Ex Bastard

Ex Bastard
EdAn-Keserakahan Liza


__ADS_3

Perkataan Roni masih terngiang di telinganya bahkan terasa berdengung dan menyakiti, ini semua salahnya jika saja dulu ia tak menyentuh Anina, tidak.. jika saja dulu ia mau bertanggung jawab, dan menanggung beban bersama mungkin semua tak akan serumit ini, ia harus terjebak dengan Liza yang mengancam dan Queen yang berstatus anak haram.


Meski ia sudah punya nama Bagas sebagai ayah, namun tetap saja Edward ingin namanya tercantum sebagai ayah Queen, dan jika itu terjadi akan timbul banyak pertanyaan yang akan menyakiti Queen dan Anina.


Edward meremas rambutnya, membayangkan selama ini Anina hidup menderita membuatnya sesak.


Terdengar ketukan pintu membuyarkan lamunannya "Masuk.." Edward sedari tadi menunggu orang suruhan Roni untuk datang.


"Selamat siang tuan, saya Juan di perintahkan oleh tuan Roni untuk mendatangi anda"


"Ya, duduklah, aku ingin kamu mencari tau tentang seseorang dengan lengkap, bila perlu sampai detail terkecil" Edward menyerahkan sebuah foto.


Juan menggeryit bukankah ini wanita yang beberapa bulan lalu ia cari tau juga, dan orang di depannya ini mantan suaminya.


"Akhir akhir ini dia menggangguku, jadi aku butuh bukti untuk menyingkirkannya" Setidaknya ia harus bisa membuktikan bahwa Liza lebih bejat darinya, namun akhir akhir ini Liza lebih lihai dan menutupi semuanya, mungkin untuk meyakinkan orang orang bahwa dirinya lah yang paling tersakiti.


"Saya akan berusaha tuan" Setelah Juan undur diri Edward meraih ponselnya dan melihat foto Anina dan Queen, Edward ingin pulang ia benar benar merindukan mereka, mengakhiri tatapannya pada ponsel, Edward kembali menyibukan diri dan dengan pekerjaannya.

__ADS_1


.


.


Liza melenggangkan kaki nya memasuki kantor Edward ia tak lagi di hadang oleh satpam, namun sebelum masuk lift ia di cegah oleh asisten Edward "Apa maksudmu?"


"Tuan Ed, meminta anda untuk menunggu diruang tunggu nona, sebelah sini" asisten Edward menunjukan dimana Liza harus menunggu,sial Liza mengumpat dia serasa di permalukan oleh Edward, apalagi tatapan para karyawan Edward yang menatapnya.


Dulu saat Liza menjadi istri Edward ia dengan bebas memasuki kantor Edward tapi sekarang ia diperlakukan seperti seorang tamu.


Setelah menunggu selama satu jam akhirnya Edward menemuinya, Liza menatapnya tajam "Apa maksud kamu lakukan ini?" Edward menaikan alisnya.


Edward mendudukan dirinya di hadapan Liza, lalu melempar sebuah map.


Liza segera membuka lalu tersenyum "Ini bagus..." Liza hendak memeluk Edward namun dengan cepat Edward menangkisnya.


"Selanjutnya itu menjadi urusanmu, apa pun itu jangan pernah libatkan aku"

__ADS_1


Liza terkekeh "Kamu lupa aku punya sesuatu yang akan membuat kamu menyesal melawanku" rahang Edward mengeras tatapan nya pun menajam.


"Bukan kah kamu hanya ingin kontrak kerja itu" Liza meminta Edward mendapatkan kontrak kerja dengan brand ternama yang sangat Liza inginkan,karna dengan begitu ia bisa kembali meraih ketenaran.


"Tentu, ini kontrak kerja yang aku inginkan, tapi bukan kah lebih bagus jika aku mendapatkan lebih"


Edward menarik sudut bibirnya "Jangan serakah Liza itu bisa menjerumuskanmu"


Liza mendekat dan mengelus rahang Edward "Bagaimana jika menghabiskan satu malam denganku.."


"Apa kamu tidak merindukan aku? ayolah aku akan memuaskanmu.."


"Ternyata keputusanku untuk menceraikan mu itu tidak salah, ternyata kamu memang tak selugu yang terlihat, murahan dan menjijikan.. selama ini aku benar benar tertipu"


"Kau.."


"Aku sudah mendapatkan kontrak kerja untukmu, bekerjalah dengan baik, jangan sampai kamu mencoreng nama baik kamu sendiri" Edward berdiri dari duduknya dan pergi dari hadapan Liza.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal Ed, lihat saja nanti.."


__ADS_2