintu.
"Ya ampun bikin kaget aja sih,"
"Kamu pergi sama asisten Bagas dan gak ngasih tau aku..?" Tatapan Edward begitu tajam, hingga Anina membeku, mengapa Edward terlihat marah..
"Aku gak..
"Kamu ketemuan sama dia terus bawa Queen?" bahkan Edward memotong ucapan nya.
Anina menghela nafasnya "Bisa tunggu bentar aku tidurin Queen dulu" Anina berlalu dari hadapan Edward begitu saja tanpa menghiraukan Edward yang menahan amarahnya.
Edward semakin terpancing dengan sikap Anina yang terlihat biasa saja seolah tak terjadi sesuatu, dengan langkah cepat Edward mengikuti Anina dari belakang.
Anina membaringkan Queen dan berbalik, lagi lagi ia dikejutkan Edward yang ternyata sudah ada di belakangnya.
"Ayo bicara diluar" Edward menurut dan mengikuti Anina keluar kamar dan menutup pintu perlahan.
"Jadi apa yang mau kamu tau?" tanya Anina.
Edward menatap Anina tajam "Jangan pandang aku seperti itu.. seolah aku melakukan kesalahan besar"
Edward terkekeh "Lalu apa kesalahan kamu itu kecil, kamu calon istriku, tapi pergi tanpa memberi kabar, bahkan kamu pergi dengan pria lain.."
__ADS_1
"Roni bukan pria lain dia sudah seperti kakak untuk ku"
"Kamu anggap dia kakak atau bukan dia tetap pria lain,selain aku."
"Lalu kenapa? apa salahnya?"
"Aku calon suami kamu!" Teriak Edward berapi api "Setidaknya hargai aku.."
Anina benar benar ingin tertawa calon suami, calon suami mana yang masih pergi dengan mantan istrinya, dia bilang harus menghargai, lalu apa dia menghargai Anina.
Anina tetap tenang meski ia ingin menyuarakan isi hatinya, Anina rasa percuma bukan itu lebih bagus lebih baik seperti ini agar Edward tak berlaku baik padanya, dan berakhir sakit hatinya karna berharap lebih.
"Begini Edward.. pertama kamu masih calon suami ku, belum menjadi suamiku, kedua pernikahan kita bukan pernikahan sepasang kekasih yang saling mencintai, kamu tahu betul bagaimana aku membenci mu, tidak ada alasan untukku menikah denganmu -kecuali hanya untuk Queen saja!" Anina menekankan kata kata terakhirnya.
"Kamu tetap Ayah Queen, aku menghormati kamu selayaknya ayah anakku, tapi tolong jangan berharap lebih dari itu, karna setiap aku melihat kamu kebencianku semakin bertambah" Anina ingin berhenti bicara dan pergi dari hadapan Edward ia ingin menangis merasakan hatinya yang sakit, mengapa sesakit ini... Tuhan.
"Dan mulai besok aku dan Queen akan pindah dari sini, aku sudah menyewa rumah untuk sementara sebelum kita menikah"
Belum reda amarah Edward Anina kembali menyiramnya dengan bensin "Apa..?"
"Kamu gak tuli kan"
Edward melangkah mendekati Anina dan mencengkram rahangnya hingga Anina meringis "Jangan bermimpi kamu, aku gak akan biarin kamu bawa Queen dari sini"
__ADS_1
Anina sudah tak tahan, air matanya mulai menggenang selama hidupnya yang sebatang kara, dan saat menjalani pernikahan dengan Bagas ia tak pernah diperlakukan seperti ini meski Bagas tak memperdulikan nya tapi Bagas tak pernah melakukan kekerasan.
"Kamu ingin keluar dari rumah ini, dan bebas bertemu dengan pria lain begitu" Bagas menghempaskan rahang Anina hingga wajah Anina tertoreh kesamping.
Astaga rahang Anina terasa kebas, namun dibalik itu hati Anina lebih sakit lagi.
Niat Anina tak pergi selamanya, Anina hanya ingin tinggal sendiri sebelum ia menikah, dan benar benar tertawan oleh Edward dan hidup dalam kepalsuan memerankan keluarga bahagia didepan Queen.
.
.
.
Aku nangis nulis part ini..ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
tangisan ku baru reda kalo kalian kasih aku..
like..
komen..
vote..
__ADS_1
jangan lupa hadiahnya... huaaaaaaaðŸ˜